17 Mei 2008
Wapres Kecewa dengan Kinerja Ekspansi KS

JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi menegaskan, pemerintah mengaku kecewa dengan kinerja perluasan kapasitas (ekspansi) BUMN baja, PT Krakatau Steel (KS), di Kalimantan. Proyek ekspansi yang direncanakan KS untuk meningkatkan kapasitas produksi perseroan berjalan lamban, sedangkan Indonesia dihadapkan pada melonjaknya konsumsi baja di pasar domestik.

"Pemerintah ingin kembal mengingatkan (manajemen) KS bahwa KS sudah berjanj kepada Wapres (Wakil Pre siden Jusuf Kalla) untuk meningkatkan dua kali lipat kapasitas produksinya di Kalimantan. Tapi sudah dua tahun hingga saat ini belum terlihat realisasi yang signifikan," kata Lutfi kepada pers di Jakarta, kemarin.

Karena itu, menurut dia, pemerintah mendorong opsi strategic sale dalam privatisasi KS agar ekspansi BUMN itu berjalan lebih cepat.

Sejumlah investor baja global seperti Arcelor Mittal, Tata Steel, Essar Steel, dan BlueScope International telah menyatakan keseriusannya menjalin kerja sama dengan perusahaan pelat merah itu. Menanggapi hal itu, Komisaris Utama KS Taufiequrrahman Ruki tidak mau berkomentar tentang tudingan berlarutnya penyelesaian sejumlah rencaha ekspansi perseroan sehingga mengundang kekecewaan sejumlah pihak di pemerintahan. Ruki hanya menjawab, "No comment (tidak ada komentar)."

Dalam kajian pemerintah, problem KS bukanlah terkait dengan keuangan tapi tingkat produktivitas selama beroperasi 30 tahun hanya berproduksi 2,5 juta ton. Selain itu, KS tidak mampu memasok baja jenis khusus selama 30 tahun berproduksi. "Contohnya baja untuk pelat mobil masih diimpor selama 30 tahun. Padahal, itu gampang bin gampang dibuat KS," tutur Menteri Perindustrian Fahmi Idris, beberapa waktu lalu.

Lutfi menambahkan, selain akibat lemahnya realisasi ekspansi, pemerintah menilai KS selama ini dipermainkan oleh pemasok bahan baku baja global, berupa bijih besi. "Jujur saja, KS itu selalu dimainkan oleh penyedia bahan baku iron ore dari tiga perusahaan yakni CVRD (Ciom-panhia Vale do Rio Doce) dari Brasil, yang punya Rio Pintodan BHP Billiton. Mereka ini penyedia iron ore terbesar di dunia," tuturnya.

Sebagai produsen baja berkapasitas kecil di tingkat global, menurut dia, KS tidak mampu menguasai bahan baku bijih besi yang memiliki standar ferro (FE) memadai (60-65%), sementara bijih besi di Indonesia rerata memiliki kadar FE hanya 40%.

Produsen baja global seperti ArcelorMittal, lanjutnya, mampu menguasai bahan baku tersebut karena memiliki kemampuan finansial yang memadai. "Sering kali KS membeli pellet lebih mahal dari harga produknya. Untuk menghindari lingkaran setan ini, KS memerlukan pemain dunia supaya bisa independen dari sisi bahan baku," katanya.

Lutfi membantah tudingan miring terkait dengan sepak terjang Mittal yang hanya berperan sebagai financial investor, bukan industriawan. Mittal justru menguasai seperempat bahan baku baja di industri otomotif, (dry)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 13 

 Dilihat : 3068 kali