24 Mei 2008
PRIVATISASI KRAKATAU STEEL - Hanya Satu Pilihan, KS Harus IPO

IPO bisa dilakukan, tapidalam keadaan pasarbegini, harganya berapa?" JAKARTA - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil akan mengundang Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris untuk membahas persoalan privatisasi PT Krakatau Steel. Undangan itu terkait dengan keinginan Juwono memprakarsai pertemuan tiga menteri untuk membahas rencana privatisasi.

Sofyan mengaku pembicaraan soal privatisasi dirinya dengan dua menteri itu memang belum pernah ada. Namun, ia belum dapat memastikan waktu pembahasan itu. "Tapi (pembahasan) itu memang perlu karena privatisasi Krakatau Steel ini melibatkan seluruh stakeholder," ujarnya di Jakarta kemarin.

Dalam pembahasan itu, kata Sofyan, akan dikaji pilihan yang paling baik bagi privatisasi Krakatau Steel. "Dasar kajian itu adalah untuk mencapai tujuan nasional, yaitu meningkatkan kapasitas produksi baja Indonesia," ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan hingga kini pemerintah belum memutuskan pilihan privatisasi Krakatau Steel. Sejauh ini pilihan yang ada adalah initial public offering (IPO), strategic partnership, dan joint venture. Pilihan ini dipertimbangkan oleh BUMN.

"IPO bisa dilakukan, tapi dalam keadaan pasar begini, harganya berapa?" kata Kalla. Sedangkan melalui kemitraan strategis, Krakatau Steel mendapatkan harga premium minimal 50 persen dari harga dasar. Krakatau Steel membutuhkan mitra strategis untuk meningkatkan produksi baja nasional.

Sebelumnya, Juwono berencana memprakarsai pertemuan tiga menteri untuk membahas rencana privatisasi Krakatau Steel. "Sebab, rencana ini juga harus dilihat dari sisi strategi industri pertahanan," kata Juwono. Ia menilai privatisasi Krakatau Steel lebih baik melalui IPO karena pembelinya akan Iebih banyak dari investor dalam negeri.

"Kami (pemerintah) tetap ingin memegang kendali," ujar Juwono. Ia mengaku telah bertemu dengan direksi Krakatau Steel untuk membahas rencana akuisisi yang akan dilakukan oleh ArcelorMittal. Manajemen Krakatau Steel mengaku sanggup menaikkan produksi dari 3 juta ton menjadi 5 juta ton.

Kalla menambahkan, Indonesia membutuhkan produksi baja hingga 7 juta ton per tahun. Sebelumnya, Krakatau Steel juga telah diminta berinvestasi senilai US$ 60 juta di Kalimantan untuk meningkatkan produksi baja. Namun, Krakatau Steel tidak sanggup. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dengan investor lain.

Kalla juga menegaskan Krakatau Steel tidak dapat melakukan opsi meminjam uang untuk meningkatkan produksinya. Untuk memproduksi 7 juta ton baja, Krakatau Steel membutuhkan dana US$ 4,8 miliar atau senilai Rp 50 triliun.

Sumber : Koran Tempo, Page : A14 

 

 Dilihat : 4025 kali