21 Mei 2008
Marwan Ini Kebangkrutan Nasional - 100 Tahun Kebangkitan Nasional Belum Dinikmati Pekerja Miskin

Jakarta, Pelita Selama 100 tahun kebangkitan nasional ternyata masih belum bisa sepenuhnya dinikmati oleh kalangan pekerja Indonesia, karena sebagian besar masih tergolong miskin secara ekonomi alias tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi saat ini harga barang-barang di pasaran semakin merangkak naik.

Selama 100 tahun kebangkitan nasional ternyata masih belum bisa sepenuhnya dinikmati oleh kalangan pekerja Indonesia, karena sebagian besar masih tergolong miskin secara ekonomi alias tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi saat ini harga barang-barang di pasaran semakin merangkak naik.

Peneliti tenaga kerja LIPI Laila Naqib, kepada Pelita. Selasa (20/5) di Jakarta mengatakan hampir semua pekerja indonesia saat ini tergolong ke dalam sektor pekerja informal dengan produktifitas yang sangat rendah [working poor].

"Di Indonesia menganggur bukanlah pilihan karena tidak akan mendapatkan apa-apa, bekerja adalah sebuah keharusan bila ingin bertahan hidup, mau tidak mau harus makan," kata Laila.

Laila menjelaskan, kondisi pekerja di Indonesia saat ini memang sangat memprihatinkan. Kenaikan harga yang semakin meroket memang semakin memukul pendapatan para pekerja. Mereka yang saat ini tergolong dalam di atas garis kemiskinan terancam akan jatuh kembali kepada garis kemiskinan. "Antara harga barang dengan penghasilan memang sangat tidak seimbang." kata Laila.

Laila mencontohkan, kenaikan gaji PNS sebesar rata-rata sepuluh persen saat ini ternyata tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang-barang di pasaran.

Karenanya, menurut Laila, untuk memperbaiki nasib pekerja, maka pemerintah harus berupaya memperbaiki dan menggerakan perekonomian sektor riil. Menggerakkan sektor rill memang tidak gampang untuk dllakukan karena pihak perbankan akan sangat sulit memberikan pinjaman kepada sektor UKM sebesar 50-100 juta.

"Sektor UKM lah sebenarnya yang dapat membantu perekonomian nasional" katanya

Sementara anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Marwan Batubara menilai, saat ini tidaklah tepat mengatakan sebagai 100 tahun kebangkitan nasional, melainkan disebutnya sebagai tahun kebangkrutan nasional secara ekonomi.

Sejumlah alasan mengapa politisi dari daerah pemilihan Jakarta ini mengatakan seperti itu adalah karena ditandai dengan pasokan solar dan batubara PLN masih oleh perusahaan Shell dan swasta.

Tiga juta tabung gas akan dipasok China. Krakatau Steel akan diserahkan ke Mittal Coorporation. Selain itu pula sebanyak 40 BUMN siap dijual, lambang Newmont Nusa Tenggara untuk Newmont dan kalangan swasta, sementara BUMN dan daerah hanya jadi penonton. "Natuna hanya dijadikan sesajen untuk Exxon dan Tambang mas Tembagapura untuk Freeport." jelasnya.

Selain itu. menurut Marwan, sejumlah persoalan masih melilit perekonomaln Indonesia seperti penggelapan pajak oleh Adaro, Asian Agri dan Indosat bebas tanpa proses hukum. Obligor BLBI yang mengemplang ratusan triliun uang rakyat Ini bisa hidup bebas dan semakin kaya.

"Saat ini bukan merayakan kebangkitan nasional, namun yang terjadi adalah kebangkrutan nasional. Rakyat sudah cukup puas dengan pidato-pidato, perayaan dan retorlka-retorika. Karena hiburan untuk kuli adalah seremoni, perayaan dan nyanyian," kata Marwan.

Sumber : Pelita, Page : 11 

 Dilihat : 3599 kali