14 Mei 2008
Krakatau Steel Akan Hitung Kembali Aset - Mitra strategis dinilai tak membawa manfaat

JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) akan menghitung kembali nilai (reevaluasi) aset-aset perusahaan baja nasional itu. Penghitungan kembali ini dianggap penting dalam persiapan menghadapi privatisasi. "Dengan adanya reevaluasi, dapat diketahui nilai sebenarnya aset Krakatau," ujar Komisaris Utama Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki kepada Tempo kemarin.

Menurut dia, manajemen akan melakukan tender untuk memilih konsultan keuangan yang akan melakukan penilaian. Saat ini aset Krakatau yang tercatat Rp 11 triliun. Investasi pemerintah pada 34 tahun lalu di perusahaan baja itu US$ 2,5 miliar dengan nilai tukar Rp 450 per 1 US$.

Menurut Ruki, dari hasil reevaluasi nantinya, mungkin ada peningkatan aset, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik (tangible dan intangible). "Apalagi dilihat dari posisi pasar perusahaan," ujarnya.

Penghitungan aset kembali ini, kata dia, penting untuk menghadapi persiapan penawaran perdana saham (initial puiblic offering/lPO). Hingga kini, pemerintah cenderung mengambil opsi menggandeng mitra strategis. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan bersama Dewan Perwakilan Rakyat.

Anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat, Zulkieflimansyah, mengatakan alih teknologi tak akan pernah terjadi dalam proses penjualan ke mitra strategis dengan mitra asing. "Teknologi itu sesuatu rasa yang mengakar pada pikiran orang, tak mudah ditransfer," ujarnya.

Dia mengatakan Krakatau merupakan aset negara yang berperan strategis dalam menentukan perkembangan industrialisasi di Tanah Air. "Pemerintah harus tetap mengontrol. Krakatau strategis sebagai pemasok bahan baku untuk industri perkakas," katanya.

Di tempat terpisah, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai skema strategic sale Krakatau Steel dapat menghambat perkembangan usaha. Ekonom Indef, Iman Sugema, menyatakan, secara empiris, pola strategic sale justru akan mengenalkan industri itu sendiri. "Karena selama bersinergi dengan pesaing tidak akan ada manfaatnya," ujarnya.

Dia menyangsikan kemungkinan adanya transfer teknologi dari investor asing dalam transaksi ini. Sebab, umumnya negara lain selalu berusaha merebut teknologi. "Jadi, untuk mengembangkan teknologi sendiri, Krakatau Steel harus berdiri di atas kaki sendiri," ujar Iman.

Menurut dia, persoalan seperti ini sudah sering terjadi dalam privatisasi badan usaha milik negara. "Contohnya kasus penjualan Jakarta International Container Terminal dan PT Indosat Tbk.," kata dia.

Sumber : Koran Tempo, Page : B3 

 Dilihat : 3013 kali