05 Oktober 2007
Biaya Angkut Impor Naik Dua Setengah Kali Lipat

JAKARTA: Biaya angkut importasi bahan baku sejumlah industri unggulan melonjak dua setengah kali lipat menyusul harga minyak dunia yang membubung dan bertahan di atas US$ 80/ barel. Konsorsium pelayaran internasional (forwarder) mulai menaikkan tarif angkut kontainer untuk pengiriman komoditas bahan baku pada akhir September 2007, dari sekitar US$ 40/ton menjadi US$ 100/ton.

Kenaikan itu berlaku untuk biaya pelayaran dari Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada ke Indonesia. Peningkatan ongkos angkut dari luar negeri ini bakal diikuti peningkatan tarif perusahaan-perusahaan jasa transportasi laut domestik sehingga memberatkan sektor industri nasional yang mengandalkan bahan baku impor. Apalagi, biaya angkut impor berkontribusi sebesar 30% terhadap harga bahan baku yang menyebabkan kenaikan hargajual produk akhir tak terbendung.

Demikian disampaikan Dirut PT Krakatau Steel Daenulhay, Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Thomas Darmawan, Sekjen Gabungan Perusahaan Ekspor dan Impor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro, dan Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat kepada Investor Daily secara terpisah di Jakarta, baru-baru ini.
"Ongkos angkut impor bijih besi dari Amerika Selatan meningkat dari US$ 46/ton menjadi US$ 100/ton. Kenaikan itu akan memangkas daya saing industri nasional dan menekan margin keuntungan," papar Daenulhay.

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku otomatis memengaruhi total struktur produksi perseroan. Setiap tahun Krakatau Steel membutuhkan pasokan bijih besi impor sebanyak 2-2,5 juta ton untuk diolah menjadi produk baja hilir. Saat ini tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) KS hanya di bawah 50% dari kapasitas terpasang 4,9 juta ton baja batangan (long product) per tahun. "Padahal, kami menaikkan harga produk jadi sulit, pasti ditentang konsumen," paparnya di Jakarta.

Sementara itu, dari Singapura, Antara melaporkan, minyak mentah diperdagangkan bertahan atau sedikit di bawah US$ 80 per barel pada Kamis (4/10) karena kekhawatiran mengenai melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Kontrak utama minyak mentah jenis ringan di New York untuk pengiriman November masih diperdagangkan US$ 79,71 per barel.

Industri Terguncang

Thomas Darmawan menambahkan, tarif angkutan barang sepanjang 2007 sudah mengalami kenaikan sekitar 80% akibat pengaruh fluktuasi harga minyak mentah dunia. "Jika harga minyak dunia terus bertahan di atas US$ 80 per barel, ongkos angkut impor pada November bisa menembus di atas US$ 100 per ton," ucapnya.

Dia menerangkan, kenaikan ongkos angkut impor sebesar dua setengah kali lipat itu terutama terjadi untuk pengiriman bahan baku produk primer, seperti gandum dan susu mentah dari Amerika Serikat dan Kanada. Secara nilai, industri pengolahan makanan minuman membutuhkan impor bahan baku, seperti gandum dan jagung, pada 2006 mencapai US$ 1,352 miliar atau meningkat dari tahun sebelumnya US$ 1,325 miliar.

Kenaikan ongkos impor bahan baku ini akan semakin memperparah kinerja industri nasional. Apalagi, pada 1 Oktober 2007 Pertamina menaikkan harga semua jenis bahan bakar minyak (BBM) industri sebesar 5-6%. Kenaikan demi kenaikan harga biaya operasional ini merupakan pukulan beruntun bagi sektor manufaktur padat karya.

Ade Sudrajat menambahkan, kenaikan ongkos angkut impor itu dipengaruhi lokasi Indonesia yang jauh dari tujuan impor kapas, baik dari Amerika Serikat, Kanada, ataupun Amerika Selatan. "Industri tekstil nasional rata-rata mengimpor kapas senilai US$ 1 miliar per tahun," ucapnya.

Toto Dirgantoro menilai, kenaikan harga minyak mentah dunia dipastikan memengaruhi ongkos angkutan ekspor impor yang mulai melonjak sekitar 25%. Menurutnya, semua tarif angkutan dan biaya produksi industri manufaktur akan mengalami guncangan akibat pengaruh eksternal itu. "Dengan kenaikan itu tentu produsen di dalam negeri akan berpikir ulang untuk menaikkan harga jual," tuturnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia - 05 Oktober 2007)

 Dilihat : 2948 kali