19 Mei 2008
Ir. M. Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara - "Kita Tidak Usah Menatap Masa Lalu..

KETIKA kemerdekaan negeri ini diproklamasikan 63 tahun silam, penjajahan sesungguhnya tak pernah berakhir. Kolonialisme masih ada dalam wujudnya yang telah berganti. Hari ini kedaulatan sebuah negara tidak lagi dijelaskan dengan batasan teritorial. Kedaulatan juga berarti bagaimana ekonomi negeri ini digerakkan secara mandiri, minus intervensi asing.

Belakangan kedaulatan ekonomi memang menjadi isu yang sensitif. Sebagian anak bangsa sepenuhnya percaya bahwa negeri ini hanya merdeka secara politik, tapi terjajah dalam ekonominya. Senjata telah digantikan oleh modal, dan negeri ini dikuasai secara halus dan perlahan.

Tahun ini, Indonesia merayakan seabad Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan yang jatuh tiap tanggal 20 Mei itu mengacu pada sejarah kemunculan Boedi Oetomo sebagai kendaraan politik anak bangsa ketika memperjuangkan sebuah tatanan hidup yang lebih berkeadilan.

Jika 20 Mei seratus tahun lalu Boedi Oetomo sudah memulainya, 20 Mei tahun ini kita perlu mengingat lagi kesadaran mereka dalam memulai pergerakan itu. Zaman memang berubah, dan karena itu kontekstualisasi perlu terus dilakukan. Berikut ini adalah perbincangan Bona Ventura dan Ahmad Pahingguan dari TRUST bersama Ketua Panitia Nasional 100 Tahun Kebangkitan Nasional Mensesneg Hatta Rajasa.

Apa yang dilakukan pemerintah acar peringatan hari kebangkitan nasional (harkitnas) bukan sekadar seremoni?

Presiden telah mengeluarkan surat keputusan mengenai pembentukan panitia nasional untuk satu abad Harkitnas. Pelaksanaannya akan dilakukan selama setahun. Kita berharap seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat memaknai satu abad Kebangkitan Nasional dengan membangun kepercayaan diri, solidaritas bangsa, dan semangat menuju negara maju. Untuk itu, kita harus merefleksikan kondisi satu abad yang lalu.

Kita harus belajar bahwa kelahiran Boedi Oetomo merupakan inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Boedi Oetomo ialah penggerak lahirnya gerakan kebangsaan yang bersifat nasionalisme. Saat itu kita bisa bangkit dengan rasa percaya karena memiliki satu bangsa, satu Tanah Air, dan satu bahasa. Itulah benih nasionalisme yang menimbulkan semangat bahwa kita bisa. Inspirasi tersebut juga membawa rasa cinta Tanah Air.

Bagaimana memaknai nasionalisme

Ol ZAMAN SEKARANG?

Nasionalisme tidak mungkin tumbuh jika tidak ada rasa cinta Tanah Air. Tahun 1945, rasa nasionalisme menyatukan kita untuk mengusir penjajah. Menurut saya, rasa nasionalisme itu masih relevan di zaman sekarang, asal kita maknai dengan kondisi saat ini.

Memang musuh yang kita hadapi sudah berbeda, namun esensinya tidak pernah berubah. Sekarang ini, kita harus membawanya ke dalam iklim global. Nasionalisme ke dalam, kila maknai sebagai keinginan kita sebagai bangsa yang tetap bermartabat, demokratis, percaya diri, maju, dan mandiri. Sedangkan nasionalisme ke luar, kita maknai dengan keinginan sebagai negara yang mengembangkan global partnership sebagaimana dalam konstitusi kita.

Apa yang hendak pemerintah sampaikan pada peringatan seabad harkitnas ini?

Yang paling penting mampu menggugah semangat seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita ini bisa. Inilah yang menjadi slogan seabad Harkitnas Indonesia Bisa! Artinya, kita percaya diri dan mampu. Kepala Makro ekonomi Price Waterhouse Coopers John Hawksworth dalam kajiannya mengatakan, di 2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keenam dunia setelah AS, RRC, India, Jepang, dan Brasil. Pada tahun itu, pendapatan per kapita Indonesia diproyeksikan US$ 23 ribu. Jika orang asing saja yakin Indonesia bisa bangkit, mengapa kita pesimistis.

Bagaimana mencapai mimpi rru?

Ada beberapa hal yang akan kita lakukan. Pertama, meningkatkan kesadaran berbangsa. Kita bangsa yang besar dan memiliki potensi luar biasa. Kedua, kita harus menguatkan jati diri bangsa, yaitu sebagai bangsa yang bermartabat, santun, dan kompetitif. Ketiga, menyatukan potensi dan bergerak menuju bangsa yang maju. Jadi, selama setahun rentetan kegiatan itu bisa menggugah kita untuk bangkit.

Setelah itu...

Kita harapkan ini menjadi budaya. Budaya itu berasal dari ucapan, kemudian ditindaklanjuti dalam perbuatan dan tindakan. Jika demikian akan menjadi habit, otomatis menjadi budaya. Dan budaya itu akan menentukan nasib suatu negara. Kita ingin membentuk budaya sebagai negara maju dan percaya diri. Kita berharap media memberitakan sesuatu yang menimbulkan kebanggaan. Seperti Malaysia dengan Visi 2020. Mereka memberitakan sesuatu yang membanggakan, sehingga generasi muda Malaysia bangga mereka bisa membuat pesawat. Padahal, kita sudah bisa membuat pesawat lebih dulu dari mereka.

Tetapi, industri pesawat kita kan merugi?

Secara tidak sadar Anda telah menegasikan. Jangan melihat ke sana. Mari kita ubah pola pikir kita untuk membanggakan bangsa. Memang ada kondisi seperti itu, tapi harus kita ubah bersama.

Bagaimana menempatkan rasa nasionalisme di tengah maraknya penjualan bumn kepada asing?

Target kita itu kan bagaimana menuju menjadi negara maju. Nasionalisme kita bukan nasionalisme sempit. Nasionalisme tidak bisa diartikan semua milik dalam negeri dan tidak boleh dijual kepada asing. Kalau begitu pola pikirnya, kita akan menjadi negara yang terkucil dalam pergaulan dunia. Nasionalisme dalam kondisi global harus dimaknai bahwa Indonesia tidak terpengaruh untuk menjaga kepentingannya.

Kalau kita menjual hasil bumi semata-mata untuk kepentingan nasionalnya. Contoh batu bara. Masak kita punya batu bara hanya untuk kebutuhan nasionaJ 50 juta ton, di luar itu tidak bisa diekspor. Jadi, bagaimana melihat global partnership dengan tetap menjaga kepentingan nasional.

Contohnya?

Ada yang mengatakan, mengapa kita tidak menguasai 100% BUMN sendiri. Bukan itu jawabannya. Tetapi, yang kita kejar ialah apakah BUMN kita mampu berkembang menjadi lebih efisien sehingga meningkatkan keuntungan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Atau kita memilih BUMN kita kuasai 100%, namun dikorupsi dan tidak transparan. Mana yang kita pilih. Yang kita pilih adalah sesuatu yang mengikuti kaidah best practices. Artinya, menjadi go public sehingga dikuasai publik, rakyat bisa membeli, terbuka, diaudit, keuntungan meningkat, bayar pajak, dan untuk kepentingan rakyat. Kemandirian bukan lagi mempersoalkan boleh tidaknya investor asing masuk Indonesia. Yang kita jaga ialah bagaimana supaya bangsa Indonesia tidak terjajah, baik dalam teknologi maupun ekonomi. Tidak boleh terjajah! Itu yang terpenting. Mengenai masuknya investor suatu hal yang normal. Kita juga memiliki daftar negatif investasi. Ada aturannya, mana yang boleh dan tidak. Jadi, kalau kita katakan itu tidak boleh, ya tidak boleh. Dan itu untuk kepentingan nasional kita.

Soal kilang minyak kita yang dikuasai asing bagaimana?

Semua kilang minyak di Tanah Air masih dikuasai Pertamina. Di kontrak minyak terdapat konsep production sharing contract. Saya ingin menunjukkan bahwa minyak itu belong to the state. Milik negara. Karena negara tidak mungkin mengelola semua, maka itu diberikan kepada pengelola. Kalau kita mengundang investor asing untuk masuk karena dana dan risikonya besar. Tetapi jangan lupa, 85% dari production sharing contract milik negara. Hanya 15% yang bisa dibagi ke asing. Apa itu keliru. Kecuali pembagiannya 50% Indonesia dan 50% asing, itu keliru. Bahkan, dari 15% itu masih dibagi antara asing dan Pertamina.

Bahkan, presiden telah mencabut Exxon dari Blok Natuna dan diberikan 100% ke Pertamina. Kita akan menuju ke arah sana, apabila kita mempunyai teknologi dan kemampuan finansial. Tetapi jika kemampuan teknologi dan keuangan belum memadai, sedangkan rakyat butuh dana untuk mengentaskan kemiskinan, maka kita harus terbuka.

Tidak mampu karena kita tidak percaya diri... Bukan persoalan kepercayaan diri. Kita harus akui 50 tahun lalu belum diperkenalkan sistem production sharing. Yang ada kontrak karya dan baru beberapa perusahaan asing. Kita tidak usah menatap masa lalu tapi masa depan. Dan saat ini sudah diberikan kepada Pertamina 100%. Hanya Pertamina harus berpikir apakah mempunyai dana US$ 40 miliar untuk mengembangkan Natuna. Jika Pertamina belum mempunyai dana dan teknologi tersebut, maka dia bisa melakukan partnership. Apakah itu salah. Itulah bisnis.

Yang tidak boleh adalah menjual negara dan membuat kita tergantung kepada asing. Jadi, pengertian nasionalisme ialah kemampuan kita untuk tidak menggadaikan kepentingan nasional kepada negara mana pun di dunia. Yang menentukan merah putihnya bangsa ini kita sendiri. Jadi, kita membuka keran investor tetapi kita yang menentukan, bukan mereka.

Di saat kita menginginkan

Indonesia bangkit, justru yang terjadi adalah pembiaran akuisisi terhadap bumn strategis yang sebenarnya sehat secara keuangan dan mampu mandiri. contohnya krakatau steel...

Kan itu belum dijual. Kembali seperti yang saya katakan, jangan melihat suatu kasus lalu digeneralisasi sebagai kebijakan secara makro. Memang ada beberapa kasus, tetapi saya tidak membicarakan Krakatau Steel. Jadi, ada sebagian kasus di BUMN yang kita anggap lebih baik dilakukan go public. Hanya jangan lantas diasumsikan bahwa go public itu negara menjual aset kepada asing. Kita juga mempunyai aturan ada BUMN yang tidak akan dijual, seperti Pertamina dan PLN. Itu terkait dengan subsidi di dalamnya.

Memang ada hal-hal di mana kita mendorong untuk IPO. Tujuannya bukan sekadar mencari uang tetapi ada perubahan budaya. Corporate culturenya berubah sehingga dia menjadi efisien, tumbuh, dan berkembang besar. Ini kasus per kasus, bukan satu kebijakan keseluruhan. Dan kita tidak bisa memutuskan sendirian, harus bersama legislatif. DPR pun jeli melihat mana yang boleh di IPO-kan dan berapa persentasenya.

Tanggapan Anda soal tudingan IPO,

DILAKUKAN MENJELANG PEMILU BERKAIT DENGAN DANA KAMPANYE?

Itu tidak benar. Jika memang ada, penjarakan saja.

Seabad Harkitnas makin terasa istimewa karena dirayakan di tengah impitan ekonomi dan rencana pemerintah menaikkan harga BBM?

Kebangkitan Nasional harus kita maknai bahwa tantangan ke depan semakin berat. Persaingan semakin terbuka. Oleh sebab itu, harus diartikan dengan rasa percaya diri, sikap meningkatkan daya saing, dan budaya berhemat. Jadi, dalam menghadapi lonjakan harga minyak dan pangan, kita harus bersemangat bahwa ini bukan tantangan tetapi peluang. Satu abad Kebangkitan Nasional harus ditransformasikan untuk mengubah ancaman menjadi peluang.

Contohnya beras. Kita tidak pernah menyangka harga beras di Indonesia menjadi lebih murah di tengah kenaikan harga pangan dunia. Selama ini, harga beras nasional lebih mahal dibanding negara lain. Sebelum krisis pangan, harga beras US$ 250 per ton. Sementara di dalam negeri Rp 3000 per liter. Sekarang terbalik. Harga beras di luar US$ 1300 per ton. Sedangkan di Indonesia, untuk gabah kering Rp 220 ribu per kuintal. Jadi, kita harus melihat peluang ini dengan meningkatkan produktivitas. Dan kita bisa ekspor.

Ekspor beras?

Kita jangan bersikap defensif juga pasif. Pola pikir seperti itu malah harus kita perangi. Seharusnya kita berpikir bahwa ini adalah sebuah peluang, karena kita masih punya banyak lahan dan jutaan lahan tidur. Lihat saja, sampai dengan tahun ini cadangan pangan masih cukup, dan ada sebagian orang menganjurkan kita melakukan ekspor pangan tetapi kita tidak lakukan.

Apa visi untuk 100 tahun Kebangkitan Nasional?

Membangun kesadaran berbangsa dan bernegara, meningkatkan kesadaran berbangsa, serta menguatkan jadi diri dan menyatukan visi bangsa untuk bergerak menuju bangsa yang maju. Dan itu tidak sekadar seremoni. bisa dijangkau oleh banyak kalangan.

BERJAYA BERKAT BINTANG IKLAN UNIK

Biar lebih menarik, Extra JOSS diproduksi dengan banyak varian, sehingga bisa memenuhi selera konsumen yang beragam. Produk terbarunya adalah Extra Joss Active Soda Susu, Joss Fit Teh Madu, dan Joss Fit Jahe Ginseng, yang mulai dipasarkan sejak April lalu. Targetnya, untuk setiap varian tersebut bisa terjual sebanyak satu juta sachet per bulan. Jika berhasil, niscaya akan mendongkrak skala produksi dua pabrik Bintang Toedjoe di Pulogadung dan Pulomas, Jakarta, jadi makin membu-kit. Selama ini, kapasitas kedua pabrik itu baru mencapai 300 juta sachel per bulan,

Tak ingin kalah dari Bintang Toedjoe, Sido Muncul pun tengah berancang-ancang merambah kawasan Asia Tenggara. Lewat produk andalan Kuku Bima, mulai Juni nanti, mencoba menjajal pasar di Filipina, Malaysia, dan juga Afrika Selatan. Sebenarnya pula, menurut Linawati Sutedja, Product Manager Kuku Bima, Kuku Bima sudah mulai diekspor ke sejumlah negara itu sejak beberapa waktu lalu. Karena baru penjajakan, Volumenya baru 5% dari tolal produksi," ujarnya.

Kuku Bima, bisa dibilang, pesaing terdekat Extra Joss. Perimbangan di antara keduanya, bahkan nyaris setara. Tahun lalu Kuku Bima diproduksi sebanyak satu miliar sachet, atau setara dengan pendapatan sekitar Rp 1 triliun. Produk ini juga dibuat dengan berbagai varian rasa. Yang terbaru adalah Kuku Bima Susu Soda yang mulai dilansir sejak April lalu.

Untuk memikat kalangan konsumennya-kebanyakan dari menengah bawah- manajemen Sido Muncul menerapkan kiat tergolong ampuh. Di antaranya memanfaatkan kepopuleran sejumlah tokoh terkenal, seperti artis kenes Rieke Dyah Pitaloka (pemeran Oneng dalam serial komedi Bajaj Bajuri), Mbah Marijan (juru kunci Gunung Merapi), dan Chris John (pemegang sabuk juara tinju dunia), sebagai bintang iklannya.

Atau bintang iklan tergolong unik-jika tak mau dibilang memelas-seperti Siti Nurhayati dan Ceriyati (TKW yang pernah disiksa majikannya di luar negeri), dan Nur Kodim, supir angkot asal Temanggung, Jawa Timur, yang hanya memiliki satu kaki. Kiat seperti ini perlu ditempuh, menurut Irwan Hidayat, Direktur Utama PT Sido Muncul, karena merupakan strategi agar produk yang diiklankan akan selalu diingat oleh konsumen.

Hasilnya memang luar biasa. Contohnya Kuku Bima Susu Soda. Kendati baru sebulan dipasarkan-di antaranya lewat iklan yang dibintangi oleh Siti Nurhayati dan Nur Kodim-produk ini berhasil memikat selera konsumennya. Karena itu, manajemen Sido

Muncul berani menargetkan omzet yang dipetik dari produk baru ini sampai akhir tahun nanti bisa mencapai 25% dari total penjualan Kuku Bima.

Strategi lain yang tak kalah ampuhnya dengan memanfaatkan jaringan para penjual jamu. Mulai dari para mbok jamu gendong (penjual jamu keliling), hingga kedai-kedai yang mangkal di pinggir jalan. Sejatinya, mereka adalah para salesman andal yang piawai menjajakan Kuku Bima. Berkat tangan-tangan mereka, selama 2007, penjualan Kuku Bima melonjak hingga 225%.

Persoalannya sekarang, bagaimana dengan gebrakan di luar negeri, apakah akan mampu mendongkrak penjualan Kuku Bima di tahun ini? Manajemen Sido Muncul, tampaknya tak terlalu optimistis. Sikap ini perlu diambil, menurut Linawati, mengingat iklim persaingan di dalam negeri yang makin ketat. Karena itu, pihaknya hanya berani menargetkan penjualan selama 2008 sebanyak 1,2 miliar sachet. Lagi pula, ekspansi pasar ke sejumlah negara jiran itu, masih taraf penjajakan.

Tampaknya manajemen Sido Muncul lebih bersikap hati-hati. Sejatinya, memang lebih baik bercocok di kebun sendiri yang sudah jelas hasilnya, ketimbang mengharapkan hasil di ladang orang yang belum tentu subur.

Sumber : Trust Magazine, Page : 56 

 

 Dilihat : 3574 kali