09 Mei 2008
Krakatau Steel Tetap Geleng Kepala

ARCELLOR Mittal dan BlueScope International, menawarkan investasi sebanyak 5-10 miliar dolar pada PT Krakatau Steel (KS) untuk semua sektor.

Sekian lama ditunggu, akhirnya dua perusahaan raksasa baja dunia Arcellor Mittal dan BlueScope International mempresentasikan proposal program privatisasi PT KS di Kantor Kementerian Negara BUMN. Jakarta, kemarin.

Di dalam proposal itu, seperti dijelaskan Menneg BUMN Sofyan Djalil, mereka menawarkan investasi sebanyak 5-10 millar dolar. Angka itu tidak hanya untuk KS melainkan untuk semua sektor. Dalam presentasinya, Mittal menawarkan tiga proposal kerjasama.

Pertama, Mittal ingin menjadi investor strategis di PT KS. Kedua, melakukan kerjasama dengan PT KS dalam bentuk joint venture atau perusahaan patungan untuk pengembangan kompleks baja green field di Cilegon, Serang, Banten. Ketiga, kerjasama dengan PT Antam untuk mendirikan perusahaan patungan pengembangan batubara, biji besi dan nikel di Indonesia

Soal besarnya saham yang akan ditawarkan. Sofyan belum bisa memastikan berapa besarnya. "Itu tergantung kesepakatan PT KS dengan mereka. Kita lihat saja nanti apa hasilnya," kata Sofyan usai mendengar presentasi.

Menurutnya, keinginan perusahaan asing untuk berinvestasi di Indonesia patut dihargai. Selain membantu pertumbuhan bisnis baja di Indonesia, juga dapat meningkatkan kinerja perusahaan

Sementara itu, menanggapi tawaran investasi senilai 5-10 miliar dolar AS. PT KS lewat Komisaris Utamanya, Taufiqurrachman Ruki tetap geleng kepala alias menolak tawaran dua perusahaan asing tersebut.

"Bagi saya, nilai investasi 5-10 miliar dolar itu tidak penting. Tapi kalau mereka ingin berkerja sama dengan KS tanpa harus berinvestasi silakan. Nanti saya tawarkan, ada di Sulawesi, Makassar, Medan, pokoknya masih banyak. KS selalu terbuka untuk siapapun," kata Ruki di kantor Kementerian Negara BUMN, Jakarta, kemarin.

Mengenai teknologi yang ditawarkan Mittal, Ruki menyebutnya bukan sebagai yang paling canggih. Menurumya berdasarkan pengalaman kunjunganya, yang bisa diacungi jempol untuk teknologi baja adalah Jerman. "Mittal itu bukan perusahaan yang terkenal dengan teknologinya, karena untuk baja hanya Jerman," ujarnya.

Dengan kondisi KS yang sedang surplus, bekas Ketua KPK ini yakin banyak investor yang bersedia mendanai. Bahkan saat Dirut PT KS Fazwar Bujang berkunjung ke Jerman, dirinya mendapat tawaran pinjaman sebesar 200 juta dolar.

"Jadi KS tidak perlu mengundang investor dari luar maupun swasta nasional. KS bisa berdiri sendiri untuk mengembangkan ekspansi bisnisnya," tukasnya.

Namun Ruki mengakui, kebutuhan baja di seluruh Indonesia tidak akan tercukupi hanya dengan produksi PT KS saja, setidaknya masih diperlukan dua pabrik baja baru yang kapasitasnya sama dengan PT KS.

Kemampuan KS saat ini hanya mencukupi 56 persen dari total kebutuhan nasional. "Jadi masih ada 44 persen yang belum tercukupi dan itu masih impor, jadi welcome investor, kalau mereka tidak punya karyawan lokal yang handal, kita punya," tukasnya.menurutnya, keuangan PT KS sangat baik sehingga akan banyak lembaga pendanaan yang teitarik untuk membiayai revitalisasi KS. Dia menyebut, target keuntungan 2008 sebesar Rp 430 miliar, hingga bulan Mei saja sudah tercapai Rp 411 miliar. Oleh sebab itu pihaknya menaikkan target keuntungan tahun ini menjadi Rp 800 miliar. "Nggak usah asinglah. Pemda Banten, DKI saja mau kok, tapi sebaiknya IPO saja," jelasnya.

Terkait penolakan Departemen Pertahanan (Dephan) terhadap privatisasi PT KS karena selama ini menyuplai bahan baku industri pertahanan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista). Ruki mengatakan, pihaknya cukup mengapresiasi sikap tersebut.

"Sebagai mitra bisnis, KS menghargai sikap Dephan. KS akan selalu berdiri sendiri tanpa harus mengundang pihak asing," tandasnya. PIK

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20 

 

 Dilihat : 4055 kali