21 Mei 2008
Harusnya Kita Kuat di Energi

KEBANGKITAN nasional akan berubah menjadi kebangkrutan nasional jikapara elite politik, terutama pemimpin, tidak peduli terhadap, berbagai potensi yang dimiliki bangsa. Indonesia memiliki sumber daya alam luar biasa, namun tidak pernah dikelola dengan baik.

Kita negara agraris, tapi tidak punya produk,unggulan di bidang pertanian yang bisa dibanggakan di dunia internasional," kata Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismed Putro, dalam acara Obrolan Sabtu Radio Ramako-Media Indonesia di Marios Place, Palaza Menteng Huis, Jakarta, Sabtu (17/5).

Hal senada juga dilontarkan anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN Drajad Wibowo. Menurutnya, dalam 100 tahun kebangkitan nasional, perekonomian Indonesia belum juga mampu mandiri, tetapi justru mengarah kepada kebangkrutan.

Perekonomian Indonesia saat ini, lanjut Drajad, terus bangkrut dan tidak bisa bangkit. Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan melepas diri dari jerat utang luar negeri. Semakin besarnya nilai utang luar negeri ini, menurut Drajat, justru semakin mengarahkan Indonesia tidak bisa mengembangkan perekonomian yang mandiri.

"Siapa pun presidennya selalu ditakut-takuti pada kreditor baik lembaga maupun negara. Kita selalu terlilit utang. Kalau selalu begitu, tidak bisa mandiri," tegas Dradjad.

Lebih tragis Ismed menambahkan, sejumlah aset negara vang berpotensi menjadikan negara ini maju justru dijual ke pihak asing. Ia menyebut rencana penjualan PT Krakatau Steel.

Ismed mengatakan jika tidak ingin bangkrut, sudah saatnya Indonesia berpikir untuk mencari pemimpin alternatit yang tegas dan berani dalam mendayagunakan potensi ekonomi yang dimiliki bangsa.

Memasuki pasca seabad kebangkitan nasional, menurutnya lagi, potensi ekonomi harus segera digarap, antara lain dengan memperkuat agroindustri dan sumber daya energi, "Kita unggul di bidang ini," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama. Ketua Umum DPP PKB Ali Masykur Musa mengatakan ekonomi Indonesia dengan sendirinya akan bangkit dan tidak menjadi bangkrut jika kita memperkokoh kebangkitan budaya.

Menurutnya, yang bangkrut itu bukan bangsa Indonesia, melainkan para pemimpin dan elite politik yang tidak tahu tahu ke arah mana membawa bangsa ini.

Didikte asing

Lebih lanjut. Ali Masykur mengatakan kepemimpinan di Indonesia saat ini lebih mementingkan transaksi internasional dan cenderung didikte asing.

"Kita sudah empat tahun dipimpin pimpinan yang tidak punya karakter kemandirian, tidak mengedepankan kepentingan rakyat. Jadi pemimpin itu harus tegas, contoh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Ahmadinejad yang berani menentang IMF dan kekuatan kapitalisme Barat. Mereka bisa jadi prototipe pemimpin bangsa yang berani. Indonesia jangan takut karena kita sangat banyak sumber dayanya," jelasnya.

Pendapat Ali Masykur diamini Drajad. Ia menambahkan, pemerintah saat ini bukannya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, melainkan cenderung menyerahkan ke investor asing. Akibatnya, sama sekali tidak ada kontrol atas aset serta perekonomian negara.

"Ini terjadi karena kita tidak bisa melepaskan diri dari utang luar negeri. Akhirnya, sumber daya yang kita miliki di dalam negeri tidak bisa optimal dan selalu berpikir untuk mencari dan menyerahkan pengelolaannya kepada investor," kata Dradjad.

Ia melanjutkan bahwa pemerintah saat ini sebenarnya masih ditekan pihak IMF. Ia mencontohkan keluarnya UU Migas pada 2001 yang mengakibatkan negara hilang kendali dalam memproduksi minyak serta tidak bisa mengaudit produksi minyak yang telah dihasilkan.

"Akibatnya, kita kini kesulitan. Negara lain yang punya minyak, dengan kenaikan harga minyak mentah justru berpesta pora, seperti Malaysia, Rusia dan sejumlah negara di TimurTengah. Mereka kini justru membuat pusat kota-kota baru," ungkap dia.

Lebih jauh. Dradjad menilai pemerintahan saat ini bisa belajar dari kasus masa lalu untuk melihat bagaimana utang hanya akan membangun ironi.

Namun bukannya menyiasati, pemerintah saat ini justru lebih buruk daripada era pemerintahan Soeharto yang tidak pernah memiliki utang obligasi. Saat ini, menurut dia. Indonesia memiliki utang obligasi sekitar puluhan miliar dolar AS. Masih ditambah surat utang negara yang diterbitkan pemerintah yang hingga 2008 mencapai Rp158 triliun.

Era Pemerintahan Soekarno memang memiliki utang luar negeri sebesar US$2 miliar, namun segera bisa dilunasi.

"Tapi utang luar negeri kita saat ini membengkak hampir 35 kali lipatnya, ini karena kita tergantung kreditor, negara, dan lembaga kreditor seperti AS dan IMF serta investor. Kalau investor meminta kita naikan harga BBM, kita nurut saja jadinya," tandasnya.

Sumber : Media Indonesia, Page : 18 

 Dilihat : 3175 kali