09 Mei 2008
KS Tolak Jual Saham ke Mittal

Jakarta - Komisaris Utama Krakatau Steel (KS) Taufiequrrachman siap menolak kehadiran asing di pabrik baja pelat merah itu. Penolakan itu disampaikan Ruki usai mengikuti presentasi Arcelor-Mittal di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (8/5).

"Kami akan tolak berapapun penawarannya. Tapi kalau investasi, silahkan," ujar mantan Ketua KPK ini.

Untuk diketahui, hingga kini dari 4 perusahaan baja asing yang berminat untuk mengakuisisi KS, yaitu Mittal, BlueScope, Tata Steel dan Essar. Hanya Essar saja yang belum melayangkan surat secara resmi ke pemerintah.

Namun dengan kondisi KS yang saat ini sedang prima, Ruki menilai KS tidak butuh masuknya investor asing. Toh, menurutnya, tanpa harus menguasai saham KS, akan banyak investor yang bersedia mendanai invetasi KS.

Bahkan, katanya, saat Dirut KS Fawzar Bujang berkunjung ke Jerman, sudah ada tawaran pinjaman hingga 200 juta dolar AS. Sekadar, info, KS hingga Mei sudah berhasil meraup laba hingga Rp 411 miliar, dari target Rp 430 miliar. Ruki optimistis laba tahun 2008 bisa mencapai Rp 800 miliar.

Meski demikian, Ruki tetap menilai bahwa Indonesia saat ini masih membutuhkan banyak investasi untuk baja. Indonesia membutuhkan setidaknya 2 pabrik baja baru, dengan kapasitas yang sama dengan KS. BUMN baja itu selama ini hanya bisa memasok 56 persen kebutuhan nasional, dan sisanya dari impor.

"Investor yang mau investasi silakan, ada lahannya di Indonesia. Nanti saya tawarkan di Sulawesi, Makassar, Medan, dan masih banyak. Tapi biarkanlah KS berkembang sendiri, karena untuk pendanaan kita masih bisa lewat internal," urainya.

Ruki juga mengaku Menneg BUMN meminta KS berdiskusi lagi dengan Mittal. "Saya bersedia untuk berbicara dengan Mittal, apa yang bisa kita lakukan bersama, tapi bukan berapa saham yang akan kata jual," ketusnya.

Sementara Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan, Mittal cukup berminat masuk ke Indonesia karena industri baja nasional sangat strategis. Konsumsi baja nasional tercatat 30 kilo per kapita, di Asia itu 300 kilo per kapita dan negara maju 600 kilo per kapita. Berapa nilainya? "Kata mereka nilai dari proposal 5-10 miliar. Kalau memang itu ada kesepakatan, berarti mereka bisa bekerjasama dengan KS dan juga Antam," ungkapnya.

Mengenai kedatangan Mittal, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan, mereka baru sebatas memperkenalkan diri dan menawarkan proposal. Belum ada hal yang baru, jika dilihat dari kedatangan mereka sebelumnya.

"Sama aja kayak dulu. Mereka ingin membeli saham minoritas di KS. Lalu kerja sama pengembangan industri dengan KS untuk pengembangan kapitalisasi industri. Wilayahnya nanti mereka bicarakan lebih lanjut tentang KS," katanya.

"Lalu juga kerja sama dengan Antam untuk pembangunan tambang. Jadi pertemuan ini baru formal saja ke saya, dan juga ke manajemen KS dan Antam. Dan saya pikir itu perlu diskusi lebih lanjut. Nanti kita lihat apakah ada kesepakatan," imbuh Sofyan

Mittal Tetap Yakin


Sementara itu, Mittal yang mengincar 49 persen saham KS percaya akan memenangkan pinangannya karena sangat mengenal Indonesia dan pasar baja Indonesia.

"Kami ditawarkan di bawah 50 persen, mungkin kami akan mengambil angka maksimum 49 persen melalui strategic partner," ujar Executive Vice President Finance and M A ArcelorMittal Sudhir Maheshwari dalam jumpa persdi Jakarta, Kamis (8/5). Keyakinan ini, kata Sudhir, karena pemberian tersebus akan saling menguntungkan atau winwin solution.

Untuk investasi di Indonesia, jika berhasil meminang KS dana yang disediakan mencapai 5-10 miliar dolar AS. Mittal juga berkomitmen dalam jangka panjang untuk memastikan bahwa Indonesia akan memiliki industri baja berkelanjutan jika menggandeng Mittal. "Target kami untuk memastikan Indonesia memiliki industri baja yang mampu memenuhi permintaan domestik," ujarnya.

Mengenai pertemuan dengan Sofyan Djalil, Sudhir mengaku telah memaparkan secara rinci dan jelas apa saja yang akan dilakukan Mittal untuk pengembangan KS.

Ditanya mengenai penolakan Mittal dari manajemen KS dan warga Banten, Sudhir mengatakan hal itu terjadi karena kurangnya sosialisasi. "Mungkin karena mereka tidak mengenal kami makanya kami harus datang untuk menjelaskan apa yang akan kami lakukan," ujarnya.

Mittal juga mengaku siap memaparkan presentasinya kepada semua pihak yang membutuhkan termasuk ke DPR. "Ini bukan lobi karena lobi itu sering diasosiasikan negatif, kami akan terus memberikan penjelasan kepada pihak manapun termasuk parlemen," ujarnya.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 2 

 

 Dilihat : 2900 kali