09 Mei 2008
Arcelor Mittal ingin akuisisi 49% saham KS

JAKARTA ArcelorMittal, perusahaan baja terbesar di dunia, secara resmi menyampaikan minatnya membeli 49% saham BUMN penghasil baja PT Krakatau Steel (KS). Untuk memuluskan rencana itu, ArcelorMittal akan melobi seluruh stakeholder termasuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Executive Vice President Finance and MA ArcelorMittal Sudhir Maheshwari mengatakan siap mempresentasikan proposal rencana kemitraan yang saling menguntungkan dengan KS.

"Kami mendapat tawaran di bawah 50% dan akan mengambil maksimum 49% melalui strategic partner. Kami berharap ada 4 solusi yang menguntungkan," katanya dalam jumpa pers kemarin.

Sudhir menolak istilah lobi sebagai upaya pendekatan kepada pemerintah, parlemen, dan pemangku kepentingan lainnya karena hal tersebut dinilai berkonotasi negatif. "Kami dengan senang hati akan menjelaskan rencana korporasi. Dalam operasi perusahaan global untuk langkah akuisisi itu hal yang alami," ujarnya.

ArcelorMittal cukup percaya diri dapat memenangkan akuisisi KS dan bersaing dengan pesaing lainnya yakni Tata Steel dan Blue Scope karena mengklaim sangat mengenal Indonesia, memiliki pengalaman di industri baja, dan rekam jejak operasional perusahaan yang luas.

Sumber Bisnis yang mengikuti presentasi ArcelorMittal menambahkan presentasi belum terlalu jelas memfokuskan pada tiga opsi yang ditawarkan. "Tiga opsi itu tidak dijelaskan secara rinci, sehingga perlu negosiasi lebih mendalam dengan KS dan PT Aneka Tambang Tbk."

Komisaris Utama KS Taufikurahman Ruki menambahkan ArcelorMittal mengungkapkan soal tiga opsi itu, tetapi mereka lebih menjelaskan posisinya yang kini menjadi produsen baja terbesar. "Saya tidak bilang bahwa presentasi mereka tidak fokus."

Pemerintah sebagai pemegang saham yang berhak menentukan opsi untuk KS. Sesuai arahan dengan Meneg BUMN Sofyan A. Djalil, KS perlu berbicara lagi lebih mendalam dengan ArcelorMittal.

KS, katanya, menyambut baik investor yang ingin menanam US$5 miliar-US$10 miliar di Indonesia karena lahan dan sumber daya masih ada.

"Kalau mau joint venture dengan KS di Sulawesi, Medan, dan Surabaya juga oke. Namun, kalau ingin penjualan strategis terhadap KS, saya bilang ke pemerintah untuk memikirkan lagi tawaran itu."

Menurut dia, kondisi keuangan KS sedang sehat, sehingga bisa mengembangkan diri tanpa modal dari investor. KS, lanjutnya pada Mei tahun ini mencetak laba Rp411 miliar, padahal target laba tahun ini hanya Rp430 miliar.

"Kami menargetkan laba 2008 secara konservatif bisa mencapai Rp800 miliar. Saya rasa itu sudah cukup karena melihat adanya kemungkinan gejolak ke depan," tuturnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 2873 kali