29 April 2008
KS-Antam Bangun Pabrik di Kalsel

PT KRAKATAU Steel (KS) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan membangun pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Di perusahaan patungan bernama PT Meratus Jaya Iron Steel itu, Krakatau Steel memiliki 66 persen saham dan sisanya, 34 persen, dimiliki Antam.

Rencananya, pabrik tersebut berkapasitas 315.000 ton per tahun dengan nilai investasi US$60 Juta. Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang mengatakan, dari total kebutuhan investasi, 35 persen akan diperoleh dari dana internal dua BUMN itu, sedangkan selebihnya dari pinjaman perbankan dalam negeri.

Baik Krakatau Steel maupun Antam kini tengah membentuk tim pendirian perusahaan patungan PT Meratus yang diharapkan mulai bisa membangun pabrik pada November 2008. Pabrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2010.

"PT Meratus nantinya menyuplai kebutuhan bahan baku bijih besi Krakatau Steel. Selama ini, kami mengimpor dua juta ton per tahun. Jadi, kalau sudah beroperasi, impornya bisa berkurang 315.000 ton," ujarnya saat penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Antam di Jakarta, Selasa (22/4).

Fazwar menyatakan, setelah kerja sama dengan Antam ini lancar, ke depan berencana mengembangkan proyek di Baru Licin Kalsel itu sebagai industri besi baja terintegrasi dari hulu ke hilir, laiknya Cilegon.

Industri di Kalsel ini akan memulai usaha dari penguasaan penambangan bijih besi, pembangunan pabrik baja (steel making) sampai ke produk bajahilir (rolling). Ditargetkan, kapasitasnya mampu mencapai satu juta ton per tahun.

"Studi kelayakan proyek itu (pabrik baja terintegrasi dari hulu ke hilir) akan selesai pada 2009. Pembangunan pabrik besi baja terintegrasi itu sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku," ucap Fazwar.

Krakatau Steel juga menunggu investor strategis untuk membangun pabrik besi baja terintegrasi di Kalsel tersebut yang diperkirakan membutuhkan investasi USS600 juta. Investasi sebesar itu di luar biaya pembangunan infrastruktur.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk, Dedi A Sumanagara menambahkan, pada kerja sama ini pihaknya akan memfokuskan pengerjaan di sektor hulu, yakni eksplorasi bijih besi. Di hilir, sepenuhnya diserahkan kepada PT Krakatau Steel.

Selama ini, Krakatau Steel selalu mengimpor bahan baku pembuatan baja, setelah kerja sama ini ketegantungan impor itu bisa dikurangi. "Ini sesuai arahan pemerintah agar Antam dan KS dapat bekerja sama."

Dedi mengatakan, selama ini kinerja produksi antara industri baja hulu dan baja hilir memang masih timpang. Hal ini akibat rendahnya pasokan baja hulu dibandingkan kebutuhan pasar di sektor hilir yang makin besar. Karena ini. para produsen baja di sektor hilir cenderung lebih suka mengimpor langsung baja untuk bahan baku produksi.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian (Depperin), menutupi kekurangan pasokan baja hulu, kalangan industri memutuskan mengimpor bahan baku produksi berupa, pellet sebanyak 2,5 juta ton per tahun, dan scrap (rongsokan) 1,4 juta ton. Komoditas ini didatangkan dari beberapa negara di kawasan Amerika Latin. Turyanto

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 24 

 Dilihat : 4634 kali