14 Mei 2008
Privatisasi Krakatau Steel Bukan Pilihan

Jakarta - Komisaris Utama PT Krakatau Steel (KS) Taufiequrachman Ruki mengatakan privatisasi KS bukan semata masalah keuangan, tetapi untuk meningkatkan kapasitas kebutuhan produksi baja dalam negeri. Sehingga KS membutuhkan investasi dari berbagai pihak, namun bukan berarti privatisasi menjadi pilihan utama.

"Kebutuhan modal investasi KS sebenarnya hanya Rp 1 triliun itu sudah cukup, buat apa uang sebesar itu jika KS di privatisasikan," ungkap Taufiequrachman, usai acara diskusi publik Menolak Strategic Sale Krakatau Steel di Gedung Nusantara V, DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (13/5).

Opsi privatisasi yang bisa diterima melalui penawaran saham perdana pada publik (IPO) yang dianggap lebih cocok, karena lebih transparan. Namun yang disayangkan ada pihak yang menghendaki privatisasi ke arah opsi mitra strategis (strategic sales).

"Opsi ini yang tidak bisa diterima, ujar dia. Dikhawatirkan, skema opsi mitra strategis (startegic sales) yang tawarkan pemerintah hanya akan menguntungkan pihak asing. Setidaknya itu yang teriihat sewaktu privatisasi PT Indosat Tbk yang pemilikan sahamnya dikuasai Sing Tel (Singapura). Akibatnya, penerimaan pajak dari pemerintah kecil sekali. Hal ini tentunya merugikan negara.

Selain itu, konseliensi logisnya industri baja nasional dikendalikan asing, dengan demikian asing akan menngendalikan harga -harga Industri baja nasional.

Oleh karena itu, Taufiqurachman pun memperanyakan pihak lain ngotot memaksakan opsi mitra strategis. Padahal dengan IPO saja uang yang diperlukan sudah cukup untuk meningkatkan produksi sampai 5 juta ton, dengan IPO saham KS bisa ditutup anak negeri sendiri, dengan strategic sales maka asing yang berperan mengendalikan KS.

Hal senada juga dikatakan pengamat ekonomi Iman Sugema, industri baja yang merupakan industri strategis tidak boleh jatuh ke tangan pemodal asing. Strategic sales akan merugikan negara, dimana penerimaain pajak akan turun karena adanya manipulasi keuangan perusahaan yang dikuasai asing. Disamping itu mitra strategis ini justeru akan mematikan perkembangan usaha swasta nasional.

"Saya berpikir tidak baik kalau industri strategis dikuasai asing, contohnya kayak Indosat seperti apa, jadi kita harus mencegah hal ini terjadi lagi," ujarnya

Iman menambahkan dari keempat perusahaan asing Arcelor-Mittal, Blue-scope. Tata Steel dan Essar, yang berminat membeli saham KS belum diketahui prestasi dalam pengembangan investasi Industri baja di negara lain.

"Patut dipertanyakan apakah di saat asing menguasai KS dapat memberi jaminan perkembangan industri baja nasional," ujar dia.

Perusahaan baja dari India ini memang dikenal sebagai perusahaan yang gemar ekspansi mengakuisisi atau membeli saham perusahaan dari negara lain yang sedang membutuhkan dana segar. Jika Mittal masuk akan banyak sekali terjadi efisiensi karyawan, dan ini yang menjadi ketakutan bagi mereka.

Menurut Iman jika KS membutuhkan dana segar melalui IPO untuk saat ini kurang tepat, sebaiknya menunggu momentum yang tepat disaat kondisi pasar sedang membaik. Untuk mendapatkan suntikan dana tidak harus melalui IPO bisa saja KS meminta pinjaman dari perbankan lokal. "Ada pihak yang menghendaki KS dikuasai asing," ujar Iman.

Kinerja l

Target keuntungan PT Krakatau Steel (KS) pada 2008 akan dinaikkan. KS akan merevisinya menjadi Rp850 miliar. Pasalnya, keuntungan KS hingga saat ini mencapai Rp411 miliar, atau hampir mendekati target keuntungan pada akhir tahun yang dipatok sebesar Rp430 miliar.

"Kalau akhir Mei bisa mencapai Rp433 miliar, berarti akan ada revisi target keuntungan menjadi Rp850 miliar. Target keuntungan Rp1 triilun bisa ada," kata Taufiqurrahman Ruki,

Pada awal Mei, posisi saldo kas KS mencapai Rp1,2 triilun. Piutang yang berasal dari luar negeri sebesar Rp2,2 triilun.

"Dengan angka Ini, berarti KS masih sehat," pungkasnya.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 3 

 Dilihat : 2848 kali