09 Mei 2008
Tiga Investor Resmi Minati KS - Mittal akan berpikir ulang bila privatisasi KS lewat IPO

JAKARTA - Menteri Perindustrian Fahmi Idris berharap investor baja internasional bisa terlibat dalam pengembangan teknologi di perusahaan baja nasional melalui proses privatisasi di PT Krakatau Steel (Persero). Investor juga dihimbau tetap mempertahankan keberadaan tenaga kerja yang sudah ada, lebih baik lagi bisa menambah jumlah lapangan kerja baru pasca privatisasi.

"Sudah tiga investor minati KS. Mittal, Bluescope, dan Tata Steel. Kedua investor awal sudah bertemu dengan pemerintah, dan menjanjikan akan mempertahakan tenaga kerja yang ada. Tata sebentar lagi akan menemui pemerintah," ujar Menperin Fahmi, di Jakarta, Kamis (8/4) usai bertemu direksi Bluescope Steel Malaysia-Indonesia.

Memperin Fahmi menambahkan, bagi pemerintah, privatisasi tidak hanya meningkatkan produktivitas baja nasional, namun juga menambah jumlah angkatan kerja. Pemerintah memasukkan dua poin tersebut sebagai syarat itu kepada investor Arcelor Mittal maupun Bluescope Steel.

Dari Bluescope Steel diwakili Presiden Direktur Bluescope Steel Malaysia-Indonesia, Rob Crawford, Chief Financial Officer, Charlie Ellias, VP Commercial and Corporate Finance Bluescope, Adrian Chng. Ikut hadir Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer. Selain Menperin Fahmi, dari pemerintah hadir staf khusus bidang pertambangan Menneg BUMN Alex Rush dan Irnanda Laksanawan, asisten deputi urusan industri strategis.

Usai pertemuan, Rob tidak memberikan banyak penjelasan. Dia hanya mengatakan ketertarikannya ikut masuk dalam proses privatisasi di KS. "Kami sangat meminati privatisasi di KS ini. Kami menghormati proses yang dilakukan pemerintah RI. Tidak ada yang bisa dikatakan lebih lanjut, karena ini baru pertemuan awal," ujar Rob.

Namun, Rob menambahkan, usai bertemu dengan Memperin kemarin, pihaknya akan menemui pihak-pihak terkait, termasuk jajaran kabinet lain. "Setelah itu, kami akan membicarakan investasi di sini (Indonesia)," tambahnya. Bluescope menginginkan privatisasi berupa mitra strategis di KS.

Sedangkan Direktur Eksekutif Bidang Keuangan Merger dan Akuisisi ArcelorMittal, Sudhir Maheswari menyatakan, pihaknya masih pikir-pikir untuk masuk menjadi investor Krakatau Steel jika opsi yang dipilih pemerintah adalah penawaran umum saham perdana (inititial public offering/lPO).

Namun jika masuk sebagai mitra strategis di perusahaan baja BUMN itu, Mittal menyatakan masih berniat menjadi pemegang saham meskipun kepemilikannya di bawah 49 persen. "Tapi kami mengharapkan persentase kepemilikan saham yang diakusisi tidak jauh dari angka 49 persen," kata Maheswari di kantor Menneg BUMN.

Produsen baja terbesar di dunia itu juga menyatakan bersedia tidak menjadi pemegang saham mayoritas dalam rencana join venture dengan Krakatau Steel (KS). Pada presentasinya hari ini di Kementrian BUMN, pihak Mittal menyatakan telah terjadi pembicaraan yang konstruktif dan sehat. Namun, pihaknya belum bisa mengomentari hasil yang akan diperoleh dari presentasi tersebut.

Dalam presentasinya, Mittal menawarkan kerja sama dengan pemerintah Indonesia, yakni, menjadi investor strategis di KS. Selain itu, bekerja sama dengan KS membuat perusahaan patungan pengembangan (join venture) kompleks baja greenfield di Cilegon.

Selain itu juga join venture dengan Antam membuat perusahaan patungan mengembangkan pertambangan batubara, bijih besi, nikel, dan mangan di Indonesia. "Kami menawarkan investasi di Indonesia sebesar 5 miliar - 10 miliar dolar. Jumlah finalnya tergantung prosentase yang kami akuisisi," ujar dia.

Sumber : Republika, Page : 15 

 Dilihat : 3716 kali