13 Mei 2008
Opsi Strategic Sales Selalu Ada - Sofyan: PT KS Sudah Harus Diprivatisasi 5 Tahun Lalu

Jakarta, Probisnis RM.Banyaknya desakan yang menentang rencana privatisasi PT Krakatau Steel (KS) melalui penjualan saham kepada mitra strategis (IPO) tidak menyurutkan niat pemerintah untuk tetap memilih Strategis Sales (SS) sebagai opsi terbaik.

Namun, opsi SS dalam program privatisasi PT KS bukan karena adanya unsur tekanan dari luar. Tapi opsi ini lebih kepada mekanisme yang ada.

"Setiap privatisasi BUMN, opsi strategis sales selalu ada. Jadi tidak benar jika opsi ini lebih kepada tekan pihak luar,* tegas Menneg BUMN, Sofyan Djalil usai penandatangan kerjasama antara PT Pertamina dan PTPN X di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Sofyan mengatakan, kondisi pasar modal di Indonesia maupun global saat ini sangat tidak memungkinkan bagi sebuah perusahaan untuk melakukan IPO. Karena itu, lanjutnya, yang justru harus diapresiasi adalah banyaknya penawar yang sudah mengajukan penawaran untuk menjadi mitra dalam skema SS.

Tapi, terkait opsi yang pasti akan dipakai. Sofyan mengaku belum bisa memastikan. Para investor itu harus berdiskusi terlebih dahulu dengan PT KS atas keinginannya berinvestasi di Indonesia.

"Berapa besar angka dan opsi yang dipakai, ya kita tunggu saja apa hasil diskusi dari mereka," kata Sofyan,

Ia juga menegaskan, saham yang ditawarkan Mittal ke PT KS bukan 49 persen. Mittal tidak pernah memaksa pemerintah melepas saham sebesar itu. "Berapa persen yang acceptable, apa term-nya itu harus didiskusikan lagi," Imbuhnya.

Executive Vice President Finance and M A Arcellor Mittal Sudhir MaheshWari sebelumnya mengatakan, pihaknya siap membeli saham PT KS maksimum 49 persen melalui mekanisme SS. Mittal juga telah menyiapkan dana sebesar 5-10 miliar dollar AS untuk berinvestasi di Indonesia .

Adanya beberapa pemikiran menunda privatisasi PT KS sembari menunggu membaiknya kondisi pasar modal, langsung dimentahkan bekas Menkominfo ini. "Ditunda sampai kapan? Proses ini hanjsnya dilakukan tiga atau lima tahun lalu," ujarnya.

Menurutnya, kelambanan manajemen BUMN dalam mengambil keputusan strategis tidak bisa lagi ditoleransi. Karena itu, dia memisalkan, jika ekspansi KS dilakukan sejak lima tahun lalu, maka angka produksi KS saat ini sudah bisa di atas 5 juta ton per tahun. "BUMN memang seringkali lamban. Ini harus diubah," katanya.

Meski mantap dengan opsi SS. Sofyan mengakui bahwa pihaknya tetap akan meminta pertimbangan DPR. Ditanya apakah ada tenggat waktu untuk memilih opsi privatisasi, Sofyan hanya menjawab singkat. "Sooner better (lebih cepat lebih baik, red)," tegasnya. FIK

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20 

 Dilihat : 2887 kali