14 Mei 2008
DPR Didesak Tolak Penjualan Krakatau Steel

JAKARTA - Berbagai kalangan terus mendesak DPR menolak rencana pemerintah untuk melakukan privatisasi BUMN baja, PT Krakatau Steel (KS), melalui skema strategic sale (SS) kepada Arcelor Mittal.

Kesepakatan penolakan itu disampaikan antara lain oleh Komite Nasional Penyelamat Industri Strategis (Konpis), Serikat Karyawan KS, Ikatan Alumni Fakultas Teknik UI, Institute for Development of Economics and Finance aNDEF), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia, Pehimpunan Jurnalis Indonesia, Koalisi Anti Utang, dan Komite Bangkit Indonesia.

"Kami minta DPR tidak buta dan tuli membiarkan rencana ini dijalankan. Potensi pengembangan dan peluang bisnis KS masih sangat besar," kata anggota DPD Marwan Batubara pada diskusi publik bertema Menolak Strategic Sales PT Krakatau Steel di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (13/5).

Rencana privatisasi KS dilakukan pemerintah dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas produksi BUMN baja itu dari 2,5 juta ton saat ini menjadi 8-10 juta ton per tahun pada 2011. Alasan pemerintah lainnya adalah kinerja PT KS dinilai tidak optimal dalam memenuhi kebutuhan baja nasional sehingga Indonesia bergantung pada baja impor.

Menurut Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Zulkiflimansyah, pemerintah juga bertanggung jawab dalam menentukan pengembangan industri baja nasional. "Selain dibutuhkan dukungan dana investasi yang besar, juga diperlukan komitmen pemerintah untuk melindungi keberadaan industri baja nasional agar terhindar dari persaingan yang tidak sehat," paparnya.

Dia berpendapat, masuknya perusahaan multinasional asing untuk mengakuisisi KS justru berpotensi merugikan negara. "Jika direalisasikan, rencana itu hanya akan memindahkan monopoli pemerintah kepada monopoli swasta dalam struktur industri baja nasional," tegasnya.

Menurut Zulkiflimansyah, pemerintah dinilai tidak melakukan perhitungan yang matang saat menyatakan kondisi KS tidak maksimal, termasuk kinerja keuangannya yang kurang solid. Selain itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi pasar keuangan dan pasar modal yang performanya sedang tidak baik, (sis)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 3216 kali