19 Mei 2008
Dari India Dolar pun Mengalir Deras

Banyak pemodal dari India yang antusias berekspansi ke negeri ini. Potensi dolar yang mengalir dari Negeri Sungai Gangga ke Tanah Air selama 2008, diperkirakan bisa mencapai lebih dari US$ 11 miliar. Peluang yang amat sayang jika disia-siakan.

BANK Dunia boleh-boleh saja menggolongkan Indonesia sebagai negeri tak ramah untuk berinvestasi, Setidaknya, seperti itulah penilaian lembaga keuangan dunia itu dilansir dua tahun silam tentang iklim berusaha di negeri ini yang dinyatakan sebagai yang terburuk di dunia. Pandangan yang boleh jadi ada benarnya.

Bisa jadi juga sebaliknya, Buktinya, masih ada kalangan yang memandang negeri ini lebih positif, Sikap seperti itu, paling tidak, ditunjukkan oleh sejumlah pengusaha dari India. Bahkan, minat mereka untuk mengembangkan usaha di negeri ini begitu menggebu, Berdasarkan catatan selama tahun lalu, setidaknya ada 100 pemodal asal Negeri Anak Benua yang memastikan menanamkan investasinya di sini, total nilainya lebih dari US$ 1,5 miliar,

Tampaknya, tren aliran dolar dari Tanah Hindustan ke Nusantara masih terus meningkat, Salah satunya, seperti modal yang diusung Ratan Jindal, pemilik Jindal Stainless Ltd. Gergasi besi dan baja asal India ini, pekan lalu, memastikan akan membangun industri peleburan bijih nikel dan besi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Nilainya pun tak tanggung-tanggung, sekitar US$ 700 juta (sekitar Rp 6,4 triliun),

Untuk mengerjakan proyek nan wah ini Jindal tak sendirian, tapi berkongsi dengan PT Aneka Tambang Indonesia Tbk. Lewat kerja sama ini, mereka mendirikan PT Antam Jindal Stainless Indonesia (AJSI), dengan komposisi kepemilikan Jindal 45% dan Antam 55%. Rencananya, pembangunan pabrik mulai berjalan tahun depan dan ditargetkan beroperasi pada 2011. Pabrik ini dirancang bisa menghasilkan nikel sebanyak 20 ribu ton dan 250 ribu ton baja per tahun.

Sungguh, strategi ekspansi bermasa depan cerah, Itu bila melihat tren komoditi hasil tambang di pasar dunia saat ini. Terutama baja, seiring dengan skala kebutuhannya yang tak pernah surut, harga pasarannya terus menanjak. Dus, berdasarkan hitung-hitungannya, investasi di sektor ini amatlah menguntungkan.

Indonesia di mata Jindal, sebenarnya pula, bukanlah negeri nan asing, Investasi perdananya dibangun lewat Jindal Stainless Indonesia, industri pelat baja di Gesik, Jawa Timur, senilai US$ 33,75 juta. Pabrik yang mulai beroperasi sejak 2004 ini mampu menghasilkan pelat baja sebanyak 50 ribu ton per tahun ini.

Ratan Jindal, 45 tahun, adalah generasi penerus Jindal Group yang bergerak di banyak sektor, Mulai dari bisnis pertambangan (di antaranya migas), industri baja, hingga teknologi. Bisnis keluarga ini dirintis oleh ayahnya, Shri Om Prakash Jindal (OP Jindal), sejak 1952. Setelah sang ayah meninggal pada Maret 2005, otomatis ia naik ke puncak pimpinan Jindal Group. Selain aset usaha, OP Jindal pun mewariskan kekayaan pribadi kepada empat anaknya (Ratan adalah anak ketiga), yang nilainya mencapai US$ 8 miliar.

Selain Jindal, masih ada sejumlah pengusaha asal India lainnya yang bersemangat mengembangkan bisnis di sini. Di antaranya Anil Ambani, pemilik Reliance Power Ltd. Pengusaha yang lahir di Mumbai, India, 47 tahun lalu, ini menyatakan siap mengucurkan US  650 juta untuk menggarap tambang batu bara di Sumatra Selatan.

Buat Anil, nilai investasi sebesar itu, bisa jadi, tak seberapa. Setidaknya, jika menilik harta pribadinya menurut versi majalah Forbes-yang mencapai US$ 42 miliar, Kabarnya, batu bara dari Indonesia itu untuk memasok kebutuhan pembangkit listrik berkekuatan 4.000 megawatt di Krishnapatnam, Andra Pradesh, India,

Lalu siapa yang akan menjadi partner lokalnya? Sayang, orang terkaya keenam di dunia itu belum jua memutuskan. Sebagai informasi, saat ini di Sumatra Selatan dengan cadangan batu bara sebanyak 13 miliar ton sudah ada dua perusahaan berskala besar yang beroperasi, yakni PT Bukit Asam Tbk. dan PT Bukit Kendi. Akankah Anil akan menggandeng salah satunya? Belum jelas.

Alih-alih, ketika banyak kalangan tengah harap-harap cemas, malah beredar rumor lain. Kabarnya, Anil juga berminat mengakuisisi PT Berau Coal yang bercokol di Kalimantan Timur. Konon, sang taipan telah menyiapkan dana lebih dari Rp 9 triliun.

CIKAL BAKAL INDUSTRINYA DIRINTIS DI NEGERI INI

Memang, kiprah pengusaha India di negeri ini, kadang mengundang kontroversi. Heboh terkini terkait rencana Lakshmi Narayan Mittal, pemilik Arc elor Mitttal (industri baja terbesar di dunia), yang ingin membeli Krakatau Steel (KS), Pria berusia 58 tahun ini ngotot pengin menguasai saham BUMN itu sebanyak 40%-49%.

Nah, untuk merealisasikan keinginannya, pengusaha yang memiliki kekayaan pribadi USS 45 miliar ini telah menyiapkan dana US$ 3 miliar. Cuma, banyak kalangan menilai tawarannya itu masih terlalu rendah. Dasarnya, ternyata Lakshmi bukanlah peminat tunggal. Masih ada sejumlah kelompok usaha lain yang berkeinginan menanamkan modal di KS, Salah satunya adalah Ratan Naval Tata, tak lain pesaing terdekatnya yang nota bene masih sebangsa.

Ratan Naval kesohor karena kepemilikannya di Tata Group, kelompok usaha yang bergerak di bidang otomotif, baja, dan energi. Pria yang lahir di Mumbai, India, pada 1937 ini, pada Maret lalu berhasil membeli Jaguar dan Land Rover dari Ford Motor senilai US$ 2,3 miliar. Kiprahnya di Indonesia menggaung lewat Tata Power yang baru saja dikabarkan membeli sebagian saham PT Kalimantan Prima Coal dan PT Arutmin senilai USS 1,3 miliar.

Takut disabet pesaingnya, serta merta Lakshmi pun meningkatkan penawarannya di KS menjadi US$ 10 miliar. Bila sang taipan begitu keukeuh, bisa dimaklumi, Berinvestasi di negeri ini apalagi berkongsi dengan sebuah BUMN paling berpengaruh di industri baja nasional merupakan jaminan masa depan yang amat cerah.

Terlepas dari siapa yang akan memenangkan pertarungan di KS, ketertarikan Lakshmi serta kebanyakan pemodal India lainnya atas negeri ini, sebenarnya ada hal yang lebih fundamental. Dasarnya, karena negeri ini memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, ketersediaan tenaga kerja (dalam jumlah dan kualifikasi yang cukup memadai), serta kesamaan budaya antara kedua negara. Konon pula, berinvestasi di negeri ini masih tergolong murah,

Berkat semua potensi itu, peluang untuk merambah dunia pun semakin terbuka. Setidaknya, itu telah dibuktikan oleh Lakshmi. Gagasannya berinvestasi di sini sudah tercetus jauh sebelum ini. Bahkan cikal bakal industri bajanya mulai dirintis di sini. Awalnya, sekitar 1970-an, dipicu oleh permasalahan yang terjadi di negerinya kala perkembangan bisnisnya terhambat karena berbagai aturan yang ada,

Lantaran kecewa, Lakshmi pun memutuskan berekspansi ke luar India. Di antaranya ke Indonesia (1976) dengan mendirikan PT Ispat Indo. Pabrik pengolah pelat baja ini dibangun di lahan seluas 16,5 hektare di Sidoarjo, Jawa Timur, dan menelan investasi US$ 15 juta. Ndilalahnya, usaha itu membawa berkah bisnisnya berkembang pesat,

Berkat keuntungan yang dipetiknya di Bumi Nusantara, nyatanya Lakshmi berhasil mengembangkan bisnis di empat benua. Tahun lalu, total pendapatan Arcelor Mittal mencapai USS 58,8 miliar, dengan keuntungan bersih USS 5,4 miliar. Agar kerajaan bisnisnya terus berkembang, kabarnya, ia tak ragu menyiapkan dana pengembangan hingga US$ 120 miliar. Dahsyat.

Sumber : Trust Magazine, Page : 14

 Dilihat : 4454 kali