23 Mei 2008
Bukan Akuisisi, tapi Penanaman Modal Baru

Di tengah pemerintah mempertimbangkan empat investor perusahaan baja dunia yang layak mengakuisisi Krakatau Steel (KS), penolakan serta penentangan sudah bermunculan dari berbagai pihak. Kedatangan Lakshmi Mittal menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 10 April lalu langsung memantik penolakan.

Komisaris, manajemen, dan karyawan KS kompak menolak jika Mittal menguasai saham perusahaan baja terttesar nasional itu. Sebulan terakhir, tiga spanduk besar bertuliskan "KS Not for Sale" bergelantung di gedung KS di Jl Gatot Subroto Jakarta, yang bersebelahan dengan gedung Departemen Perindustrian (Depperin). Ratusan serikat pekerja KS menggelar unjuk rasa di depan kantor Depperin, beberapa hari setelah Mittal diterima presiden.

Kekhawatiran mereka bukan tanpa sebab. Sepuluh tahun lalu atau 1998, Lakshmi berminat membeli saham KS. Tandatangan nota kesepahaman mau diteken, namun niat itu dibatalkan ketika DPR dan manajemen menolak mentah-mentah.

Menurut anggota Komisi Xl DPR, Dradjad Wibowo, rencana Mittal berinvestasi perlu disambut baik. Namun bentuknya bukan akuisisi, tapi penanaman modal baru. Dradjad mencurigai, kerja sama strategis Mittal dengn KS dan Antam sebenarnya langkah awal akuisisi terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Awalnya, kendali teknologi dan bahan baku yang akan dipegang Mittal. Setelah itu, Mittal memegang kendali manajemen dan akhirnya kendali kepemilikan.

Drajad mengusulkan sebaiknya Mittal membuka perusahaan baru, atau bekerja sama dengan BUMN yang ada untuk menghidupkan kembali Texmaco.

Texmaco saat ini mempunyai potensi besar. Saat ini, Texmaco masih terlilit utang dan sulit dijual oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang menguasai Texmaco sejak 2004 lalu.

Ekonom Ichsanuddin Noorsy menduga ada agenda terselubung di balik privatisasi KS. Salah satunya eksplorasi biji besi di lahan kawasan gumuk pasir Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta. Di samping ada eksplorasi biji besi, menurut Ichsanuddin, dalam waktu dekat pangkalan militer TNI Angkatan Laut juga akan dipindahkan dari Surabaya ke Kulonprogo.

Padahal, daerah gumuk pasir merupakan situs geografis yang tergolong memiliki sumber daya alam langka di dunia. Selain di gumuk pasir Kulonprogo, biji besi di Sulawesi dan Kalimantan juga merupakan sumber daya alam langka yang harus dilindungi.

Ekonom Indef, Iman Sugema, mengungkapkan rencana privatisasi KS melalui skema penjualan strategis hanya akan mengebiri kekuatan industri baja nasional. "Secara empiris, penjualan strategis akan mengerdilkan industri itu sendiri. Banyak negara yang menjadi maju dengan cara merebut teknologi. Bukan mengandalkan dana dari penjualan strategis," tutur Iman, mengingatkan pemerintah.

Jika pemerintah tetap meneruskan skema penjualan strategis, transfer teknologi tak akan semudah itu diperoleh KS. Pasalnya, proses alih teknologi justru banyak dilakukan di belakang layar.

"Di dunia internasonal ada Jepang yang mengambil teknologi dari AS dan Korea yang meniru Cina. Nggak ada negara yang bisa maju hanya dari penjualan strategis. Yang ada justru nanti kita dikebiri atau tidak bisa berkembang 100 persen. Kalaupun ada cuma dikasih sekrupnya saja," papar Iman.

Akuisisi KS oleh investor asing, tambah anggota DPD, Marwan Batubara, hanya akan memindahkan monopoli pemerintah kepada monopoli swasta dalam struktur industri baja nasional.

Zulkieflimansyah dari FPKS juga heran melihat sikap terburu-buru pemerintah yang terkesan memaksakan cara penjualan strategis, dan seolah menutup mata terhadap keputusan IPO yang ditawarkan jajaran komisaris dan direksi KS.

Sumber : zak Republika, Page : 18 

 Dilihat : 2866 kali