22 Mei 2008
RENCANA PRIVATISASI KRAKATAU STEEL - Protes Penjualan Krakatau Steel Makin Kencang

JAKARTA. Gelombang protes terhadap rencana penjualan PT Krakatau Steel kian menggelora. Kemarin, komisaris Krakatau Steel Zaki Anwar Makarim, ber­sama 30 orang anggota Serikat Karyawan perusahaan itu, men­datangi diskusi soal penjualan Krakatau Steel di Jakarta.

Baik komisaris maupun Seri­kat Karyawan sepakat tak me­nolak privatisasi. Namun priva­tisasi itu bukan melalui penjual­an strategis atau strategic sales. "Perusahaan ini jangan diserah­kan begitu saja kepada asing dengan menjual kepada Arcelor Mittal," ujar Zaki.

Pandangan ini jelas berlawan­an dengan niat pemerintah yang ingin melakukan penjualan stra­tegis. Pemerintah beralasan, penjualan strategis lebih meng­untungkan karena Krakatau Steel akan bisa berkembang le­bih pesat dan mendapat akses pasar lebih luas.

Namun, Zaki menegaskan, in­dustri baja merupakan industri sangat strategis buat Indonesia Dia mencontohkan, saat ini Kra­katau Steel sedang menggarap industri senjata. Tahun ini Kra­katau Steel harus menyediakan bahan baku 300 panser dan ka­pal. "Ini kerjasama dengan PT PAL dan Pindad," ujarnya.

Kata Zaki, saat ini Krakatau Steel sedang berada pada pun­cak kejayaan. Perusahaan se­dang menargetkan kenaikan produksi hingga 100%, atau menjadi lima juta ton per tahun.

"Krakatau Steel kondisinya sa­ngat baik. Target laba tahun ini sebesar Rp 850 Miliar. Bahkan komisaris menargetkan laba hingga Rp 1,2 triliun. Hingga akhir April ini, realisasi laba  perusahaan itu telah mencapai Rp 420 miliar. Kalau tidak ada aral melintang, laba Rp 1 triliun bisa kami capai akhir tahun ini," ujar Zaki, berapi-api. 

Krakatau Steel pun tak punya kesulitan pendanaan. Zaki  mengklaim, banyak sindikasi bank dalam dan luar negeri yang menawarkan pinjaman. Di anta­ranya, pinjaman US$ 200 juta dari sindikasi bank Jerman. "Ada kepercayaan terhadap po­tensi perusahaan," tambahnya

Menanggapi tentangan ini, Sekretaris Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara Said Didu mengatakan, masih akan menunggu usulan Krakatau Steel untuk memilih langkah privatisasi yang paling cocok.

"Ada empat kemungkinan. Bisa batal kalau DPR tidak setu­ju, IPO, strategic sales, atau kombinasi keduanya. Strategic sales itu artinya lelang, jadi pembelinya boleh Arcelor Mittal atau yang lain. Variasi pengam­bilan keputusannya masih sa­ngat lebar," jelasnya

Sumber : Harian Kontan, Page : 1 

 Dilihat : 4203 kali