26 Mei 2008
Anomali Opsi Privatisasi KS

Andreas Lako, Dosen Program Pascasarjana Manajemen Unika Soegijapranata Semarang - Sikap ngotot Menteri Perindustrian, Kepala BKPM, dan Menneg BUMN agar PT Krakatau Steel (KS) diprivatisasi melalui opsi strategic sale (SS) ke korporasi asing ketimbang melalui initial public offering (IPO) seperti diusulkan manajemen KS (KONTAN, 16 Mei 2008) sungguh aneh dan patut dicurigai "ada udang di balik batu". Aroma hidden motives di balik opsi tersebut tercium cukup kuat.

Dari perspektif corporate finance, sikap ngotot itu juga bisa dibilang anomali karena menyimpang dari teori pendanaan dan restrukturisasi korporasi. Alasannya, opsi SS justru mau dipaksakan ketika kinerja bisnis dan keuangan KS sedang bertumbuh dengan subur.

Kinerja KS

Dari laporan laba-rugi KS, terlihat pendapatan selama 2002-2007 terus meningkat dari Rp 6,388 triliun (2002) ke Rp 14,928 triliun (2007). Dari kinerja laba bersihnya, meski sempat anjlok pada 2006 (minus Rp 135,07 miliar), bisa naik drastis menjadi Rp 363,45 miliar pada 2007. Per 1 Mei 2008, laba KS dilaporkan mencapai Rp 411 miliar.

Dari sisi posisi keuangan (neraca), nilai aset KS juga terus meningkat dari Rp 7,281 triliun (2003) ke Rp 10,477 triliun (2007). Meski utangnya juga meningkat selama 2003-2007, selama periode itu (kecuali 2006) nilai ekuitas KS juga terus naik dari Rp 4,754 triliun (2003) ke Rp 5,419 triliun (2007). Hal ini menunjukkan bahwa posisi KS dan pemerintah selaku pemegang saham sangat kuat ketimbang kreditur.

Dari sisi risiko operasi bisnis dan finansial, selama lima tahun terakhir performa modal kerja KS juga bagus alias tidak mengecewakan. KS mampu membiayai aktivitas operasi dan kewajiban jangka pendeknya. KS juga terus menyetor dividen kepada negara dan dinyatakan "sehat" oleh Menneg BUMN (BUMN Track, Mei 2008).

Dari kinerja laba 10 anak perusahaan KS, hanya PT Krakatau Information Tech yang merugi pada 2007. Yang lainnya kinerja labanya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan kinerja bisnis bottom line KS sangat bagus dan kuat. Karena itu, diprediksikan posisi dan kinerja keuangan KS akan terus meningkat mengingat prospek bisnis industri baja akan kian cerah pada 2008 dan tahun-tahun selanjutnya

Sikap ngotot pemerintah yang mau memaksa privatisasi KS melalui SS ke korporasi asing seperti ArcelorMittal, Tata Steel, atau BlueScope sungguh konyol dan anomali. Alasannya, KS tidak terindikasi sedang mengalami krisis keuangan. Atau, sudah tidak menguntungkan lagi bisnisnya dan atau tidak memiliki prospek yang cerah.

Dari data keuangan, terlihat jelas kinerja KS sehat-walafiat, menguntungkan dan punya prospek bagus. Pemerintah bahkan terus menikmati rezeki dividennya.

Dari pertimbangan bisnis strategis, opsi SS juga anomali. Pasalnya, KS satu-satunya korporasi baja nasional yang dimiliki pemerintah. Dalam KS, sejumlah kepentingan nasional diembankan. Sangat konyol jika satu-satunya korporasi strategis yang dimiliki negara mau dilego ke korporasi asing hanya karena ada kepentingan jangka pendek.

Pertanyaan krusialnya Mengapa KS mau dilego ke korporasi asing? Jawaban dari Menteri Perindustrian dan Ketua BKPM selama ini mengandung logical fallacy menyesatkan. Dikatakan karena KS kalah bersaing secara internasional akibat kalah dalam teknologi, modal, akses pasar, serta jadi permainan penyedia iron ore bahan baku baja

Jika itu alasannya, mengapa pemerintah tidak langsung saja menyuntikkan lagi modalnya agar KS bisa menggunakannya untuk investasi teknologi maju dan membuka akses pasar? Mengapa KS harus dipaksa memilih opsi SS yang justru mengakibatkan hak kepemilikan, hak kontrol, hak dividen, dan hak-hak lainnya dari pemerintah merosot drastis atau bahkan bisa hilang di kemudian hari? Bukankah itu sangat konyol?

Alasan Menneg BUMN Sofyan A. Djalil juga mengada-ada Dikatakan bahwa opsi SS lebih tepat ketimbang IPO karena kondisi pasar modal di Indonesia masih belum stabil. Alasan ini juga prematur dan naif. Mengapa?

Jika timing-nya dianggap tidak tepat dan bisa mengakibatkan nilai saham perdana KS undervalued, mengapa KS malah mau dijual melalui SS yang nilainya justru bisa jauh lebih undervalued dan tidak fair"? Bukankah banyaknya investor asing yang melirik KS mengindikasikan jika KS dijual melalui IPO alias penawaran saham perdana, harga sahamnya akan meningkat drastis karena menjadi primadona pelaku pasar?

Pertanyaan krusial lain untuk apa dana penjualan strategis saham KS? Untuk pengembangan bisnis KS atau kepentingan sesaat pemerintah?

Lebih baik IPO

Jawaban yang diberikan pemerintah sangat tidak jelas. Tapi, jika memang untuk kepentingan KS, saham KS tidak perlu dilego ke korporasi asing tapi dijual melalui IPO karena lebih menguntungkan.

Pertama, seandainya pemerintah melepas saham sekitar 40%-50% ke publik, saham tersebut akan tersebar luas pada banyak investor. Dengan begitu, hak kontrol atas KS masih tetap ada pada pemerintah.

Kedua, akan meningkatkan modal KS. Sebab, KS bisa menggunakan dana dari IPO untuk modal kerja, membuka akses pasar, investasi pada teknologi maju, dan lainnya

Ketiga, KS akan memiliki "nilai pasar" dan "pasar sekuritas". Dengan begitu, bisa leluasa menerbitkan dan memperjual-belikan sekuritasnya untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya

Keempat, kinerja KS akan lebih baik karena akan dikelola lebih profesional dan transparan. Kinerjanya juga dinilai berbasis pada ukuran kinerja harga saham (market indicator) dan kinerja fundamental. Keduanya tolok ukur yang komprehensif bagi pelaku pasar dalam menilai kinerja, prospek dan risiko bisnis suatu perusahaan.

Kelima, bisa menaikkan citra, reputasi, akses pasar dan pangsa pasar perusahaan karena akan dikenal pelaku pasar nasional dan internasional.

Berbagai keuntungan di atas tidak bisa diraih jika saham KS dilego ke korporasi asing. Karena itu, Menneg BUMN, Menteri Perindustrian, dan Kepala BKPM sebaiknya segera menghentikan opsi SS dan mendukung rencana IPO yang sedang digodok manajemen KS. Opsi itu jauh lebih unggul dan kecil risikonya.

Sumber : Harian Kontan, Page : 23 

 

 Dilihat : 3945 kali