06 Mei 2008
Kabinet Tidak Satu Suara soal Privatisasi KS

JAKARTA - Kabinet Indonesia Bersatu tidak satu suara dalam privatisasi BUMN produsen baja. PT Krakatau Steel (KS), seiring dengan membludaknya penawaran dari sejumlah raksasa baja dunia, seperti Arcelor Mittal (India). Bluescope (Australia), dan Tata Steel (India). Ke menterian Negara BUMN justru belum mendapat penawaran dari ketiga perusahaan asing itu.

Namun, Departemen Perindustrian (Depperin) sudah mendorong dilakukannya beauty contest untuk memilih investor strategis paling tepat. Tak heran. Kementerian Negara BUMN mengaku kecewa dengan langkah Depperin.

Pengamat ekonomi dari Indef Fadhil Hasan menilai, perbedaan pandangan antara instansi kementerian dalam Kabinet Indonesia Bersatu menunjukkan koordinasi yang lemah. Perbedaan kepentingan dalam kabinet mestinya bisa diredam dengan kompromi bersama agar tidak menjadi friksi yang merugikan semua pihak.

"Ini kan aneh. Menteri Perindustrian Fahmi Idris yang biasanya nasionalis dan proteksionis justru privatisasi. Sedangkan Menneg BUMN malah terkesan hati-hati," paparnya saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, Senin (5/5).

Tak heran. Fadhil menjelaskan, ada kesan melangkahi wewenang (overlapping) dalam proses privatisasi KS. Padahal, perbedaan kepentingan itu terjadi karena belum adanya strategi yang jelas untuk mengembangkan industri strategis nasional "Strategi itu belum ada sehingga setiap kementerian memiliki pandangan sendiri-sendiri." ucapnya.

Jika perbedaan pandangan itu terus terjadi, lanjut dia. itu akan membahayakan proses pengembangan KS. Keputusan yang diambil justru akan berdasarkan kepentingan jangka pendek. "Pemerintah perlu berkonsolidasi tentang pengembangan KS ke depan, bukan justru berkelahi soal opsi dalam privatisasi," tuturnya.

Secara terpisah. Menneg BUMN Sofyan Djalil menyatakan, pihaknya akan fleksibel dalam memilih opsi privatisasi KS. Kementerian Negara BUMN juga mengundang penawaran dari perusahaan-perusahaan baja lainnya yang ingin berpartisipasi dalam privatisasi KS. "Kalau tidak salah. Mittal mau datang pekan ini untuk presentasi. Kalau perusahaan yang lain juga berminat dan ajukan proposal, akan kami undang." paparnya.

Menneg BUMN mengaku apresiatif terhadap inisiatif instansi mana pun yang ingin mendorong privatisasi KS sehingga transparan kepada publik. "Karena itu, manajemen KS perlu mendengar dulu proposal dari perusahaan asing tersebut. Jika mendengar kan tahu plus minusnya." tuturnya.

Komite Privatisasi telah menyepakati privatisasi KS melalui dua opsi yakni strategic sale atau initial public offering (IPO). Saat rencana itu digulirkan, muncul penawaran dari sejumlah raksasa baja dunia, seperti Arcelor Mittal yang siap menginvestasikan sekitar US$ 10 miliar masuk ke Indonesia. Perusahaan baja asal Australia. Bluescope, juga menjajaki langkah serupa. Tak ketinggalan raksasa baja dan India, yakni Tata Steel dan Essar.

Namun. Sekretaris Menneg BUMN Said Didu mengaku kecewa dengan langkah Depperin mempublikasikan penawaran sejumlah perusahaan baja dunia terhadap KS. "Padahal. Kementerian Negara BUMN tidak mengetahui adanya penawaran dari berbagai raksasa baja dunia itu." tuturnya.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 27 

 Dilihat : 2904 kali