01 Oktober 2007
KS Tunda Pembangunan Mega Proyek Baja US$450 Juta

JAKARTA: PT Krakatau Steel (KS), produsen baja nasional terbesar, dipastikan menunda pembangunan megaproyek baja berkapasitas 1 juta ton senilai US$450 juta di Kalsel hingga 2010.

Hal tersebut diputuskan menyusul masalah keuangan dan belum siapnya perseroan menjalin aliansi strategis dengan produsen baja global.

Padahal di saat yang sama, pemerintah terus-menerus menegaskan agar manajemen KS bisa menyelesaikan pembangunan dua pabrik baja di Kalsel, yakni skala 300.000 ton (menengah) dan 1 juta ton (besar) secara paralel mulai tahun ini sehingga dapat mengejar target penyelesaian pada 2009.

Bahkan, Wapres Jusuf Kalla memerintahkan agar KS menjadi motor pembangunan industri baja nasional dengan memanfaatkan bahan baku lokal, menyusul rencana pemerintah memaksimalkan produksi baja menjadi 6 juta ton pada 2010 untuk memacu kinerja industri hilir baja.

Dengan ditundanya pembangunan pabrik KS berskala 1 juta ton hingga 2010, dikhawatirkan produsen baja global yang bermodal besar akan lebih dahulu membangun fasilitas produksi baja skala besarnya di Indonesia.

Beberapa perusahaan asing berskala besar tersebut a.l. Essar Steel Ltd (produsen baja asal India), China Nickel Resources, dan tiga produsen baja China lainnya, juga akan memanfaatkan sumber bijih besi di Indonesia.

Skenario Quick Win

Terhadap masalah ini, Dirut KS Daenulhay tetap menegaskan KS tetap akan berkonsentrasi menyelesaikan pembangunan pabrik baja skala menengah sebesar 300.000 ton (skenario quick win) hingga selesai. "Untuk megaproyek yang US$450 juta itu kami tunda. Kami inginnya pelan, tapi terjadwal," Kata Daenulhay, kepada Bisnis, belum lama ini.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan pasokan bahan baku bijih besi KS padahal sudah dijamin ESDM dan Pemprov Kalsel.

"Seharusnya, tidak bisa pabrik baja hulu skala besar menunggu yang kecil [skala 300.000 ton] selesai. Artinya keduanya bisa jalan dan bersinergi untuk mengejar target 2009," kata Ansari, pekan lalu.

Namun, kata Daenulhay, pembangunan awal (ground breaking) pabrik baja skala 300.000 ton baru bisa dikerjakan pada Maret 2008. Untuk itu, sangat mustahil bagi KS menyelesaikan pabrik berskala besar dalam waktu singkat.

Karena itu, hingga 2009 KS belum berencana akan beraliansi dengan perusahaan baja manapun dalam rangka menyelesaikan pembangunan megaproyek dan menyiasati biaya investasi yang cukup besar.

"Kami memiliki quantum leap 2020 untuk menjadikan kapasitas baja nasional 20 juta ton. Nah, mulai 2013 Indonesia akan memiliki industri baja 10 juta ton. Salah satunya milik KS yang 1 juta ton ini akan selesai pada 2013, yang tadi saya bilang akan ditunda dulu. Sementara itu, aliansi bisa kami lakukan sambil jalan," ungkap dia.

(Sumber: Bisnis Indonesia - 01 Oktober 2007)

 Dilihat : 3001 kali