14 Mei 2008
Proyek Pemerintah Masih Didikte Asing

[JAKARTA] Proyek-proyek pemerintah masih sering kali didikte oleh asing, terutama negara pendonor untuk proyek tersebut. Bukan hanya konsultan yang harus didatangkan dari negara yang bersangkutan, namun juga komponen fisik proyek, sering kali ditentukan oleh negara pendonor.

"Akibatnya, komponen yang digunakan sering kali bukan yang terbaik," kata Win Gasa Simbolon, Direktur Utama PT Manna Raya, distributor produk-produk Ebro Armaturen asal Jerman, kepada SP di Jakarta, Selasa (13/5).

Pengusaha yang sudah puluhan tahun menekuni proyek-proyek PAM di seluruh Indonesia itu mengatakan, salah satu yang selama ini terabaikan adalah kualitas valve atau penyambung antardua pipa, yang juga bisa menjadi pengatur aliran (katup) yang biasa digunakan mengatur aliran gas, bahan kimia, air, bahan makanan, atau minyak melalui pipa.

Dia piihatin karena pola pikir membeli dengan harga murah, tetapi tak peduli pada umur pemakaian, masih dianut oleh Indonesia. "Padahal, kebocoran teknis gas, air, dan sebagainya, terutama karena penggunaan valve yang tidak baik kualitasnya," ujar Win Gasa.

Di pasaran, lyar Win Gasa, banyak beredar valve dengan berbagai kualitas, seperti produk dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Korea, dan Thailand. "Tak sedikit valve berstandar internasional, namun dengan harga bersaing, seperti produk Ebro Armaturen dari Jerman," katanya.

Penggunaan komponen fisik yang berkualitas, menjadi salah satu tanggung jawab pelaku pembangunan. "Ini menjadi moral obligation dalam pembangunan Indonesia," katanya. Dia prihatin, karena penggunaan valve dalam proyek-proyek fisik di lingkungan BUMN di Indonesia, seperti PLN, Pertamina, Antam, PN Gas, dan sebagainya, masih American minded. Atau mereka menggunakan produk lain dengan harga yang lebih murah, tanpa mempertimbangkan usia pemakaiannya.

"Padahal, ada produk dari Jerman yang usia pemakainnya bisa sampai 30 tahun, dibanding yang lain hanya rata-rata 20 tahun. Namun, kami belum bisa menembus proyek-proyek BUMN tersebut karena tidak terkait dengan negara pendonor," katanya.

Sementai-a itu, Wedy Yuli-ni. Marketing PT Ebro Armaturen Indonesia, distributor tunggal produk Jerman tersebut di hidonesia, mengatakan, produk valve Ebro kini menguasai 40 persen pangsa pasal- di pabrik-pabrik di hidonesia. "PT Krakatau Steel kini menggunakan produk Ebro. Mereka pesan langsung dari Jerman. Ebro Armaturen sendiri sudah berdiri sejak tahun 1972 lalu, dan sudah mendunia," katanya. [N-6]

Sumber : Suara Pembaruan, Page : 15 

 Dilihat : 3541 kali