19 Mei 2008
Taufiequrrahman Ruki, Komisaris Utama KS - "Swasta Nasional Saja Jangan, Apalagi Asing"

PRIVATISASI Krakatau Steel tampaknya tidak bakal terwujud dalam waktu dekat. Tarik-menarik antara pemerintah dengan pimpinan dan segenap karyawan BUMN baja itu masih terus berlangsung. Untuk menentukan opsi apa yang akan dipilih, mereka selalu siap bertarung di semua lini. Dukungan ke Krakatau Steel (KS) pun terus mengalir. Berbagai diskusi kemudian marak digelar agar publik lebih jeli dan kritis melihat persoalan ini.

Privatisasi itu sendiri, memang, menjadi keharusan. Untuk menggenjot produksi dari 2,5 juta ton menjadi 5 juta ton, tambahan modal mutlak diperlukan. Tapi bagaimana uang dicari, inilah masalahnya. Manajemen KS merasa cukup dengan IPO. Atau, jika pemerintah memandang pasar sedang tidak kondusif, manajemen masih sanggup mencari pendanaan lewat pinjaman.

"Keuangan perusahaan ini sehat. Kami bisa meminjam sampai Rp 10 triliun. Dan kami tidak pernah gagal bayar," kata Taufiequrrahman Ruki, Komisaris Utama KS. Dari situasi seperti itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi manajemen untuk melepas sebagian sahamnya ke mitra strategis.

Nah, bagaimana perkembangan terakhir dari permasalahan yang tengah dihadapi BUMN ini, berikut penuturan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi itu kepada Dian Pitaloka Saraswati dan Tedy Gumilar dari TRUST. Wawancara dilakukan dalam beberapa kali kesempatan di pekan silam. Berikut Petikannya

Bagaimana kondisi keuangan KS

SAAT INI?

Sangat sehat. Per 1 Mei 2008 saldo kas KS Rp 1,2 triliun dengan piutang mencapai Rp 2,2 triliun,

Ada yang menilai sistem produksi di KS tidak efisien?

Saya akui KS memang bukan pabrik yang efisien. Inefisiensi ini terkait dengan sistem produksi di KS yang berbeda dengan pabrik lainnya. PT KS itu based in gas. Jika gas murah dan pasokannya banyak, maka produksi akan berjalan. Sementara ini, gas kita semakin lama semakin sedikit, harganya juga semakin mahal.

Karena itu, pasokan gas ke KS bermasalah?

Kami membeli dengan harga pasar. Kalau pasokan gas hanya mengandalkan Pertamina dan tidak ditolong PGN, bisa-bisa KS stop produksi. Pabrik ini memang model pabrik lama yang tidak bisa efisien. Di negara lain, pabrik serupa sudah tutup. Hanya kita yang masih survive dan masih bagus. Teknologi KS sedang menyesuaikan diri dengan lebih memperbanyak penggunaan batu bara. Gas tetap berjalan untuk mempertahankan produksi.

Berapa target produksi KS?

Tahun 2011 akan sampai 5 juta ton. Kalau ini tercapai, 80% kebutuhan baja dalam negeri bisa tercukupi.

Apa yang akan dilakukan KS UNTUK MENCAPAI TARGET ITU?

Untuk meningkatkan produksi, KS harus mendapatkan modal. Caranya ada tiga. Pertama, pemerintah sebagai pemegang saham bisa memberikan uang kepada KS. Tapi, itu tidak mungkin karena keuangan negara kita sedang rusak. Kedua, bisa meminjam dari perbankan nasional atau asing. Yang ketiga lewat privatisasi. Nah, kelihatannya pemerintah lebih memilih privatisasi. Kami bilang oke privatisasi, tapi polanya IPO bukan strategic sale.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk menggenjot produksi itu?

Kami hanya memerlukan USS 400 juta. US$ 200 juta sudah didapat dari Bank Jerman, sedangkan yang US$ 200 juta sisanya bisa kami jaring lewat IPO.

Mengapa KS menolak strategic sale?

Strategic sale hanya untuk perusahaan yang sudah klepek-klepek. KS ini sehat. Strategic sale nantinya juga akan merugikan kepentingan KS. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dalam strategic sale ada yang dinamakan super voting right (hak privilese penempatan komisaris dan direktur dan melakukan voting terhadap strategi perusahaan) di mana pemilik minoritas tidak akan punya banyak andil.

Hak-hak di atas bisa membahayakan industri strategis Indonesia. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta International Container Terminal dan Indosat. Industri strategis seperti serat baja adalah industri dasar yang merangsang industri lainnya. Kalau lewat IPO, risiko-risiko buruk itu bisa diminimalkan karena dikuasai oleh anak bangsa dan manajemen bisa diawasi publik.

Mengapa Anda tampak ngotot sekali ...

Saya mau beradu pendapat tentang privatisasi KS demi kepentingan masyarakat, bangsa, juga kepentingan industri strategis, Buat saya take it or leave it. Jika saya suka saya akan hadapi itu. Jika sebaliknya, saya balik kanan (mengundurkan diri).

Nasionalisme jangan diartikan melulu sebagai perang. Jika di dalam politik ada nasionalisme, begitu juga untuk ekonomi, Tapi, jangan menerjemahkan nasionalisme di bidang ekonomi dengan pemahaman yang sempit. Jangan seperti Prancis yang gagal melakukan patriotisme ekonomi dengan lepasnya Arcellor ke tangan Mittal. Itu tidak boleh terjadi di Indonesia.

Kalau strategic sale dan IPO ternyata buntu?

Kembali ke pinjaman perbankan saja, Sindikasi keuangan,baik jasa keuangan maupun perbankan, siap mendanai peningkatan produksi KS. Jadi masalahnya bukan uang.

Kalau permasalahannya bukan di modal, artinya privatisasi sudah tak diperlukan lagi?

Tanpa privatisasi pun kita bisa maju membiayai kegiatan peningkatan produksi ini. Produksi harus ditingkatkan karena kebutuhan baja tahun depan akan naik. Kalau enggak, KS hanya akan bertahan pada 60%-70% saja, Kami tidak mungkin mencukupi 100%. karena nanti dibilang monopoli dan itu tidak bagus. Pada 2011, kami akan keluar dengan 5 juta ton, 2015 dengan 5 juta ton lagi. Pembiayaannya bisa lewat capital market, atau bisa lewat pinjaman sindikasi perbankan.

Sejauh mana kesanggupan perbankan mendanai rencana KS?

Saya sudah bicara dengan Dirut Mandiri dan Dirut BNI. Mereka mengatakan siap. Sindikasi kami akan mampu membiayai kebutuhan KS. Perbankan asing pun sudah siap. Kami tidak pernah default dalam soal utang. KS enggak pernah moratorium utang. Kami tidak pernah gagal bayar dan selalu bisa bayar. Karena itu mereka mengatakan, dengan kondisi keuangan seperti ini, Anda minta Rp 10 triliun pun, kami layani.

Jika pemerintah tetap memaksakan strategic sale?

Kalau pemerintah memaksa lewat strategic sale, ya silakan saja. Perusahaan ini kan milik pemerintah, tapi Anda dan masyarakat Indonesia juga berhak menilai. Kalau saya pribadi, strategic sale ke swasta nasional saja jangan, apalagi asing, Sementara IPO paling mungkin pada semester 1-2009. Ketika itu, insya Allah, pasar modal kita sudah membaik, kecuali ada sentimen soal politik. D

Sumber : Trust Magazine, Page : 16 

 Dilihat : 3034 kali