11 Mei 2008
Serius Menjaga Reputasi

SEBAGAI nama, BlueScope Steel, perusahaan baja asal Australia, baru terlahir pada 17 November 2003.Namun jika ditilik dari sejarahnya, perusahaan yang berkantor pusat di Melbourne itu sudah lahir 123 tahun lalu. Namanya kini ramai diberitakan pelbagai media setelah resmi melibatkan diri dalam persaingan dengan produsen baja dunia, ArcelorMittal,Tata Steel, dan Essar Steel, untuk meminang PT Krakatau Steel.

BlueScope Steel berdiri pada 1885 dengan nama The Broken Hill Proprietary Company Limited atau BHP sebagai perusahaan tambang yang beroperasi di New South Wales, Australia bagian barat.Tahun 1915 BHP pindah ke Newcastle dengan status produsen baja untuk memenuhi kebutuhan baja di Australia yang tengah giat membangun. BHP semakin berkembang setelah mengakuisisi dua produsen baja pribumi Australia, yaitu John Lysaght Pty Ltd pada 1935 dan Australian Iron Steel Limited pada 1979.

Selebihnya, salah satu kunci pertumbuhan bisnis BlueScope Steel adalah mengincar negara dengan aset tambang dan pasar besar. Hal ini menjadi dasar keputusan yang menjadikan Malaysia.Indonesia,Thailand, Vietnam, India, dan China sebagai basis produksinya. Di luar Asia, BlueScope memiliki basis produksi dan operasi yang besar di Australia dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, BlueScope Steel masuk pada 1973 dengan nama PT BHP Steel Indonesia dan langsung menjadi pemasok utama metallic coated dan prepainted cladding dan roofing accessories. Mereka dikenal sebagai produsen tunggal baja lapis seng atau aluminium dan baja lapis berwarna di Indonesia.

Di Indonesia, BlueScope Steel memiliki dua lini bisnis yang terpisah, yaitu antara PT BlueScope Steel Indonesia dan PT BlueScope Lysaght Indonesia. Keduanya berkelin dan untuk memenangi persaingan di pasar baja lokal dengan integrasi vertikal.

Reputasi

Salah satu kunci BlueScope untuk tetap eksis di bisnis baja adalah kemampuannya menjaga reputasi untuk tetap tumbuh dan berkembang. Mereka menjaga reputasi pada tiga produk utama, yaitu baja untuk memasok industri automotif, perumahan, dan gedung.

Di Australia, saat ini mereka masuk daftar 50 perusahaan "bersaham biru" di Australian Stock Exchange. Hal ini tidak lepas dari ekspansi dan menambah kapasitas produksi yang difokuskan di kawasan Asia Pasifik. Serangkaian akuisisi juga dilakukan untuk menembus pasar Amerika dan China.

Terhitung sejak delapan bulan yang lalu, BlueScope telah mengakuisisi tiga perusahaan untuk menopang strategi bisnis jangka panjangnya. Ketiganya adalah Smorgon Distribution Australia (Agustus 2007), HCI Steel Building Systems, INC (Oktober 2007), dan IMSA Steel Corp di Amerika Serikat (1 Februari 2008).

Managing Director and CEO Paul OMalley, pada Fourth Annual Goldman Sachs JB Were Australasian Investment Forum di New York, AS, 13-14 Maret 2008, mengungkapkan tiga strategi jangka panjang untuk menuai keuntungan. Strategi itu telah dicetuskan pada 29November 2007.

Pertama, reposisi di pasar Australia yang mulai jenuh dengan penguatan pada kepuasan konsumen, disertai penguatan pada inovasi jasa dan produk serta efisiensi. Kedua,meneruskan penetrasi pasar di Asia dan Amerika Utara dengan fokus pada pengembangan produk untuk kebutuhan sektor konstruksi ketiga,melakukan pelbagai evaluasi dari dua langkah sebelumnya.

Ketiga strategi itu sekaligus menjadi cetak biru bisnis BlueScope di masa mendatang sembari mencoba mengidentifikasikan diri kepada publik dengan tiga ciri utama. Ketiga ciri itu adalah keselamatan kerja, mendukung keberlanjutan, dan terus meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham.

Untuk ciri pertama, di Indonesia BlueScope pada 2003 memperoleh penghargaan dari Presiden RI dalam rangka program keselamatan kerja. Hal ini karena keberhasilannya selama mereka beroperasi selama 3.711.757 jam tanpa kecelakaan kerja.

Sumber : (muhammad maruf/ dari pelbagai sumber) Harian Seputar Indonesia, Page : 4

 

 Dilihat : 5668 kali