12 Mei 2008
Empat Investor Asing Bersaing Kuasai KS

Jakarta - PT Krakatau Steel (KS) ibarat seorang gadis rupawan yang tengah matang-matangnya. Tak heran, kecantikan KS membuat sederet pangeran (baca investor) kelas dunia pun saling bersaing untuk dapat meminangnya. Maklum, dalam hitungan bisnis, prospek si rupawan ini sangat menggiurkan.

Tengok saja dari sisi pasar baja domestik. Saat ini, kebutuhan pasar baja lokal, disebut-sebut mencapai angka 11-12 juta ton pertahun. Padahal, kapasitas produksi dalam negeri hanya 2,4 juta. Selama ini, defisit yang nyaris 10 juta ton per tahun itu, dipenuhi melalui impor. Kondisi itu menyebabkan Indonesia hanya menjadi negara yang dibanjiri produk baja impor.

Sedangkan dari sisi bahan baku, Indonesia punya biji besi berlimpah. Sebut saja di sejumlah daerah di Kalimantan yang menyimpan cadangan tambang biji besi 600 juta ton dan cukup untuk memasok kebutuhan 20 tahun meski kualitasnya di bawah 50 persen. Nah, dengan mengakuisisi KS, peluang sang investor baru untuk menguasai pasar baja domestik sangat terbuka lagi, tak perlu heran jika banyak investor asing berlomba menguasai KS. Tercatat, empat investor baja kelas kakap, yaitu Archellor Mittal, Tata Steel, Blue Scope dan Essar juga telah mengungkapkan niatnya untuk membeli saham perusahaan baja terbesar di Indonesia ini.

Mittal disebut-sebut sebagai investor yang berpeluang paling besar untuk bisa meminang KS. Pasalnya, Mittal adalah produsen baja terbesar di dunia. Mereka menguasai 10 persen dari total perdagangan baja dunia, termasuk baja untuk sektor otomotif, rumah tangga, dan industri lainnya.

Total aset dan produksi raja baja dunia ini ibarat langit dengan bumi jika dibandingkan dengan KS. Total aset Mittal mencapai angka Rp 500 triliun dan kapasitas produksi 70 juta ton per tahun. Bandingkan dengan KS hanya beraset Rp 11 triliun dan kapasitas produksi 2,5 ton per tahun.

Dalam sejarahnya, bukan kali ini saja Mittal mengajukan niatnya kepada pemerintah untuk membeli KS. Tahun 1998, Tanri Abeng, pada 1998, Menteri BUMN kala itu, pernah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Lakshmi Mittal, pemiliki Mittal, untuk memulai proses penjualan saham KS kepada produsen baja itu hingga 51 persen. Awalnya isi nota itu sempat dirahasiakan. Ketika DPR mengetahui dan melakukan protes keras, pemerintah akhirnya membatalkan MOU dengan Mittal.

Demikain juga dengan Tata Produsen baja asal India ini adalah yang nomor enam terbesar di dunia dengan kapasitas produksi 28 juta ton per tahun. Pabriknya tersebar di 24 negara.

Sementara Bluescope juga tak kalah dahsyat Produsen baja dari Australia ini punya 114 pabrik baja di 17 negara. Tiga di antara yang besar dan terintegrasi ada di negeri Kangguru dengan kapasitas 5,1 juta ton per tahun. Di Selandia Baru 625 ribu ton per tahun dan di Ohio, AS, 1,7 juta ton per tahun.

Kini, bola panas memang ada di tangan pemerintah, sebagai "orang tua" dari KS, untuk memilih pinangan terbaik bagi sang anak. Hanya saja, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, di mana sang anak harus selalu tunduk pada perintah orang tua.

Apalagi selama ini manajemen KS, seperti disuarakan Komisaris KS Taufiequrrachman telah menyatakan ketidakmauannya atas kehadiran asing di pabrik baja pelat merah itu. "Kami akan tolak berapapun penawarannya Tapi kalau investasi, silahkan," ujar mantan Ketua KPK ini, usai mengikuti presentasi Mittal di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk itu, seperti kata Presiden SBY kala menerima manajemen Mittal, pemerintah seyogyanya mengkaji lagi dalam-dalam baik-buruknya pinangan dari asing. Apalagi pengalaman masa lalu terbukti, menerima pinangan tanpa kajian yang dalam hanya menimbulkan kontroversi berkepanjangan seperti kasus pelepasan saham PT Indosat kepada Temasek Holding Singapura.

Sumber ; Harian Ekonomi Neraca, Page : 1 

 Dilihat : 3616 kali