05 Oktober 2007
Nanjing Steel Siap Investasi US$500 Juta

JAKARTA: Serbuan investasi asing ke Indonesia di sektor industri baja masih berlanjut. Setelah China Nickel Resources Hid Co investasi US$450 juta, sedikitnya enam perusahaan baja hulu asal China berencana membangun pabrik pengolahan bijih besi di Kalsel.

Salah satu perusahaan raksasa China yang telah menyatakan komitmennya untuk berinvestasi adalah Nanjing & Iron Steel Co Ltd (Nanjing Steel). Perusahaan tersebut akan membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 1 juta ton dengan total investasi sekitar US$500 juta, di Tanah Laut, Kalsel, pada tahun depan.
Saat ini, perusahaan tersebut berupaya menjalin kemitraan dengan para pemilik kuasa pertambangan (KP) di Kalsel.

Tidak hanya itu, dalam jangka panjang perusahaan itu juga akan membangun pabrik pengolahan baja di beberapa daerah lain a.l. Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Tangerang dan Sukabumi.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menjelaskan Nanjing Steel berencana menggandeng PT Krakatau Steel (KS) perusahaan baja terbesar di Indonesia terutama dalam penyediaan bahan baku bijih besi.

"Pada tahap awal, perusahaan ini akan membangun pabrik berkapasitas 1 juta ton. Selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 2 juta ton. Kurang lebih isi proposalnya sama dengan yang pernah diajukan Nickel [China Nickel Resources, perusahaan baja China]," kata Ansari kepada Bisnis, kemarin.

Selain China, investasi asing di sektor baja juga datang dari Singapura. Tiga perusahaan Singapura telah mengakusisi 100% saham Gunung Garuda Group, sebuah penanaman modal dalam negeri di industri baja hulu.

Sementara itu, dua anak perusahaan Gunung Garuda lainnya dikabarkan juga akan diambilalih oleh perusahaan dari Singapura. Total nilai transaksi akuisisi diperkirakan mencapai Rpl triliun. {Bisnis 2 Oktober).

Primadona Investasi

Sektor baja nasional, belakangan menjadi primadona investasi seiring peningkatan kebutuhan dan permintaan baja di pasar global.

Berdasarkan data Depperin, perusahaanperusahaan China yang telah eksis di sejumlah daerah di Indonesia tampak makin agresif melakukan ekspansi. PT Sinar Nusantara Mitra Selaras, penanaman modal asing (PMA) dari China berencana menambah kapasitas produksi 600.000 ton dengan nilai investasi US$600,000.

Perluasan kapasitas tersebut telah dilakukan perseroan dan diperkirakan pada awal 2008 telah mulai berproduksi. Sinar Nusantara Mitra merupakan perusahaan pengolah pelet bijih besi.

Selain itu, PT Hoi Cheon Indonesia, produsen serbuk bijih besi juga akan menambah kapasitas pabrik di Bangka Belitung sebesar 180.000 ton dengan investasi senilai US$500,000. Direncanakan, perusahaan yang telah mengantongi izin pada 3 Mei 2005 ini akan mulai berproduksi pada tahun depan.

Selain itu, PT Mag Indonesia Citra, produsen pelet bijih besi akan menambah kapasitas 150.000 ton dengan total investasi US$4 juta di Cilegon, Banten.

Sementara itu, PT Fine Wealthy Indonesia (produsen pasir besi) dan PT Vacation International Indonesia, masing-masing akan menambah kapasitas produksi pasir besi dan pelet dengan total investasi US$2,585 juta di Seluma, Bengkulu dan Sukabumi, Jawa Barat.

Arus investasi dari China yang masuk deras ke sektor baja hulu terutama disebabkan kebutuhan bahan baku industri baja negara itu sangat besar sedangkan pasokan terbatas.

Karena itu, industri baja China agresif menggarap sumber bahan baku di luar negeri. Kebutuhan bahan baku yang besar itu, secara langsung telah mendorong pemerintahnya mengenakan pungutan ekspor sebesar 11% atas bahan mentah, terutama bijih besi, slab, billet.

Dirut PT Krakatau Steel Daenulhay saat dikonfirmasi mengaku tidak mengkhawatirkan atas ekspansi tersebut. "Perusahaan baja hulu nasional lebih siap dibandingkan mereka."

(Sumber: Bisnis Indonesia - 05 Oktober 2007)

 Dilihat : 5688 kali