07 Mei 2008
Investor Daily Indonesia, Page : 23

JAKARTA Kementerian Negara BUMN mengisyaratkan menerima opsi tawaran raksasa industri baja asal India, Arcelor-Mittal, untuk membeli saham BUMN baja nasional, PT Krakatau Steel.

Isyarat tersebut muncul setelah kementerian itu memutuskan untuk tidak mencari dana dengan cara menjual saham melalui lantai bursa atau initial public offering (IPO).

Alasannya, saat ini ini lantai bursa dianggap tidak cukup kondusif. "Intinya yang paling penting negara kita membutuhkan industri baja yang kuat, apalagi ekonomi kita terus tumbuh. Itu berarti konsumsi baja pasti makin hari makin meningkat," kata Meneg BUMN Sofyan A. Djalil, seusai menghadiri penandatanganan kerja sama PT Garuda Indonesia dengan PT Asuransi Jasa Indonesia, kemarin.

Meneg menyatakan pihaknya akan mendengarkan lebih dahulu presentasi atas proposal yang diajukan calon investor Arcelor-Mittal. "Kami dengar dulu presentasi mereka [Arcelor-Mittal] pada 8 Mei. Keputusan final tentang masuknya calon investor untuk membeli saham Krakatau Steel masih menunggu hasil presentasi. Kita dengar dulu dari semua yang berminat," kata Sofyan.

Arcelor-Mittal, perusahaan baja terbesar di dunia dengan total kapasitas produksi 117 juta ton per tahun, kembali menegaskan keseriusannya untuk merealisasikan semua rencana aksi korporasi yang telah disampaikan kepada pemerintah.

Bahkan, perusahaan asal India tersebut tidak keberatan menjadi pemegang saham minoritas di PT Krakatau Steel (KS) ataupun di perusahaan patungan yang akan didirikan.

"Kami memiliki tiga rencana aksi korporasi dan tengah menjajaki sejauh mana kami bisa berpartisipasi di industri baja Indonesia. Kami tidak hanya menginginkan satu dari tiga, tetapi semuanya [tiga rencana investasi]," kata Lakshmi Mittal, Chief Executive Officer Arcelor-Mittal. (Bisnis, 5 Mei)

Rencana aksi korporasi pertama yang akan dilakukan Arcelor-Mittal adalah mengakuisisi saham KS maksimal 40%. Kedua, membentuk perusahaan patungan bersama KS untuk membangun pabrik baja berkapasitas 6 juta ton. Di sini Arcelor-Mittal ingin menguasai saham 60% di perusahaan patungan itu.

Ketiga, membentuk perusahaan patungan bersama KS dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk membangun pabrik baja dan membeli tambang biji besi. Di perusahaan patungan ini Arcelor-Mittal juga ingin menguasai saham mayoritas.

Secara terpisah, Sekretaris Meneg BUMN Muhammad Said Didu menegaskan berdasarkan laporan manajemen PT KS kepada Kementerian Negara BUMN, perusahaan baja nasional itu butuh dana sekitar US$400 juta untuk mengembangkan teknologi yang lebih efisien guna menekan biaya produksi.

Dana senilai Rp3,6 triliun tersebut diharapkan dapat diperoleh dari privatisasi melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) 30% saham atau menerima tawaran mitra strategis dari Arcelor-Mittal.

Saat ini, kapasitas produksi baja nasional sekitar 7,02 juta ton. Diharapkan dalam 5 tahun mendatang industri baja nasional mampu memacu kapasitas minimal 12 juta ton.(hendra.\viba\va@bisnL;.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 

 Dilihat : 4014 kali