14 Mei 2008
Penolakan Strategic Sales Krakatau Steel Menguat - Pemerintah bisa menunda IPO sampai pasar saham membaik.

PENOLAKAN privatisasi PT Krakatau Steel melalui mekanisme kemitraan strategis (strategic sales) makin menguat. Komisaris Utama KS, Taufiequrachman Ruki mengatakan, mengherankan jika ada pihak yang begitu ngotot memaksakan strategic sales sebagai pilihan. KS tidak memilih opsi itu. "Heran, ada apa di balik ini semua? Kalau memang strategic sales dianggap pilihan terbaik, kita siap adu wacana," katanya dalam diskusi publik Menolak Strategic Sales PT Krakatau Steel di Gedung MPR/DPR-RI di Jakarta, Selasa (13/5).

Sudah ada empat investor asing yang jadi peminat KS, yakni Arcelor Mittal, Bluescope Steel Limited International, Essar Steel Limited, dan Tata Steel Limited. Namun yang terkesan paling getol, Mittal. Melihat aksinya yang bertemu langsung dengan Presiden pada 10 April 2008 untuk menawarkan investasi. Ini menimbulkan kesan seolah-olah pemerintah memberi lampu hijau kepada investor asing berinvestasi di KS, khususnya Arcelor Mittal.

Penjualan KS akan mengancam kepentingan ekonomi nasional masa mendatang. Sebab, peran industri baja sangat strategis dalam pembangunan infrastruktur nasional, termasuk pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Dia mengatakan, rekam jejak Arcelor Mittal di belahan dunia lain terbukti sangat buruk dan menuai protes. Kebijakan Mittal kerap mengorbankan kesejahteraan karyawan melalui pemotongan gaji dan pemecatan massal. Selain itu, perusahaan baja yang didirikan Mittal 30 tahun lalu, PT Ispat Indo di Sidoarjo Jawa Timur juga tak dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap industri baja nasional. Jadi, masuknya Mittal dianggap tidak membawa perbaikan KS sama sekali, malah merugikan bangsa secara keseluruhan.

Ekonom Iman Sugema menegaskan, jangan sampai industri ini jatuh ke tangan asing, karena merugikan bangsa sendiri. "Gimana mau strategis kalau dikuasai asing, lihat aja kasus Indosat," ujarnya.

Jika alasan pemerintah menggandeng mitra asing demi mengembangkan usaha, belum tentu berhasil. Berkaca kasus privatisasi Jakarta International Container Terminal (JICT). Mekanisme paling aman untuk privatisasi KS, adalah penawaran saham perdana (initial public offering/lPO).

Kini pasar sedang lesu. Namun, bukan berarti pemerintah bisa memaksakan kehendak memilih strategic sales. Pemerintah dapat menunda IPO sampai pasar saham kembali sehat. "Alternatif lain mengembangkan usaha KS melalui pinjaman ke bank, jika IPO saat ini tak memungkinkan," ucapnya.

Anggota Dewan Perwakilan-Daerah Marwan Batubara dan Anggota DPR RI Zulkiflimansyah mengatakan hal serupa.

Marwan mengatakan, opsi strategic sales tidak transparan dan rawan KKN serta kebohongan publik. "Kita tidak menuduh, tapi inilah yang dilakukan. Misalnya, dulu Laksamana Sukardi mengatakan bisnis Indosat adalah bisnis yang sunset, artinya sudah akan tenggelam. Nah, saat itu, pelanggan Indosat divisi seluler itu sekitar 2,8 juta. Sekarang, sudah 15 juta lebih. Bagaimana bisa dia mengatakan ini sunset kalau bukan untuk kebohongan public," ujar Marwan.

Bahkan, opsi ini sarat kepentingan politik partai tertentu buat mendapatkan dana menjelang Pemilu 2009. "Kami harap DPR dan pemerintah tidak tuli dan bisu melihat hal ini. Jangan jadikan ini sebagai kendaraan mengumpulkan dana pemilu. Ini sangat politis," katanya.

Zulkiflimansyah menyebutkan, strategic sales bukan opsi terbaik karena tidak dipersiapkan matang. Jika alasan transfer teknologi, sangat tidak masuk akal. "Itu alasan yang sangat nggak logis. Apalagi jika Mittal yang masuk. Mittal bukan perusahaan yang dikenal dengan kekuatan teknologinya."

Ketua Masyarakat Profesional Madani, Ismed Hasan Putro mengungkapkan, strategic sales ini skenario yang sudah disiapkan sejak jauh hari. "Pemerintah kelihatan condong memilih strategic sales karena sudah ada transaksi, makelar, dan deal tertentu. Ini hanya mengulur-ulur waktu. Semuanya demi memenuhi kebutuhan 2009," katanya.

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 3

 

 Dilihat : 4179 kali