10 Mei 2008
Depkeu Pola Privatisasi KS Harus Akuntabel - Pembahasan privatisasi KS masih berada di komite privatisasi Komisi Xl DPR.

JAKARTA - Departemen Keuangan (Depkeu) mengingatkan agar pilihan metode privatisasi PT Krakatau Steel (KS) harus merupakan pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. "Pilihan apapun harus bisa dipertanggungjawabkan secara baik, akuntabel, reliable (dapat dipercaya), transparan. Semua metode itu tentu saja ada plus-minusnya," kata Dirjen Kekayaan Negara Depkeu, Hadiyanto di Jakarta, Jumat (9/5).

Menurut dia, pemerintah dan DPR hingga saat ini belum memutuskan pilihan metode privatisasi KS apakah dengan strategic sale (penjualan strategis) ataupun penawaran saham perdana (IPO). "Kedua-duanya sedang dikaji, baik oleh manajemen, Kementerian BUMN maupun Depkeu agar diperoleh suatu metode yang reliable yang bisa dipertanggungjawabkan." Ia menyebutkan, soal privatisasi KS, pembahasannya hingga saat ini masih ada Panja Privatisasi Komisi XI DPR. "Hingga saat ini belum ada keputusan antara pilihan strategic sales atau IPO," katanya. Salah satu tujuan privatisasi, kata Hadiyanto, adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kinerja perusahaan melalui antara lain tambahan modal dan pengembangan usaha. "Nah tinggal untuk mencapai itu apakah melalui strategic sales atau IPO. Komisi XI DPR memberi kesempatan kepada pemerintah untuk mengkaji itu," katanya.

Menanggapi sudah santemya pembicaraan calon investor KS dari luar negeri. Hadiyanto mengatakan, prospek KS sangat bagus sehingga wajar saja jika banyak peminatnya termasuk asing. "Saya kira prospek KS bagus, potensinya bagus, demand masih tinggi, kemudian kapasitasnya juga relatif masih bisa meningkat, sehingga wajar saja jika peminatnya banyak," katanya. Sementara itu. Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, meminta investor baja dunia BlueScope International mendiskusikan rencana kerja sama secara lebih rinci dengan PT Krakatau Steel (KS) sebelum memberikan opsi kerjasama.

"Mereka harus bicara lebih detil dengan manajemen KS sehingga ada opsi-opsi dan nantinya dipilih yang terbaik," kata Sofyan Djalil, di Jakarta, Jumat. Ia mengatakan, paparan BlueScope di depan Meneg BUMN, Kamis (8/5) baru sebatas pernyataan minat untuk bekerja sama dengan KS. Perusahaan baja asal Australia itu belum memberikan opsi-opsi kerja sama seperti halnya rivalnya Arcelor-Mittal dalam kaitannya untuk mengajak kerja sama KS. "Kita baru mendengarkan minat mereka untuk bekerjasama dengan KS. Sampai sekarang intinya kita terbuka untuk siapa saja yang ingin bekerja sama dengan KS.

Biarkan mereka bicara detil dan nantinya kita pilih yang terbaik," katanya. Pada Kamis (8/5), Sofyan Djalil, dan manajemen KS menerima dua calon investor KS yaitu Mittal dan BlueScope yang ingin memaparkan proposal kerja sama dengan KS. Pertemuan dilakukan di Gedung Kementerian Negara BUMNB Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat dari sekitar pukul 13.00 hingga 19.30 WIB. Sofyan mengatakan, hingga kini pihaknya sebagai kuasa pemegang saham KS belum memutuskan langkah ataupun memilih investor yang akan diajak bekerja sama dengan KS. "Belum apa-apa masih baru proposal saja. Kita belum putuskan mau kerjasama, joint venture, atau berupaya mencari sumber bijih besi. Itu belum diputuskan karena yang dibicarakan masih sangat umum," katanya.

Pihaknya juga meminta kepada investor dalam hal ini BlueScope untuk mendiskusikan dahulu dengan manajemen KS. Investor baja lain yang telah menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan KS adalah Tata Steel Ltd.

Namun, hingga kini Sofyan belum mendapatkan surat atau proposal resmi dari perusahaan tersebut. "Tata belum ada pemberitahuan, mereka belum kirimkan surat kepada kita," katanya. Sofyan menekankan, pihaknya membuka diri kepada investor mana saja untuk datang dan menawarkan kerjasama dengan KS sehingga dengan begitu akan lebih banyak opsi yang bisa dipilih.

Sumber : Republika

 Dilihat : 3496 kali