09 Mei 2008
Proposal ArcelorMittal Tak Berfokus" - ArcelorMittal ngotot inginmenguasai 49 persensaham Krakatau.

JAKARTA - Kementerian BUMN menilai presentasi proposal ArcelorMittal tidak berfokus terkait dengan rencananya menguasai saham Krakatau Steel. Selama hampir satu jam, Mittal justru hanya mempresentasikan perusahaannya. "Sedangkan keinginannya terhadap PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) hanya disampaikan sedikit pada akhir presentasi," ujar sumber Tempo di pemerintahan, yang terlibat langsung dalam pertemuan antara Kementerian Negara BUMN dgn Mittal, kemarin.

Menurut sumber itu, perwakilan Mittal yang mempresentasikan proposalnya lebih banyak berbicara normatif ketimbaing bicara teknis. "Jadi pembahasan tadi kesannya mengambang dan tidak jelas," ucapnya.

Saat ini sudah ada empat peminat Krakatau Steel ArcelorMittal, Bluescope Steel Limited International, Essar Steel Limited, dan "Tata Steel Limited. ArcelorMittal adalah pihak yang pertama kali menyatakan minatnya mengakuisisi Krakatau dan bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 April 2008. Pemerintah membatasi penjualan saham ke mitra strategis tak lebih dari 50 persen.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan kedatangan Mittal hanya merupakan perkenalan. Mereka hanya membacakan proposal seperti yang dulu dilakukan saat bertemu dengan Presiden," katanya setelah pertemuan itu.

Sofyan mengatakan pertemuan ini merupakan tahapan formal antara Mittal, Krakatau Steel, dan Antam. "Nanti akan ada pertemuan lanjutan," ujarnya.Adanya permintaan pertemuan lanjutan tersebut dibenarkan oleh Komisaris Utama Krakatau Steel

"Taufikiufiequrachman Ruki. Dia mengatakan Menteri Negara BUMN meminta manajemen Krakatau Steel dan Antam melakukan pembahasan lanjutan yang lebih detail dan teknis dengan Mittal. "Jadi pembahasannya nanti business to business," kata Ruki.

Ruki melanjutkan, waktu pembahasan lanjutan dengan Mittal tersebut harus dibahas dulu oleh manajemen Krakatau Steel. "Jadi kami belum tahu kapan waktunya yang tepat," tuturnya.

Menanggapi kedatangan Mittal, Ruki menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Tapi, menurut dia, manajemen Krakatau Steel tetap berkeras menolak rencana strategic sale (penjualan kepada mitra strategis). "Mereka bilang, untuk mencapai kapasitas produksi yang diinginkan pemerintah, cukup dengan IPO (pelepasan saham ke publik) saja," katanya.

Alasannya, kata Ruki, karena saat ini kinerja Krakatau Steel sedang moncer, dengan indikasi mampu mengantongi laba sekitar Rp 411 miliar hingga bulan ini. "Padahal target kami tahun ini Rp 430 miliar."

Adapun Direktur Utama Aneka Tambang Dedi Aditya Sumanagara menilai tawaran Mittal kurang sesuai dengan bisnis inti Antam. "Soalnya, Mittal memproduksi carbon steel, sedangkan kami stainless steel," katanya.

Executive Vice President ArcelorMittal Sudhir Maheshwari menyatakan pihaknya akan mengakuisisi saham Krakatau Steel sebanyak 49 persen. "lebih dari 49 persen," ujarnya. Dia menolak memberitahukan hasil pertemuan negosiasi di Kementerian BUMN kemarin. Pertemuan berlangsung positif dan konstruktif, kami tak bisa memberi tahu secara detail kanena ini rahasia."

Dia menegaskan, Mittal berpeluang besar menjadi pemenang dalam proses akuisisi Krakatau Steel. Menurut Sudhir, pihaknya akan melobi DPR untuk menjelaskan rencana akuisisi tersebut. "Kami siap memberikan penjelasan agar Dewan bisa memahami rencana kami," katanya. Mittal, kata dia, tak tertarik dengan tawaran IPO. "Kami tidak mempertimbangkannya."

Sementara itu, Presiden Direktur Bluescope untuk Indonesia Malaysia Rob Crawford menyatakan keseriusannya mengakuisisi Krakatau Steel. "Kami sangat meminati privatisasi Krakatau. Kami menghormati proses yang ditetapkan pemerintah," katanya setelah bertemu dengan Fahmi Idris kemarin. Perwakilan Bluescope ditemani Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.

Fahmi mengatakan Bluescope menjanjikan memberi teknologi dalam pengembangan Krakatau. "Mereka juga menyanggupi penambahan tenaga kerja," katanya.

Dia menjelaskan, proses negosiasi pemerintah dengan penawar mitra strategis dilakukan sejak kemarin. Menurut dia, proses perundingan diserahkan ke Kementerian BUMN.

Sumber : Koran Tempo, Page : B2 

 Dilihat : 3631 kali