23 Mei 2008
Pesona perusahaan baja nasional PT Krakatau Steel (KS) sangat luar biasa. Bak wanita cantik nan rupawan.

Pesona perusahaan baja nasional PT Krakatau Steel (KS) sangat luar biasa. Bak wanita cantik nan rupawan, perusahaan yang menguasai 25-30 persen produksi baja nasional dengan kebutuhan domestik enam juta ton itu dipinang sejumlah perusahaan baja internsional.

Hebatnya, pinangan itu dilontarkan belum genap enam bulan tatkala pemerintah memutuskan untuk meningkatkan kapasitas KS dengan menambah modal usaha melalui dua skema, privatisasi atau penjualan saham perdana (initial public offering/ IPO).

Arcelor-Mittal (India), Bluescope Steel (Australia), Tata Steel Ltd (India), dan Essar Steel Ltd (India) adalah perusahaan baja internasional berminat dalam proses privatisasi di KS. Tiga perusahaan awal resmi mengajukan surat pinangan itu ke pemerintah. Sedang Essar Steel sebatas melalui lisan yang disampaikan melalui Menperin, Fahmi Idris. Sejumlah perusahaan baja dunia lain yang juga menyatakan minatnya seperti Posco Steel (Korea), Nanjing Steel Co (Cina), dan bahkan PT Gunung Garuda (PMDN), berminat membeli saham KS melalui pola mitra strategis.

"Tugas saya mengundang para investor sudah selesai sebulan lalu. Saat ini, bola di tangan Menneg BUMN dan DPR," ujar Fahmi yang mengaku senang dengan tingginya peminat KS.

KS sangat diminati karena posisinya yang strategis di percaturan dunia baja nasional, serta berpotensi di pasar baja Asia. Bersamaan dengan itu, pasar baja dunia memang sedang tumbuh cepat dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Tingginya minat investor itu, membuktikan iklim investasi di Tanah Air sangat bagus. Roadshow pemerintah mengundang investor dinilai berhasil, sehingga menambah kredit poin memajukan industri nasional.

Di sisi lain, privatisasi perusahaan baja nasional membawa dilematis. Pendekatan privatisasi KS dengan pola penjualan strategis mendapat hadangan.

Tentangan itu, selain dari manajemen KS, kalangan DPR turut serta. Tak butuh menunggu surat pemerintah, DPR menolak penjualan KS melalui mitra strategis.

"Kami meminta pemerintah tidak memaksakan opsi penjualan strategis. Jika itu dipaksakan, pemerintah sama saja mengadu domba atau fait accomply antara DPR dan pemerintah. Sebab kalau DPR menolak, kemudian negoisasi batal, pemerintah bisa kehilangan kredibilitas," ujar anggota Komisi XI, Dradjad Wibowo.

Politisi asal PAN ini mengusulkan penawaran saham perdana (IPO) yang diyakini lebih baik bagi KS demi kepentingan nasional. Pola penjualan strategis dianggap lebih mementingkan " urusan bisnis.

Dalam diskusi publik di ruang GBHN Gedung Nusantara V MPR RI, Selasa (13/5) lalu, di antaranya hadir Zulkieflimansyah dari PKS, anggota DPD, Marwan Batubara, Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki dan ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM), Ismed Hasan Putro; mengerucut pada pemikiran bahwa penjualan strategis KS dapat mengebiri kekuatan industri baja nasional.

Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki, mengatakan, manajemen KS hanya membuka diri terhadap tawaran kerja sama pembangunan pabrik baru di Cilegon. Sedangkan, "Kalau mau masuk di KS yang sudah existing, silakan lewat IPO, bukan strategic sale," kata Ruki, mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

KS memang lagi butuh suntikan modal 200 juta dolar AS-400 juta dolar AS yang akan digunakan untuk mendongkrak produktivitas baja nasional dari kapasitas saat ini 2,5 juta ton menjadi lima juta ton pada 2009. Sebanyak 200 juta dolar AS, ungkap Ruki, diperoleh dari pinjaman asing, sisanya dari IPO.

"IPO cukup 20 persen saham. Tak lebih dan tidak memakai mekanisme strategic sale," ujarnya. Dia bahkan memaparkan, saat ini lima bank nasional dan asing sudah berkomitmen mengucurkan modal bagi KS. Mereka adalah Bank Mandiri, BNI, BRI, HSBC, dan bank asal Jerman.

Penolakan skema strategic sale, kata Ruki, lebih karena perbedaan budaya, strategi, dan motif investor. "Ibarat orang mau menikah, melihat bobot, bibit, dan bebetnya, kan sudah lain.

Melihat itu saja, setelah kita pelajari beda, makanya gimana mau terima, kami menolaknya."

Namun, kata Menneg BUMN, Sofyan Djalil, opsi strategic sale privatisasi KS bukan karena unsur tekanan dari luar Opsi ini lebih kepada mekanisme yang ada.

"Setiap privatisasi BUMN, opsi strategic sale selalu ada. Jadi tidak benar jika opsi ini lebih kepada tekanan pihak luar," tegas Sofyan. Senada, Menperin, Fahmi Idris, sepakat pola penjualan strategis adalah pilihan terbaik buat KS.

Sebab, bila hanya mengandalkan IPO, KS yang sudah berdiri sejak 31 Agustus 1970, tak akan bisa berkembang dengan cepat. , "Kalau hanya IPO, transfer teknologi dan pengembangan pasar di dunia tidak akan terjadi. Tujuan pemerintah adalah meningkatkan kapasitas produksi baja minimal setara dengan perusahaan baja di sejumlah negara berkembang, seperti Tata Steel yang sudah mengekspor bajanya ke Inggris empat tahun setelah pabriknya berdiri," jelas Fahmi.

Sofyan menambahkan, kondisi pasar modal di Indonesia maupun global saat ini sangat tidak memungkinkan bagi sebuah perusahaan untuk IPO. Karena itu, lanjutnya, yang justru harus diapresiasi adalah penawaran investor melalui skema strategic sale.

Terkait opsi yang akan dipakai. Sofyan mengaku belum bisa memastikan. Para investor itu harus berdiskusi terlebih dahulu dengan KS. "Berapa besar angka dan opsi yang dipakai, ya kita tunggu saja apa hasil diskusi mereka," katanya.

Sofyan menegaskan, saham yang ditawarkan Mittal ke KS bukan 49 persen. Mittal tak pernah memaksa pemerintah melepas saham sebesar itu. "Berapa persen yang acceptable, apa termnya, itu harus didiskusikan lagi."

Yang jelas, baik Menperin maupun Menneg BUMN menjamin, posisi pemerintah tetap mayoritas dalam kepemilikan saham di KS. Pemerintah juga tetap memilih satu dari sejumlah investor, dengan mekanisme beauty contest untuk mengetahui tawaran mana yang paling menguntungkan.

Arcelor-Mittal sendiri menyatakan pikir-pikir untuk masuk menjadi investor KS jika opsi yang dipilih adalah IPO. Namun jika masuk sebagai partner strategis di perusahaan baja BUMN itu, Mittal berniat menjadi pemegang saham, meskipun kepemilikannya di bawah 49 persen.

"Kami mengharapkan persentase kepemilikan saham yang diakusisi tidak jauh dari angka 49 persen," kata Direktur Eksekutif Bidang Keuangan Merger dan Akuisisi Arcelor-Mittal, Sudhir Maheswari.

Jika pemerintah memutuskan KS akan dilepas ke publik, pihaknya harus menimbangnya secara matang. Pemerintah sendiri kemungkinan jika opsi yang diambil IPO, maka baru dilakukan pada 2009.

Menko Perekonomian, Boediono, mengakui memang ada dua opsi privatisasi KS. Namun, opsi mana yang terbaik yang akan dipilih. Ketua Komite Privatisasi BUMN itu menyerahkan sepenuhnya kepada Menneg BUMN.

Tentu pekan-pekan ini pemerintah dibuat pusing apakah akan memilih IPO atau penjualan langsung dalam privatisasi KS, sebab DPR dan manajemen KS sudah menyatakan penolakannya. Akan tetapi, jika mengabaikan penjualan langsung. Indonesia dianggap tidak ramah bagi investor

Apapun keputusannya, pemerintah diharuskan melindungi perusahaan nasional dari dominasi asing dan mendorong pertumbuhan dunia usaha yang sehat dan adil. Presiden pertama Soekarno, saat berpidato di Universitas Airlangga tahun 1953 mengatakan, industri baja adalah modal penting bagi industrialisasi nasional.

Zaky Al llaimah

Wartawan Republika

Sumber : Republika, Page : 18 

 

 Dilihat : 3440 kali