12 Mei 2008
PEREBUTAN KRAKATAU MAKIN KERAS - Para investor tidak hanya melobi pemerintah, tapi juga DPR, pengusaha, dan manajemen.

JAKARTA - Pertarungan sejumlah investor memperebutkan PT Krakatau Steel semakin keras. Berbagai upaya dilakukan agar berhasil mengakuisisi sebagian saham BUMN strategis tersebut

Berbagai informasi yang dihimpun Tempo menyebutkan upaya lobi tidak hanya dilakukan oleh ArcelorMittal, peminat lainnya, seperti Tata Steel, Essar Steel, dan BlueScope Steel Ltd, juga tak mau ketinggalan.

Mereka melakukan upaya-upaya serupa guna merebut Krakatau SteeL Lobi-lobi pun melebar, tidak hanya kepada pejabat pemerintah, tapi juga merangsek ke Dewan Perwakilan Rakyat, manajemen, hingga pengusaha Kamar Dagang dan Industri indonesia.

Lakshmi Mittal, Chief Executive Officer ArcelorMittal, dikenal paling agresif berusaha mewujudkan ambisinya membeli Krakatau. Ia tidak cuma menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tapi ia juga telah menugasi Executive Vice President ArcelorMittal Sudhir Maheshwari bertandang menemui Menteri Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil pekan lalu.

Menurut sumber di pemerintah, Mittal terlalu percaya diri. Mereka bukan hanya menjanjikan transfer teknologi, melainkan juga menawarkan investasi US$ 5-10 miliar. Saking ngebetnya, mereka berani menguasai hingga 49 persen, meski pemerintah hanya menetapkan maksimal 40 persen saham yang dijual lewat strategic sales.

Bagaimanapun, Mittal tidak hanya unggul sebagai produsen baja terbesar di dunia dengan produksi 117 ton pertahun. Mittal juga disokong oleh sejumlah orang yang memiliki akses langsung ke pemerintah, selain beberapa pejabat pemerintah.

ArcelorMittal pun siap-siap melobi DPR. "Kami siap menjelaskan agar DPR memahami rencana kami," kata Sudhir pekan lalu. Informasi yang beredar menyebutkan sejumlah anggota DPR sudah ada yang berlabuh ke Mittal.

Tidak hanya Mittal yang agresif. Sejumlah investor lain juga berupaya keras agar sukses merebut Krakatau Steel, produsen baja terbesar di Indonesia. Malah, menurut mantan Direktur Utama Krakatau Sutrisno, Mittal, Tata, dan BlueScope sudah pernah menyampaikan minatnya pada 2001-an.

Sekarang Tata Steel, produsen baja asal India lainnya, akan menemui Menteri BUMN guna menyampaikan proposal minat terhadap rencana privatisasi Krakatau. "Mereka (Tata Steel) baru mengatur waktu untuk bertemu minggu depan (minggu ini)," kata anggota Staf Khusus Menteri Negara BUMN, Alexander Rusli, Sabtu lalu.

Bahkan Tata Steel sesungguhnya sudah berjalan cukup jauh. Mereka telah melobi pejabat pemerintah sejak tahun lalu. "Ada surat yang dikirimkan ke direksi Krakatau lewat pejabat pemerintah berisi minat Tata atas Krakatau," ujar sumber Tempo.

Essar Steel juga dikabarkan mendekati sejumlah anggota Dewan. Pada Agustus 2007, beberapa anggota DPR diundang berkunjung ke India. "Sejak itu, mereka getol menolak penawaran saham perdana (IPO) dan mendorong strategic sales dalam pembahasan privatisasi," kata seorang pejabat pemerintah.

Menurut Ketua Panitia Kerja Privatisasi Komisi Keuangan DPR Asman Abnur, perjalanan anggota Dewan ke luar negeri itu hanya dalam kapasitas pribadi. "Itu hak pribadi, tak bisa dikaitkan dengan institusi," kata Asman.

Sebaliknya, BlueScope menempuh strategi lain. Sementara pemain baja asal India melobi pemerintah dan DPR, BlueScope, yang berasal dari Australia, malah merapat ke manajemen Krakatau. Alasannya, selain sudah bekerja sama, BlueScope memiliki kultur organisasi yang sama.

Komisaris Utama Taufiequrachman Ruki membantah adanya dukungan bagi BlueScope. Menurut dia, manajemen menolak segala bentuk mitra strategis. Pilihan terbaik adalah penjualan saham perdana."

Sumber ; Koran Tempo, Page : B1 

 Dilihat : 3505 kali