14 Mei 2008
Privatisasi Krakatau Steel Terancam Batal

JAKARTA; Pemerintah mengisyaratkan privatisasi PT Krakatau Steel kemungkinan akan dibekukan sementara waktu pada tahun ini, menyusul terjadinya penolakan keras dari manajemen KS atas privatisasi melalui pola strategic sale (SS) yang diusung pemerintah.

"Pada prinsipnya pemerintah belum memutuskan apapun terkait dengan privatisasi KS dan masih mengakomodasi semua masukan dari berbagai elemen masyarakat atas perkembangan yang terjadi. Tapi, kalau polemik ini terus berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan akan ditunda sementara waktu," kata sumber Bisnis di Kementrian BUMN.

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Demokrat, Azam Azman Natawijaya, mengatakan sebaiknya pemerintah menunda proses privatisasi KS pada tahun ini mengingat situasi ekonomi global dan internal yang tidak kondusif.

Pemerintah, katanya, harus bisa menyerap aspirasi rakyat untuk mengambil kebijakan searif mungkin. "Jangan sampai rakyat dan bangsa ini dirugikan. Sebaiknya pemerintah cooling down dulu. Beban negara ini sudah cukup berat menghadapi lonjakan harga minyak. Jangan dibikin kacau lagi dengan aneka kontroversi. Tahun depan masih ada waktu," kata Azam, saat dikonfirmasi Bisnis. Komisaris Utama KS Taufiqurrahman Ruki mengatakan jika rencana privatisasi KS ditunda secara otomatis penggalangan dana melalui pola IPO untuk ekspansi US$400 juta tidak dilanjutkan. Namun, katanya, rencana ekspansi tetap diteruskan dengan mencari sumber pendanaan lain.

"Kalau keputusan privatisasi KS baik SS dan IPO ditolak, kami masih bisa mencari dana lewat bridging finance. Perbankan asing dan domestik seperti Mandiri, BRI, HSBC, siap mendukung pembiayaan. KS masih bisa utang Rp11 triliun dan tak pernah gagal bayar," kata Ruki seusai Diskusi Menolak Strategic Sale KS, di DPR, kemarin.

Jika tidak berekspansi, lanjutnya, kapasitas produksi KS hanya bisa bertahan di kisaran 60%-70% dari total kapasitas terpasang, sementara ekspansi bisa meningkatkan produksi menjadi 5 juta ton pada 2011.

"KS sudah menjajaki kerja sama dengan pihak China Nickel [China Nickel Holding Co/produsen baja China yang berinvestasi di Kalsel] untuk meningkatkan produksi baja dan bahan baku nikel. Kami tidak menolak masuknya investasi asing di sektor baja, tapi kalau ada pihak yang ingin mengincar saham KS silakan melalui IPO," tegasnya.

sumber : Bisnis Indonesia

 Dilihat : 2919 kali