13 Mei 2008
MENGAPA KRAKATAU DIBURU

Setidaknya ada lima alasan yang menyebabkan Krakatau Steel jadi obyek perburuan para produsen baja dunia.

1. Sumber Bahan Baku

Pasokan bahan baku bijih besi jadi masalah pokok Industri baja dunia. Apalagi bijih tesi hanya terkonsentrasi di tempat tertentu, seperti Brasil. Amerika Selatan. Australia. Cina, dan Uni Eropa. Kini, lewat bendera PT Meratus Jaya Iron a Steel. Krakatau tengah membangun pabrik bijih besi di Kalimantan Setalan dengan target produksi 1 juta ton per tahun.

2.Penguasa Pasar

Dari total kebutuhan baja domestik 6 juta ton. Krakatau Steel hanya memproduksi 2.5 juta per tahun atau 25-30 persen. Namun, untuk baja lembaran. Krakatau mendominasi 50-60 persen pangsa pasar Contohnya, dari konsumsi baja canai panas 2.9 juta ton tahun lalu, Krakatau memasok 1.1 juta ton. Padahal konsumsi baja Indonesia hanya 25-35 kilogram, lebih rendah ketimbang Vietnam, yang 75 kilogram par kapita.

3.Intrastruktur Memadai

Krakatau Steel memiliki 10 anak usaha terintegrasi. Ia punya Krakatau Bandara Samudera, pengelola pelabuhan Cigading di Cilegon, dengan kapasitas bongkar-muat 10 juta ton per tahun. Ia juga memiliki pembangkil listrik yang dikelola Krakatau Daya Listrik serta Krakatau Tirta Industri. yang mampu memasok sumber air 2.000 liter per detik.

4.Harga Baja Melonjak

Harga baja terus melonjak. Sementara pada 2001 harga baja canai panas masih USS 400 per ton. April lalu sudah naik menjadi USS 1.050 per ton Kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga bijh besi, lonjakan biaya transportasi karena melambungnya harga minyak dunia, serta konsumsi baja dunia yang tumbuh 6,8 persen pada 2008.

5.Obyek Vital Pertahanan

Krakatau memproduksi baja khusus, yakni Hardox 500, dengan komposisi kimia dan kekerasan tertentu untuk produk pertahanan-keamanan. Baja khusus ini dipesan oleh PT Pindad untuk pembuatan panser dan oleh PT PAL untuk kapal perang. Karena menjadi pemasok bahan baku persenjataan. Krakatau menjadi objek vital ke-10 yang harus drpertahankan.

Sumber :  Yulmiati Koran Tempo, Page : B1 

 Dilihat : 3191 kali