01 Oktober 2007
PEMIKIRAN PENGAMAT: INDUSTRI BAJA NASIONAL TERGUSUR BAJA TIRAI BAMBU

Jakarta: Industri baja nasional terancam bangkrut.  Inilah kesimpulan wakil ketua Kadin bidang industri, teknologi dan kelautan seperti diberitakan dalam BN 7558 awal bulan ini. Wakil ketua itu menuduh pemerintah tidak mempunyai arah jelas dalam pengembangan industri nasional sehingga tidak memiliki pilihan pada jenis-jenis industri prioritas disertai pula sikap terlalu terbuka tanpa memperhatikan keadaan pasar dalam negeri. Di sisi lain data penggunaan baja dalam industri otomotif non-sedan menurun sekitar 42 persen antara tahun 2005 dan tahun 2006. Tetapi di sisi lain baja impor membanjiri pasar, terutama asal China.

Dengan memperhatikan situasi internasional ternyata baja China juga membanjiri Eropa sehingga kelompok industri baja benua itu menuntut pemerintahnya mengenakan tarif antidumping terhadap impor dari negeri tirai bambu itu. Organisasi industri terkait menuduh pemerintah China memberikan subsidi pada industri bajanya. Tuduhan serupa telah dinyatakan oleh kelompok industri baja Amerika Serikat baru-baru ini. Industri baja AS meyakini bahwa pemerintah China memberi subsidi hingga sebesar USD52 miliar selama beberapa tahun terakhir. Inilah yang memungkinkan industri baja negeri itu maju pesat dengan pertumbuhan mengesankan. Tahun 1994 kapasitas industri baja China masih berada pada posisi 11 persen kapasitas dunia, tetapi sekarang telah mencapai sepertiga.

Kelompok industri baja AS menerbitkan laporan berjudul The China Syndrome, yang memberikan kritikan keras terhadap kebijakan subsidi China. Tetapi laporan itu yang dianggap sekaligus merupakan serangan terhadap para importir baja dari China menjawab dengan mengatakan bahwa impor dipicu oleh tingginya harga baja dalam negeri. Terlihat adanya pertentangan kepentingan produsen domestik dengan importir dalam negeri pula. Para produsen domestik membeberkan sederet kebijakan pemerintah China yang memberi kemudahan industri bajanya, seperti subsidi ekspor, hibah dalam berbagai bentuk, reduksi dan insentif pajak, penghapusan utang, manipulasi niiai tukar, dan sebagainya. Tuduhan pengusaha AS jauh lebih keras dari yang disampaikan oleh para pengusaha Eropa.

Diperkirakan bahwa pada tahun 2010 produksi baja China akan mengalami surplus hingga 63 juta ton di atas kebutuhan dalam negeri. Kapasitas lebih dibanding pada pasar domestik mendorong penurunan harga dalam negeri, di mana harga produk sheet steel, turun pada posisi USD300 per ton, jauh di bawah harga internasional yang berada pada tingkat sekitar USD600. Yang menjadi masalah ialah bahwa sejak akhir tahun 2005 produk baja China itu diekspor ke pasar internasional.

Industri Baja Internasional Mengalami Kapasitas Lebih

Perkiraan kelompok SMA (Steel Manufacturing Association) Amerika Serikat menunjukkan tingkat penggunaan sekitar 75 persen antara tahun 2006 hingga tahun 2010. Angka ini masih dianggap baik, dan dengan demikian tidak menimbulkan masalah. Situasinya menjadi lain jika tingkat penggunaan kapasitas industri baja Indonesia berada pada tingkat 35 persen, dan malah dapat lebih rendah pada posisi 20-25 persen. Demikianlah bahwa penggunaan kapasitas terpasang industri baja pada masa menjelang krisis pun telah cukup rendah, tidak terlalu jauh dari angka 35 persen tadi. Berarti ada semacam dosa asal pembangunan industri ini, yang dapat ditelusuri pada kebijakan tidak tepat sebelum krisis dengan kredit mudah.

Lalu bagaimana dengan tuduhan para industriawan Indonesia yang menyatakan bahwa pemerintah tidak mempunyai arah kebijakan tepat, tanpa prioritas pengembangan, yang disertai pula ada liberalisasi impor disertai masuknya investasi tanpa perhatian pada situasi pasar dalam negeri? Dengan mengacu pada apa yang terjadi di Eropa dan AS, orang dapat mengedepankan argumen yang sama, bahwa pemerintah perlu mencermati kebijakan industri pada umumnya dan industri baja khususnya di dalam negara mitra dagangnya, Jika deretan tuduhan para pengusaha industri baja AS tadi betul, pemerintah Indonesia perlu mengambil sikap analog dengan negara industri tersebut. Memang ada sejenis lingkungan negatif dalam hubungan dagang Indonesia dengan China, sejak masalah permen dengan kandungan formalin, lalu dibalas dengan ekspor produk laut. Berarti perlu adanya pendekatan yang sangat jitu dan tepat, sehingga situasi perang dagang terhindar.

Tetapi di sisi lain, para industrialis baja nasional perlu melakukan introspeksi terhadap fakta kapasitas lebih yang ada sebelum krisis, yang menandakan telah terjadinya kesalahan strategi bisnis disertai pembangunan kapasitas yang tidak tepat. Jika mengacu pada perdebatan antara importir AS dengan produsen domestiknya, terdapat sejenis tarik ulur, sebab para importir mengemukakan tingginya harga baja dalam negeri. Hal senada ternyata ditemui juga di Eropa, yang mengatakan bahwa para pengguna baja China impor melihat harga yang rendah sebagai pemicu penggunaan baja asal Asia itu. Produk baja adalah produk antara, yang akan menjadi masukan pada industri berikutnya. Jika harga bahan baku tinggi, produk akhir dari baja akan juga tinggi, sumber kekalahan persaingan di pasar global berdasarkan harga. Inilah yang perlu diperhatikan oleh kalangan terkait.

Sehubungan dengan masalah ini, setiap kebijakan impor perlu melihat posisinya dalam mata rantai sistem produksi nasional. Bahan baku impor yang menjadi masukan bagi industri berikutnya seyogianya melakukan kajian Mistik dan bukan yang bersifat parsial. Bersamaan dengan itu, kewajiban pemerintah ialah melihat ada tidaknya berbagai kebijakan tidak fair dalam industri mitra dagang, dalam hal ini China. Indonesia perlu mengadakan tukar menukar informasi dengan Eropa dan AS tentang ketepatan tuduhan itu, sehingga dapat menjadi landasan tepat bagi penyusunan kebijakan bagi penyelesaian masalah saat ini dan juga dalam penyusunan kebijakan masa mendatang.

(Sumber: Business News - 01 Oktober 2007)

 Dilihat : 3578 kali