09 Mei 2008
PT KS Tidak Perlu Dijual - Arcelor-Mittal dan BlueScope Mulai Jajaki Peluang Kerja Sama

JAKARTA, KOMPAS - PT Krakatau Steel atau KS hingga Mei membukukan keuntungan hingga Rp 411 miliar, dari target awal Rp 430 miliar. Dengan keuntungan itu, opsi penjualan aset untiik memperkuat modal KS harusnya ditinjau ulang. Kementerian Negara BUMN dan KS mengadakan pertemuan dengan Arcelor-Mittal dan BlueScope Steel di Jakarta, Kamis (8/5).

Pertemuan dilakukan terkait dengan rencana privatisasi KS. Komisaris Utama PT Krakatau Steel Taufiequrrahman Ruki mengemukakan, besarnya keuntungan hingga Mei membuat target keuntungan dinaikkan dari Rp 430 miliar menjadi Rp 800 miliar tahun ini.

Dengan kinerja keuangan yang baik, pihaknya optimistis dapat memperoleh pendanaan untuk penguatan modal tanpa perlu menjual aset KS memiliki rencana strategis sampai tahun 2011 berupa peningkatan jumlah produksi dari 2,5 juta ton menjadi 5 juta ton per tahun.

"Saya meminta pemerintah untuk memikirkan lagi privatisasi KS. Biarkan KS yang sedang sehat ini mengembangkan diri, tanpa menggunakan investor," katanya. Menurut Ruki, peluang industri baja di Indonesia masih tinggi. Lahan tambang tersedia luas, di antaranya di Sulawesi, Surabaya, dan Makassar. KS hanya mampu memenuhi 56 persen dari kebutuhan baja nasional sebesar 12 juta ton per tahun.

Pabrik baru


Menurut Ruki, kebutuhan baja dalam negeri tidak mampu tercukupi hanya dengan satu pabrik. Karena itu, investor bisa menanamkan sahamnya bagi Pengembangan pabrik-pabrik baru, tanpa perlu membeli saham KS. "Kami justru senang jika mendapat kompetitor," katanya.

Menteri Negara BUMN Sofyan A Djalil mengemukakan, pembicaraan antara KS dan calon-calon investor masih perlu dilanjutkan. Yang terpenting, kehadiran mereka menciptakan industri baja di Indonesia.

"Dari hasil diskusi, kita akan lihat apakah dicapai kesepakatan atau tidak. Belum ada persentase pembelian yang ditetapkan. Pokoknya, pemerintah netral saja, biar mereka (KS dan calon investor) bicara lebih teknis," kata Sofyan.

Terkait rencana Mittal untuk membeli saham KS hingga 49 persen. Sofyan mengatakan, pihaknya tidak yakin dengan persentase pembelian saham yang ditawarkan Mittal.

Secara terpisah. Wakil Presiden Eksekutif Finance dan MA Arcelor-Mittal Sudhir Maheshwari mengatakan, "Prinsipnya, Arcelor-Mittal menawarkan tiga opsi kerja sama. Keputusannya tergantung pemerintah."

Ketiga opsi yang dimaksud adalah menjadi investor strategis di KS, Kedua, Arcelor-Mittal bekerja sama dengan KS mendirikan perusahaan patungan untuk pengembangan kompleks baja greenfield di Cilegon. Ketiga, bekerja sama dengan Aneka Tambang mendirikan perusahaan pa-tungan untuk mengembangkan pertambangan batu bara, bijih besi, nikel, dan mangan di Indonesia. Total investasi yang ditawarkan 5 miliar-10 miliar dollar.

Sementara itu BlueScope Steel Ltd menjajaki privatisasi KS dengan menemui Menneg BUMN dan Menteri Perindustrian secara terpisah. Namun, nilai investasi yang ditawarkan belum dinyatakan secara lisan.

Presdir BlueScope Steel Malaysia-Indonesia Rob Crawford yang didampingi Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer mengatakan, "Kami akan menghormati proses privatisasi yang dilakukan pemerintah. Ini baru pertemuan awal."

Menperin Fahmi Idris mengatakan, siapa pun investor yang masuk mitra strategis KS haruslah membawa teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan menekan struktur biaya produksi, serta memiliki jaringan pemasaran global. "Pemerintah menghendaki terbukanya lapangan kerja lebih besar," tegasnya.

Sumber : Kompas, Page : 17

 

 Dilihat : 4432 kali