10 Mei 2008
Pilih Opsi Terbaik

PERUSAHAAN-pcrusahaan di Indonesia masih menjadi perburuan investor mancanegara. Kali ini, yang menjadi incaran adalah BUMN baja, PT Krakatau Steel (Persero). Sejauh ini, ada empat produsen baja terkemuka di dunia yang berniat menjadi investor strategis perusahaan pelat merah yang bermarkas di Cilegon, Jabar, itu.

Mereka adalah ArcelorMittal (India), BlueScope (Australia), Tata Steel (India), dan Essar (India). Dua yang disebut pertama pada Kamis (8/5) telah membeberkan visi dan misinya di hadapan Menteri BUMN Sofyan Djalil dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Intinya, mereka komit berinvestasi jangka panjang dan siap mengembangkan industri baja di tanah air.

Yang menjadi persoalan hingga kini adalah metode privatisasi saham Krakatau Steel (KS). Antar-petinggi negara belum satu suara. Ada yang bersikeras menggunakan strategic sales dan ada yang bersikukuh lewat penawaran umum perdana (initial public offering/lPO) di pasar modal. Pendapat parlemen juga terbelah.

Masing-masing metode memang memiliki plus minus. Kubu yang pro-strategic sales menilai skema tersebut lebih menguntungkan lantaran pendapatan negara bisa maksimal dan terjadi transfer teknologi. Selain itu, dampaknya ke produktivitas langsung terasa.

Kapasitas produksi KS bisa digenjot dari 2,5 juta ton per tahun menjadi 8-10 juta ton pada 2011. Sebuah peningkatan yang signifikan dalam tiga tahun. Kubu yang pro-IPO menilai privatisasi lewat pasar modal lebih baik lantaran kepemilikan sahamnya merata serta resistansi di tingkat manajemen dan karyawan nyaris tak ada.

Dana yang diraup pun tak sedikit dan bisa digunakan untuk ekspansi perseroan. Nilai plusnya lagi, pasar modal yang saat ini sedang dalam kondisi lesu darah bisa lebih bergairah lantaran kedatangan emiten baru yang potensial.

Terlepas dari metode apa yang digunakan, privatisasi BUMN sekelas Krakatau Steel memang mendesak dilakukan. Di tengah melonjaknya permintaan dan melambungnya harga baja dunia, KS justru terkesan ketinggalan kereta. Bagaimana tidak. Lebih dari 30 tahun berdiri, produktivitas KS stagnan di posisi 2,5 juta ton per tahun.

Jangankan bermain di tingkat global, memasok kebutuhan domestik saja yang rata-rata 5,5-6 juta ton per tahun masih keteteran. Padahal, produksi kompetitor di sejumlah negara sudah naik berkali-kali lipat dalam tempo yang lebih singkat.

Manajemen KS terlihat tak mampu membuat terobosan, terutama dalam pengadaan bahan baku yang mayoritas masih impor. Hal itu sungguh ironis lantaran di tanah air banyak tersedia sumber bijih besi. Kalau masih seperti itu, bagaimana bersaing dengan perusahaan baja dunia?

Selama ini, perusahaan baja dunia cenderung mengusung konsep terintegrasi dari hulu hingga ke hilir dalam bisnisnya. Hal tersebut belum dilakukan KS. Karena itu, sudah saatnya KS keluar dari zona nyaman dan segera berbenah bila tak ingin tergerus oleh persaingan.

Datangnya sejumlah investor yang berniat membeli saham KS bisa menjadi momentum untuk melakukan perubahan luar-dalam. Yang pasti, apa pun opsi yang diambil harus memberikan yang terbaik bagi Krakatau Steel.

Sumber : Indo Pos, Page : 4

 Dilihat : 3534 kali