29 September 2007
Skema BM Baja Perlu Dievaluasi

JAKARTA: Skema bea masuk nol persen untuk bahan baku baja yang digunakan langsung oleh industri Jepang di Indonesia dalam kerangka persetujuan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang perlu dievaluasi setiap tahun.

Evaluasi dibutuhkan untuk memastikan skema itu bukan sekadar menguntungkan Jepang, tetapi juga membuahkan investasi yang diharapkan Indonesia.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian IG Putu Suryawirawan mengemukakan pandangan itu di Jakarta, Kamis (27/9) malam.

Skema yang disebut user specific duty free scheme (USDFS) itu diharapkan mendorong peningkatan kapasitas industri Jepang di Indonesia, khususnya di sektor otomotif, elektronika, dan permesinan.

Menurut Suryawirawan, impor baja dari Jepang untuk bahan baku sektor industri itu berkarakter khusus, beragam jenisnya, dan secara kuantitas tidak besar. Oleh karena itu, produksinya di dalam negeri dianggap belum memenuhi skala keekonomian sehingga tidak berkembang.

"Penggunaan bahan baku baja jenis-jenis khusus itu akan meningkat jika kapasitas produksi industri otomotif, elektronika, dan permesinan di Indonesia meningkat. Peningkatan penggunaan itu akan membuat pengembang produk baja itu memenuhi skala ekonomi sehingga memadai bagi investasi," ujarnya.

Dalam negosiasi persetujuan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang (Economic Partnership Agreement/EPA), instrumen USDFS diberikan dengan tujuan menggaet investasi Jepang ke Indonesia.  Investasi itu bukan saja diarahkan untuk meningkatkan kapasitas industri yang sudah ada, tetapi juga untuk memproduksi komponen dan bahan baku industrinya di Indonesia.

"Kita tidak bisa mendorong investasi jika skala ekonominya belum terbentuk. Skala ekonomi ini bukan saja untuk pasar domestik, tetapi juga jaringan produksi Jepang secara regional," ujarnya.

Evaluasi tahunan atas skema USDFS dipandang perlu untuk mengukur sejauh mana skema itu berdampak pada peningkatan produksi sekaligus mengukur skala ekonomi yang terbentuk. "Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita menagih komitmen Jepang," katanya.

(Sumber: Kompas - 29 September 2007)

 Dilihat : 3567 kali