23 Mei 2008
Waspadai Penjualan Krakatau Steel

MENTERI Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono menilai, rencana penjualan PT Krakatau Steel (KS) (Persero) kepada pihak asing, harus diwaspadai dan dipertimbangkan ulang.

"Pemerintah lebih baik mendukung privatisasi KS melalui Initial Public Offering (IPO)," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 22/5.

Saat itu Menhan mengatakan juga, bahwa pihaknya akan memprakarsai pembicaraan antara Departemen Perindustrian dan Kementerian Negara BUMN untuk membahas status KS.

Dalam pertemuan antara Menhan dengan Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang dan Komisaris Utama Zaky Anwar Makarim di Departemen Pertahanan (Dephan) sebelumnya, ketiga pihak sepakat untuk meminta pemerintah mempertimbangkan lagi rencana tersebut.

Akan tetapi, Ekonom dari Tim Indonesia Bangkit, Ichsanudin Noorsy menilai penjualan KS secara kemitraan strategis atau Strategic Sales (SS) maupun melalui IPO bukan tindakan yang tepat sampai kondisi ekonomi membaik. "Penjualan melalui IPO tidak tepat untuk saat ini, sebab situasi bursa saham sedang bergejolak," katanya.

Sedangkan rencana menjual KS melalui cara SS, Noorsy mengacu pada pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Bulan Juni 2004 lalu. Saat itu Presiden mengatakan, menjual aset negara saat kondisi sedang jatuh dengan harga murah bukanlah kebijakan yang tepat dan benar.

Kalaupun harus terpaksa menjual KS, maka Noorsy mengusulkan penjualan secara Limited Strategic Sales atau kemitraan strategis terbatas. Penjualan seperti itu dilakukan dengan menjual saham KS ke pemerintah daerah, karyawan atau manajemen. "Itu bisa dilakukan kalau tujuannya untuk perbaikan struktur permodalan KS demi perbaikan kinerja," ujarnya.

Sebaliknya kalau tujuannya untuk menambal kebocoran APBN, Noorsy menganggap, penjualan KS, apalagi ke pihak asing, sama artinya dengan denasionalisasi. "Itu artinya bertentangan dengan pernyataan SBY tadi," jelasnya.

Komisaris Utama KS, Taufiequrrachman Ruki berpendapat, rencana privatisasi KS itu dilakukan dengan dua opsi, yakni SS atau IPO. "Kita sedang berhitung berapa banyak saham yang akan dijual, mungkin tahun depan baru ada keputusan," ujarnya.

Menurut Ruki, dari dua opsi yang ditawarkan pemerintah, direksi dan manajemen KS lebih memilih untuk melakukan IPO, sebab hal itu selain menambah permodalan juga mengajak masyarakat turut memiliki saham. Sedangkan penjualan secara SS, menurut Ruki lebih tepat diterapkan pada perusahaan yang kondisi keuangannya kritis atau mendekati bangkrut.

Padahal menurut mantan Ketua KPK tersebut, kondisi keuangan KS saat sangat baik, bahkan tahun 2008 ini diprediksi bisa meraup keuntungan sebesar Rp85O miliar.

Saat bertemu dengan Menhan, Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang mengatakan, KS adalah perusahaan yang sehat sehingga tidak perlu pemerintah menjual ke asing. Pada 2007, PT KS berhasil membukukan keuntungan sekitar Rp370 mihar dan hingga kuartal pertama 2008 keuntungan yang diraih telah mencapai Rp400 miliar.

Sumber : Sally Piri/Yanuar Jatnika Jurnal Nasional, Page : 1 

 Dilihat : 3149 kali