23 Mei 2008
MENJUAL BARANG BAGUS

Setiap kali pemerintah berkeinginan menjual barang bagus punya rakyat, polanya selalu sama; "mula-mula masyarakat heboh, protes dan demo, lalu didiamkan tidak didengar, lalu penjualan diteruskan, lalu giliran masyarakat untuk diam tidak berdaya. Lucunya beberapa tahun berselang setelah penjualan, kemudian terbukti bahwa tindakan menjual itu salah, pemerintah tetap tidak jera dan pada kesempatan berikut melakukannya lagi dan lagi. Barangkali inilah penyebab negara kita tidak bisa maju, pemerintahnya saja tidak mampu belajar dari pengalaman, apalagi rakyatnya, jadilah bangsa ini dibodohi terus menerus.

Kali ini barang bagus punya rakyat yang akan dijual adalah Krakatau Steel (KS), karena ini barang bagus maka pertanyaan mengapa dijual, cara penjualan dan kepada siapa dijual menjadi penting. KS itu punya rakyat karena bentuknya BUMN, sedangkan pemerintah hanya dipercayakan untuk mengelolanya. KS juga barang bagus, Pertama, karena tergolong industri strategis yang memiliki kaitan kemuka (forward linkage) cukup panjang. Kedua, merupakan pemasok bahan baku untuk Pindad dan; Ketiga, KS sehat, sama sekali tidak rugi.

Jadi dia menghasilkan uang, bukan menghabiskan uang, manajemen KS memperhitungkan bisa meraup laba bersih hingga Rp600 miliar pada semester pertama tahun ini, atau melampaui target laba bersih yang ditetapkan pemerintah untuk KS pada akhir tahun 2008 sebesar Rp450 miliar.

Alasan penjualan KS versi pemerintah dan versi KS berbeda. Versi KS, mereka butuh dana untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 juta ton dengan basis energi batu bara pada tahun 2011; oleh karena itu pihak manajemen KS ingin melepaskan saham ke bursa. Semula pemerintah (kementerian BUMN) juga memilih IPO untuk KS melalui pelepasan 20%-30% saham dengan target Rp1 triliun; namun kemudian dengan alasan kondisi pasar modal yang tidak terlalu menguntungkan maka pilihan berubah menjadi strategic sales. Tidak berhenti sampai disitu pemerintah juga berargumentasi bahwa kinerja KS tidak semakin membaik meski sudah puluhan tahun berdiri; pendapat yang berkebalikan dengan pernyataan laba yang diutarakan pihak KS.

Sama seperti penjualan Indosat dulu, sekarangpun pemerintah menginginkan mitra strategis yang pasti merupakan perusahaan multinasional kelas dunia. Saat ini, tercatat beberapa perusahaan meminati BUMN baja itu. Antara lain, Arcellor-Mittal, penggabungan dua perusahaan baja dunia Arcellor Steel dan Mittal yang dilakukan pada 25 Juni 2006. Baik Arcellor maupun Mittal adalah perusahaan yang dihasilkan dari beberapa kali merger perusahaan-perusahaan baja kelas dunia. Berkat merger ini Arcelor-Mittal dalam setahun sanggup menghasilkan produksi baja hingga 125 juta ton.

Pinangan terhadap KS disertai tawaran mendirikan usaha patungan (joint venture) kompleks baja Greenfield di Cilegon. (Mengapa untuk menanamkan saham bagi pengembangan pabrik-pabrik baru, harus dengan membeli KS?,niat ini dapat saja dilakukan tanpa perlu membeli KS). Arcellor-Mittal juga menawarkan untuk mendirikan perusahaan bersama dengan Antam, untuk bijih besi, nikel dan mangan. Konon niat Mittal membeli KS sudah sejak tahun 1998 dan jika ia berhasil maka ihdonesia turut andil memperbesar monopoly power tingkat dunia ini yang menurut teori akan merugikan konsumen. Keterkaitan historis antara Mittal dengan Indone­sia karena Mittal sudah membangun pabrik bajanya di Sidoarjo melalui PT Ispat Indo.

Peminat lainnya adalah perusahaan baja asal Austra­lia BlueScope Steel International yang menjanjikan peningkatan teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja dan perluasan pasar. BlueScope juga sudah melakukan kerja sama cukup lama dengan KS, karena bahan baku BlueScope banyak yang dipasok dari KS. Pihak lainnya adalah Tata Steel Ltd dan Essar International Ltd - keduanya dari India, yang juga sudah mengajukan tawaran sama dengan yang dilakukan oleh Mittal dan BlueScope. Tata adalah perusahaan baja terbesar keenam yang sudah berusia 101 tahun dengan kapasitas 28 juta ton per tahun. Hingga kini Tata sudah beroperasi di 24 negara termasuk Vietnam, Bangladesh dan sedang membahas kerja sama operasi dengan pemerintah Thailand dan Singapura.

Rencana pemerintah untuk menjual KS kepada satu di antara beberapa investor asing itulah, yang pada akhirnya memancing polemik dan reaksi keras dari dalam negeri, namun karena isu yang lebih panas adalah kenaikan BBM, maka demo untuk, masalah yang satu ini kalah ramai. DPR kemudian membentuk tim privatisasi BUMN, entah untuk apa lagi gunanya? Setidaknya kita sudah dua kali menjual barang bagus yang merugikan bangsa, tanker Pertamina dijual tahun 2004; sedangkan wilayah negara kita terdiri dari ribuan pulau yang membutuhkan distribusi BBM tepat waktu sehingga kepemilikan tanker menjadi strategis. Kedua kita menjual Indosat pada Temasek yang kemudian berakhir sebagai kasus untuk KPPU, karena membuat persaingan menjadi tidak sehat.

Dalam penjualan saham Semen Gresik ke Cemex (Meksiko), sekali lagi terlihat kecerobohan pemerintah. Cemex yang hanya menguasai 25,53 persen saham di Semen Gresik telah menjadi pengendali operasional perusahaan. Sebagai pemegang saham minoritas, Cemex mendapat jatah wakil direktur utama dan wakil komisaris di jajaran manajemen; namun setiap pengambilan keputusan direktur utama dan komisaris utama (yang orang Indonesia) harus mendapat persetujuan dari wakilnya (orang Cemex Meksiko). Ketentuan itu merupakan bagian dari isi CSPA (Conditional Sale and Pur­chase Agreement) yang ditandatangani oleh pemerintah In­donesia dan Cemex pada tahun 1998. Tiga contoh kasus penjualan di atas adalah kasus-kasus yang mengundang demo dan polemik, namun pemerintah tetap jalan dengan kemauannya. Percayakah kita dengan dalih pemerintah bahwa penjualan kali ini bukan untuk menutup defisit, melainkan untuk memperbaiki kinerja KS. Pertanyaan untuk ini sangat sederhana, mengapa harus sekarang, pada waktu kinerja yang akan diperbaiki itu sudah dinyatakan bagus oleh manajemennya?? Harga baja di pasar internasional kini sudah mencapai USD1.200 untuk setiap ton. Kenaikan itu terutama didorong oleh lonjakan harga biji besi pellet sebesar 100 persen.

Jakarta 22 Mei 2008

Sumber : Business News, Page : 3 

 Dilihat : 4394 kali