13 Mei 2008
Dewi Handayani, Manajer di PT Krakatau Steel

Mencitakan KS sebagai National Power Meski lahir di Jakarta, tapi ia tak suka kehidupan kota besar.

JIKA teman-teman kuliahnya kepincut dengan daya tarik kota metropolitan, tidak demikian dengan Dewi Handayani. Ingar bingar kota besar tetap tak menawan baginya. Ia lebih senang hidup di kota kecil yang tenteram dan nyaman. Prinsip yang dipegangnya adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai profesionalisme walau di kota kecil sekalipun.

Ia menganggap, keberhasilan mengembangkan potensi daerah tidak hanya berdampak bagi pembangunan daerah itu saja tapi juga bermanfaat untuk Indonesia secara keseluruhan. Keinginan Dewi untuk menjadi bagian dari orang yang mengembangkan potensi daerah, menjadi salah satu alasan untuk memutuskan bekerja di PT Krakatau Steel (KS) yang bertempat di Cilegon, Banten.

"Saat itu teman-teman ingin kerja di kota-kota besar, saya malah nggak tertarik. Waktu itu, kalau ditempatkan di Kalimantan atau daerah-daerah kecil lainnya saya lebih suka," katanya saat dihubungi Antarini Vellandrie dari Jurnal Nasional di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lulusan psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1988 ini memulai kariernya di KS sejak tahun 1989. Sebelum bekerja di KS, Dewi sempat terjun di dunia penelitian dan perusahatin baja swasta yang bergerak di hilir.

Ia juga sempat diterima kerja di perusahaan BlMN lainnya. Namun, karena ingin menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dalam dunia industri, akhirna ia memilih KS sebagai pelabuhan intelektualnya. Selain itu, dengan status KS sebagai BUMN, ia melihat itu sebagai kesempatan buatnya untuk menjadi bagian dari pengembangan perusahaan yang berorientasi untuk kepentingan nasional.

Hampir 20 tahun ibu satu putra ini berkecimpung di dunia industri baja. Berbagai bidang pekerjaan pernah dicicipinya, dan semuanya terkait dengan Human Resources Development (HRD) yang sesuai dengan disiplin ilmunya. Bidang-bidang tugas yang pernah ditangani antara lain kepersonaliaan, organisasi dan sistem, infrastruktur pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan saat ini ia mengelola Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) KS.

Meski Manajer Perencanaan Administrasi Diklat KS baru dijabatnya sejak awal tahun ini, tapi itu bukanlah hal baru baginya. Ia sudah sering diminta mengajar dan mentransfer ilmu pengetahuan, sehingga dunia diklat sudah tak asing baginya. Kalau sebelumnya Dewi lebih banyak merancang bentuk organisasi dan sistem manajemennya, sekarang Dewi lebih banyak merancang program pelatihan dan pendidikan buat karyawan.

Saat ini, selain memberi pelatihan ia dan timnya sedang merintis program knowledge management yang sudah dimulai sejak januari lalu. Program ini nantinya akan merekam jejak pengetahuan dan skill yang sudah dimiliki karyawan. Sehingga nantinya ada database terpadu yang dapat dijadikan acuan untuk melihat dan mengembangkan pengetahuan ke depannya.

"Saya bekerja sama dengan bagian information technology (IT) untuk merekam dalam bentuk soft copy data tentang pengetahuan yang sudah dimiliki karyawan. Sehingga kita jadi tahu, apa lagi yang harus diberikan untuk memperkaya dan mengembangkan kemampuan masing-masing karyawan. Atau, karyawan yang sudah ada pengetahuan tertentu dapat men-share-nya ke rekan-rekan lainnya," kata Dewi.

Berbagai suka duka berkarier di dunia kerja yang didominasi laki-laki dirasakannya. Tapi wanita kelahiran 45 tahun lalu ini menikmatinya sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Ia mengaku lebih banyak merasakan suka dalam pekerjaannya di banding duka. Apalagi jika dapat menghasilkan suatu karya ataupun ide yang dapat diimplementasikan dan bermanfaat bagi perusahaan dan karyawan, ia merasa sangat bahagia. Sebaliknya, ia merasa sedih jika tak mampu mengorganisirkan ide-idenya yang sebenarnya bermanfaat untuk perusahaan.

Tantangan yang dirasakarmya lebih kepada lingkungan pekerjaan yang mayoritasnya adalah pria. Sehingga ia lebih banyak belajar bagaimana memahami psikologis mereka dengan kondisi kerja yang memang tak mudah. Menurutnya, memang tak begitu mudah bekerja di lingkungan pria yang bidang pekerjaannya sebagian besar di hal-hal teknik. Ia harus belajar mengkomunikasikan ide-idenya agar dapat diterima semua pihak.

Menurut Dewi, KS punya potensi besar untuk maju dan berkembang di masa mendatang. Tak kalah dari perusahaan lainnya. Sesuai bidang dan ke-ahliannya di HRD, Dewi melihat secara kualitas SDM, perusahaan baja pertama di Indonesia ini sangat mumpuni dan tak tertinggal dari perusahaan sejenis. Maju tidaknya perusahaan salah satunya ditentukan oleh SDM.

"Cita-cita kami KS adalah menjadi national power Apalagi para pendiri KS dulu berharap agar perusahaan ini menjadi industri baja terpadu. Bagaimana-pun, industri baja merupakan salah satu elemen penting untuk percepatan pembangunan suatu negara," ungkapnya.

Dewi menyadari, untuk menjadi perusahaan baja yang kuat KS memang tidak bisa berdiri sendiri. Ia berharap semua pihak dapat menyokong KS untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Walaupun keinginan tersebut belum tercapai. Dewi sudah melihat ada upaya ke arah sana yang sudah dilakukan KS secara konsisten.

Sesuai bidangnya, untuk mewujudkan hal tersebut upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana mencari dan menjaring orang-orang berkualitas yang akan masuk ke KS. Kedua, bagaimana SDM yang berpotensi tersebut mampu membangun sinergi yang baik untuk optimalisasi kerja demi kemajuan perusahaan. Tidak bersikap demi kepentingan individu semata. Ketiga, bagaimana meningkatkan kualitas pengetahuan karyawan yang sudah ada. Keempat, adalah bagaimana proses regenerasi dapat terus berjalan dan tidak mengalami penurunan kualitas antar generasi pekerja.

Masa Kecil

Meski dilahirkan di Jakarta, masa kecil Dewi banyak dihabiskan di Probolinggo, Jawa Timur. Tinggal di kota yang tenang itulah yang membuat Dewi tak betah jika harus menetap di daerah yang crowded. Tumbuh di kota yang terkenal sebagai penghasil mangga, ternyata membawa kenangan tersendiri untuknya. Ia senang sekali  dapat menikmati buah mangga sepuas-puasnya.

Awalnya anak sulung dari enam bersaudara ini tak bercita-cita terjun kerja yang terkait ilmu psikologi. Dewi kecil dulunya bermimpi bisa menjadi seorang koreografer tari. Keinginan itu dipupuknya sejak SD sampai SMU. Ketika itu, Dewi sangat hobi menari. Ia bahkan sempat ikut sanggar tari. Ia kagum dengan kemampuan seorang koreografer yang dapat menata gerak tari dan penampilan penari di atas panggung sehingga terlihat indah secara keseluruhan.

Namun, seiring waktu Dewi mengalami perubahan orientasi cita-cita. Ia mulai menyukai dunia psikologi ketika salah seorang omnya membawa majalah psikologi. Ketika itu merasa psikologi begitu menawan dengan kemampuan memahami psikologis seseorang. Sejak itulah Dewi mulai mencari-cari informasi tentang psikologi.

Walau ketika kuliah ia sudah tak berniat menjadi seorang koreografer, kegiatan tari masih ditekuninya hingga menjelang lulus. Semasa kuliah ia juga aktif di unit kegiatan tari. Baginya, tari tak sekadar hobi, karena mengajarkannya filosofi hidup. Ketika menari ia membayangkan apa yang dipikirkan orang lain kalau ia berdiri di tempat tertentu atau melakukan gerakan tertentu. Itu mengajarkannya memahami psikologis orang lain, yakni dengan belajar memahami apa yang orang lain rasakan dengan prilaku yang ia lakukan.

Sayangnya, saat ini hobi menari itu tak lagi dilanjutkan. Kini Dewi lebih tertarik pada dunia seni lukis. Waktu luangnya selain dihabiskan buat bercengkerama dengan keluarga, juga digunakan buat melukis. Berbagai jenis lukisan dihasilkannya, meski ia menolak disebut sebagai seorang pelukis.

Kemampuannya melukis ia dapat secara otodidak. Dia tak pernah belajar pada siapapun. Terkadang, jika ada kesempatan dan sedang ada pameran lukisan, ia tak melewatkan kesempatan melihat-lihat lukisan karya orang lain.

Sekarang Dewi sedang suka melukis bunga. Wanita yang terkesan romantis dengan hobi-hobinya yang melo dan berbau seni ini ternyata juga hobi menyanyi. Katanya, darah seni itu menurun dari sang bunda yang juga hobi menyanyi, melukis, dan menjahit.

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 21 

 

 Dilihat : 5016 kali