08 Mei 2008
KS : Mittal bukan pemilik teknologi baja

JAKARTA Manajemen PT Krakatau Steel (KS)-BUMN dan pabrik baja terbesar di Indonesia-menyatakan Arcelor-Mittal bukanlah produsen baja yang memiliki teknologi yang dapat diandalkan.

Karena itu, manajemen KS secara tegas tetap akan menolak keinginan Lakshmi Mittal, Chief Excetive Officer Arcelor-Mittal untuk mengakuisisi saham KS hingga 40%.

Komisaris Utama PT KS Taufiequrrachman Ruki mengatakan Arcelor-Mittal, Essar Steel, Tata Steel, BlueScope, hanyalah operator di industri baja, bukan pemilik teknologi.

"Semua teknologi baja dimiliki oleh pihak lain yakni industri permesinan. Semua operator baja ini membeli dari mereka, termasuk KS yang berencana mendatangkan mesin baja tercanggih dari perusahaan mesin Jerman, SMS Demag," kata Ruki saat dikonfirmasi Bisnis, kemarin.

Sebuah sumber di pemerintahan membenarkan pernyataan Ruki. Mittal, lanjut sumber itu, hanyalah menguasai 30% dari teknologi yang dimilikinya, sedangkan selebihnya perusahaan baja terbesar di dunia itu membeli teknologi dari perusahaan lain.

"Kalau kita cermati, peran Lakshmi Mittal tak lebih dari seorang fund investor, bukan seorang yang berkarakter industrialis," kata sumber itu. Karena itu, lanjutnya, Lakshmi hanya mengincar saham-saham perusahaan baja besar di dunia untuk diakuisisi, tetapi selalu melupakan memajukan teknologi, lingkungan, dan kesejahteraan buruh.

"Manuver Mittal ini tidak akan lama. Arcelor yang merupakan gabungan beberapa perusahaan besar di Eropa seperti Arcelaria [Spanyol] dan Usinor [Prancis], sudah merasa gerah dan terus dirugikan atas sepak terjang Mittal, sehingga aliansi Arcelor-Mittal terancam retak Arcelor meminta melepaskan diri dari Mittal," kata sumber itu.

Ruki menambahkan saat ini ada upaya sistematis yang dilakukan oleh satu departemen teknis dengan mengintervensi proses privatisasi KS. Departemen tersebut mengundang asing untuk masuk ke KS.

Diingatkan

Anggota Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Ichsanuddin Noorsy mengingatkan untuk tidak menempuh opsi penjualan saham langsung [strategic sales) dalam privatisasi PT Krakatau Steel.

"Opsi itu [strategic sale] mengingkari janji Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla dalam kampanye pemilihan presiden/wapres," ujarnya.

Dalam kampanyenya, ujarnya, SBY/JK berjanji tidak sembarangan menjual saham BUMN kepada asing. Kalau pilihan itu terpaksa ditempuh, maka dilakukan melalui seleksi ketat.

"Jadi kalau Presiden SBY/JK lebih memilih opsi strategic sale dalam privatisasi KS, mereka telah mengingkari janji. Sebab rencana penjualan KS kepada asing sekarang ini tidak dalam kondisi terpaksa."

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3777 kali