05 Oktober 2007
Dewan Sepakat Privatisasi Dilanjutkan

JAKARTA (Media): Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah menyepakati proses privatisasi PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia dilanjutkan pada akhir 2007.

Hal itu merupakan salah satu kesimpulan yang mengemuka dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di Gedung DPR, Rabu (3/10) malam.

Menurut Sofyan, pemerintah menyepakati proses privatisasi PT Krakatau Steel karena sudah waktunya perusahaan baja itu diprivatisasi. "Sangat relevan jika Krakatau Steel diprivatisasi karena rencana privatisasi Krakatau Steel kan sudah lama," kata Sofyan.

Menurut dia, bila sejak 1999 PT Krakatau Steel diprivatisasi, mungkin kapasitasnya sekarang bisa mencapai 20 juta ton. Namun, karena kondisi politik saat itu tidak memungkinkan, akhirnya proses privatisasi tertunda hingga sekarang. Meski begitu, ia meminta kepada DPR untuk memberikan waktu guna membahas harga jual terbaik dari proses privatisasi PT Krakatau Steel. "Kami setuju privatisasi Krakatau steel lebih cepat. Itu lebih baik. Tapi kan ada proses untuk mulai ini. Nah, proses ini akan segera kami lakukan jika waktu memungkinkan," ujarnya.

Mengenai privatisasi Garuda Indonesia, Sofyan mengungkapkan, hingga kini belum bisa memulai proses privatisasi karena perusahaan penerbangan domestik nomor satu di Indonesia itu sedang menyelesaikan masalah yang sangat krusial terkait dengan utang export credit agency (ECA). Dengan demikian, Sofyan meminta privatisasi Garuda harus ditunda. Pasalnya, jika divestasi Garuda dilakukan saat ini, posisi pemerintah tidak akan diuntungkan dengan hal tersebut.

"Keputusan politik pada hari ini akan memengaruhi persoalan kita dengan ECA. Oleh sebab itu, kita prinsipnya akan kantongi dulu izinnya," katanya.

Pada 2007, pemerintah menargetkan 15 BUMN yang akan diprivatisasi. Sebelumnya, sudah ada tiga BUMN yang mendapatkan persetujuan untuk diprivatisasi.

(Sumber: Media Indonesia - 05 Oktober 2007)

 Dilihat : 2951 kali