23 Mei 2008
Resistensi Tidak Bisa Dihindarkan

Privatisasi badan usaha milik negara melalui penjualan saham pada investor strategis hanya dilakukan pada PT Semen Gresik dan PT Indosat. Privatisasi kedua BUMN itu menimbulkan polemik panjang. Privatisasi masih dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja BUMN. Namun, pengalaman masa lalu memberi pelajaran berharga.

Sejak April lalu, kontroversi penjualan BUMN kepada mitra strategis memanas lagi terkait rencana penjualan PT Krakatau Steel (KS).

Konglomerasi baja dunia Arcelor Mittal menyatakan minat serius untuk menjadi mitra strategis KS. Belakangan, Tata Steel, BlueScope, dan Essar menyampaikan maksud serupa.

Semula Kementerian Negara BUMN menegaskan bahwa KS akan diprivatisasi melalui penjualan saham perdana di bursa atau IPO. Namun, opsi IPO seakan tersingkir ketika Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan bahwa penjualan strategis adalah opsi terbaik bagi pengembangan KS.

Tentang beragam pendapat kontra atas opsi penjualan strategis, Fahmi Idris mengatakan, pemerintah sudah belajar dari pengalaman lalu sehingga penjualan strategis kali ini dijanjikan lebih transparan.

Saat ini, pemerintah menyerahkan penentuan metode privatisasi KS kepada DPR Usulan pemerintah kepada DPR membuka peluang dipilihnya opsi IPO ataupun penjualan strategis.

Proses penawaran KS kepada mitra strategis itu sendiri masih berada pada tahap awal. Presentasi penawaran baru dilakukan Mittal. Peminat lainnya masih sebatas mengirimkan surat minat Direksi KS juga belum dilibatkan dalam negosiasi resmi.

Akan tetapi, resistensi terhadap rencana penjualan KS sudah kian menguat. Serikat Karyawan KS mengekspresikan penolakan itu melalui unjuk rasa dan audiensi ke DPR.

Penolakan juga disampaikan Dewan Perwakilan Daerah dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di DPR. Sejumlah anggota DPR dari beragam fraksi lain secara pribadi menyuarakan penolakan serupa.

Selain karyawan, penolakan juga ditunjukkan oleh elemen masyarakat Banten, lingkungan di mana KS berada. Bersama sejumlah tokoh masyarakat dan ulama Banten. Kiai Samun menuturkan, sejarah KS didirikan dengan merelokasi pesantren terbesar di daerah tersebut Kerelaan itu kini seakan diusik.

Tak selalu sukses

Mengutip hasil penelitian yang diterbitkan Nanyang Business School, Singapura, tentang privatisasi BUMN di Malaysia, ekonom A Tony Prasetiantono mengatakan, privatisasi ala negara maju tidak selalu sukses di negara berkembang.

Latar belakang kultur, sejarah, dan sistem ekonomi masing-masing negara memberi dampak berbeda. Pengalaman Indonesia pun membuktikan hal serupa.

Janji pemerintah melepas 51 persen saham PT Semen Gresik Grup, termasuk Semen Padang, kepada Cemex tahun 2001 membentur karang karena penolakan gigih masyarakat Sumatera Barat Sengketa panjang akhirnya membuat Cemex menjual kembali sahamnya.

Pakar manajemen Rhenald Kasali mengingatkan, pemerintah sebaiknya tidak sekadar memperhitungkan faktor ekonomi dalam penjualan BUMN kepada mitra strategis.

Faktor organisasi yang ditentukan oleh kesesuaian nilai, rencana pengembangan, dan kebijakan perburuhan di antara pihak-pihak yang bermitra mesti dipertimbangkan pula.

"Sekarang sinyal penolakan terhadap rencana penjualan KS kepada mitra asing sangat kuat. Patut diingat bahwa KS itu berada di Banten. Nilai komunitas di lingkungan perusahaan ini masih begitu ketat, tidak longgar seperti di Jakarta," ujarnya.

Terkait kuatnya resistensi itu, penjualan strategis selalu perlu didahului dengan upaya merangkul hati masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya. Prosedur privatisasi memang ditentukan pemerintah pusat dan DPR.

Namun, keputusan yang dipaksakan hanya akan berujung persengketaan. Begitulah pelajaran dari penjualan Semen Gresik. Salah satu alasan kuat untuk menjual KS kepada mitra strategis, menurut Fahmi Idris, adalah mandeknya ekspansi KS.

Ekonom Faisal Basri berpendapat, baik-buruknya kinerja BUMN selama ini lebih banyak ditentukan pemerintah. "Jangan dilupakan bahwa puluhan tahun KS diganggu terus oleh kepentingan elite politik," katanya.

Instrumen utama yang dimiliki pemerintah sebagai pemilik saham untuk mengembangkan BUMN adalah menempatkan tenaga profesional di jajaran direksi. Namun, Rhenald menilai, pemerintah justru sering tak mementingkan kemampuan direksi yang dipilih untuk bekerja sama sebagai satu tim.

Nilai strategis

Tuntutan zaman membuat BUMN harus memperbaiki kinerja. Untuk itu, dibutuhkan transparansi dalam pengelolaan BUMN. Demi perbaikan kinerja inilah privatisasi dilakukan.

Metode privatisasi yang tepat bagi KS perlu ditentukan dengan mempertimbangkan nilai strategis industri baja bagi perekonomian negeri ini.

"Industri baja itu industri dasar. Lokomotif bagi pengembangan industri hilir dan horizontalnya Kalau tidak ada kemandirian di situ, tidak jelaslah nasib industri negeri ini," ujar Faisal Basri.

Integrasi industri baja dengan sektor hilir, seperti pembuatan kapal, kereta, dan alat perang dan konstruksi, maupun integrasi ke hulu melalui pengolahan bijih besi akan memberi kekuatan bagi Indonesia.

"Integrasi itu hanya bisa dibangun jika ada industrial policydi negeri ini. Kebijakan industri itu yang tidak ada. Akibatnya, KS digerogoti asing pun dianggap enggak masalah," ujar Faisal.

Nilai strategis KS, termasuk infrastruktur yang sudah terbangun di sana, membuat IPO jadi opsi paling aman untuk mencapai tujuan perbaikan kinerja.

Di sisi lain, besarnya potensi pasar Indonesia dan pasar regional untuk produk baja merupakan "modal" bagi pemerintah untuk menggandeng investor membangun pabrik baja baru di Indonesia.Dengan begitu, iklim bisnis baja menjadi kian kompetitifdan masyarakatlah yang paling diuntungkan.

Begitu strategisnya industri baja, berbagai negara mempertahankan status BUMN bagi produsen bajanya. Authority of India Limited (India), Posco (Korea), Raujaruukki (Finlandia), ThyssenKrupp (Jerman), Ilva (Itali). China Steel (Taiwan), Bao Steel (RRT), dan Hadeed (Saudi Arabia) adalah sebagian dari BUMN baja yang berkembang sehat dan kompetitif. Mengembangkan BUMN yang sehat, sekaligus membangun iklim usaha yang kompetitif, adalah tugas berat pemerintah.

Sumber : Kompas, Page : 21 

 Dilihat : 3002 kali