01 Oktober 2007
Kenaikan Harga BBM 6 % Industri Baja Paling Terpukul

Jakarta: Rencana PT Pertamina menaikkan harga BBM industri pada bulan Oktober sebesar 5-6 persen dinilai kontraproduktif. Industri baja dalam negeri menjadi industri yang paling terpukul dengan kenaikan tersebut. Alhasil, hasil produk industri baja akan menjadi mahal dan tidak bisa bersaing dengan produk luar negeri.

"Kenaikan harga BBM Industri akan berdampak besar pada industri baja. Kenaikan sebesar 56 persen akan menurunkan margin keuntungan" jelas Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Deperin), Putu Suryawirawan di sela-sela buka puasa bersama wartawan di kantornya, akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, pada dasarnya industri pengolahan baja tidak bisa secara langsung mengalihkan penggunaan BBM ke bahan bakar lainnya, seperti gas ataupun batu bara. Dia menyarankan, jalan satu-satunya yang bisa dilakukan industri baja dalam jangka pendek ini adalah melakukan efisiensi secara besar-besaran. "Ini guna'mensiasati kenaikan biaya produksinya," ujarnya.

Dikatakan, yang mungkin bisa dipangkas antara lain adalah memotong jam kerja dan penundaan beberapa rencana perluasan usaha (ekspansi). Pasalnya, kata dia, kebutuhan industri baja dalam negeri sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan pasokan listrik. "Inilah yang akan menjadi penambahan beban produksi lagi, seandainyaPLN juga menaikkan tarif dasar listriknya mengingat pembangkit listrik yang dimiliki PLN mayoritas juga menggunakan BBM sebagai sumber energinya."

Putu Suryawirawan menghitung, sedikitnya dalam pembuatan baja setiap satu tonnya dibutuhkan listrik secara terus menerus sebesar 500-600 Kwh. Dengan kebutuhan listrik yang luar biasa itu, kata Putu, pemerintah semestinya segera dengan cepat merealiasikan program pembangkit listrik 10.000 MW.

(Sumber: Rakyat Merdeka - 01 Oktober 2007)

 Dilihat : 3039 kali