23 Mei 2008
Dephan Minta Kaji Ulang Privatisasi Krakatau Steel - Saat ini KS tengah memproduksi produksi baja untuk pembangunan 150 panser yang diproduksi PT Pindad.

DEPARTEMEN Pertahanan (Dephan) menyarankan kepada pemerintah untuk mengkaji ulang rencana privatisasi PT Krakatau Steel (KS). Sejumlah investor asing telah menyatakan minat terhadap perusahaan baja nasional ini. KS menjadi salah satu penyuplai baja untuk industri pertahanan nasional.

"Sehingga ada keamanan dan kerahasiaan yang perlu dijaga," kata juru bicara Dephan Brigjen Slamet Hariyanto usai mendampingi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono bertemu Direktur Utama KS Faswar Bujang di kantor Dephan, Jakarta, Kamis (22/5).

Penjualan sebagian saham ke pihak asing juga diyakini akan memengaruhi kesinambungan pengadaan peralatan dan persenjataan TNI yang selama Ini diproduksi KS. Saat ini KS tengah memproduksi produksi baja untuk pembangunan 150 panser yang dibuat PT Pindad, 30 unit di antaranya rampung tahun Ini. Selain panser, sejak lama KS menyuplai baja untuk pembangunan kapal perang TNI AL.

KS juga tengah mengembangkan bahan baku laras senjata SS-2. Menurut Slamet, produksi alat strategis harus tertutup, komposisi bahan baku penting dirahasiakan. "Tidak mungkin dibuka untuk umum, apalagi asing," katanya.

Apalagi, tidak ada alasan kuat menjual KS. "Perusahaannya sehat. Bahkan untungnya cukup besar," tutur dia. Meski demikian. Dephan tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan masalah tni. Keputusan final, berada di tangan Presiden.

"Kami hanya memberi saran ditunjang alasan yang kuat," tutur Slamet. Dephan akan memprakarsai pembicaraan antara Departemen Perindustrian dan Kementerian Negara BUMN untuk membahas kembali status KS ini.

Faswar Bujang menjelaskan, laba perusahaaan tahun 2007 berkisar Rp370 miliar. Hingga bulan ke-4 tahun 2008, KS telah meraup keuntungan Rp400 miliar. Akhir 2008, keuntungan yang diraih diprediksi mencapai Rp1 triliun. "Tidak ada alasan dijual," katanya.

Kondisi KS saat ini mencapai 0,5 juta ton baja lembaran dan 2 juta ton baja batangan. Prospek pasarnya 20 persen ekspor, sedangkan 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri. Diprediksi tahun 2011 sampai 2012, KS akan mampu memproduksi sampai 5 juta ton baja.

Bila KS dilepas kepada asing, maksimum pelepasannya dengan cara penawaran saham perdana Initial Public Offering, IPO). Jadi pelepasan saham dibeli rakyat sendiri. Dengan demikian modal masih tetap dimiliki kekuatan bangsa sendiri. "IPO relatif lebih transparan sehingga nilai-nilai strategis tadi ndak sampai jatuh ke tangan asing," tutur dia.

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 6

 

 Dilihat : 3593 kali