21 Mei 2008
PRIVATISASI BUMN - Arcellor-Mittal Mitra KS yang Paling Cocok

JAKARTA (Suara Karya) Pemerintah memastikan privatisasi PT Krakatau Steel (KS) akan dilakukan dengan mekanisme penjualan strategis [strategic sales/SS). Bahkan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil menilai, hingga saat ini baru Arcelor-Mittal (AM) yang paling layak menjadi mitra strategis bagi KS dan bisa mendapatkan saham KS melalui penjualan startegis tersebut.

Selain memiliki kekuatan finansial yang besar, perusahaan baja terbesar di dunia itu dinilai memiliki program paling konkret untuk membangun KS dibanding dengan empat kandidat investor baja lain; yakni Tata Steel, Blue Scope International, Essar Steel Holding bahkan Pohang Steel and Co (Posco/perusahaan baja asal Korsel) yang belakangan juga berminat membeli KS dengan pola SS.

Sofyan menjelaskan, pertumbuhan konsumsi baja pada beberapa tahun mendatang berpotensi encapai hingga 15 juta ton. Terkait hal ini, KS perlu mencari mitra strategis yang mampu meningkatkan produksi baja menjadi 12 juta ton secara efisien, sehingga impor dapat dikurangi. Tujuan saya dengan Pak Fahmi (Menteri Perindustrian Fahmi Idris) sama. Yang penting KS bisa meningkatkan produksi. Jadi, kalau ada investor strategis mampu meningkatkan produksi baja menjadi 12 juta ton itu bagus sekali dan Mittal menawarkan (semua) itu," kata Sofjan kepada pers usai meresmikan pabrik NPK Super, di Bontang, pekan lalu. Menurut Sofyan, dalam pemaparannya di Kantor BUMN belum lama ini, Arcellor-Mittal menawarkan tiga rencana besar. Pertama, membeli saham KS 30-0 persen (minoritas). Kedua, melakukan kerja sama untuk pembangunan (joint venture) bersama KS membangun pabrik baja berkapasitas 7 juta ton di Cilegon, Banten. Untuk perusahaan ini, Mittal sebagai pemegang saham mayoritas dalam proyek itu. Ketiga , KS dan Mittal bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk mengeksploitasi sumber bijih besi. "Nah, investor baja yang lain seperti Tata, Essar, Blue Scope, belum menawarkan rencananya sedetail itu. Hanya Mittal yang sudah," ujarnya.

Sofyan menilai, selama ini KS menerapkan teknologi yang tidak terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga berakibat pada pemborosan energi dan keuangan. "Dari sisi produksi, mesin-mesin BUMN baja itu tidak intine antara hulu dan hilir, sehingga KS perlu investasi untuk mengubah itu. Jadi setelah dibuat besi bahan baku baja, selanjutnya didinginkan dulu sebelum diproses jadi produk baja. Padahal, pepatah Melayu mengatakan tempalah besi selagi panas tapi yang terjadi di KS tidak demikian. Setelah besi didinginkan, baru dipanaskan lagi. Ini pemborosan," ujarnya.

Lebih jauh Sofyan mengatakan, perusahaan baja global yang meminati KS melalui pola SS tetap hanya mendapat saham minoritas. Sehingga pemerintah tetap dapat mengendalikan KS secara penuh. Jika pemerintah menjual sekitar 35-40 persen saham KS kepada Mittal, maka pemerintah memutuskan agar Mittal bersedia menempatkan satu orang direktur dan satu komisaris di manajemen KS.

Manajemen KS sendiri juga tidak perlu khawatir jika Mittal meminta hak premtive (memiliki saham terlebih dahulu jika KS melakukan penawaran saham perdana di bursa/IPO), karena masalah itu tergantung dari kesepakatan jual-beli [sale and purchase agreement/SPA) yang disusun KS dan AM. Oleh karena itu pemerintah meminta semua kalangan termasuk DPR agar mempelajari dengan saksama proposal sejumlah perusahaan baja dunia yang meminati KS.

Sumber : Suara Karya, Page : 7 

 Dilihat : 3126 kali