28 April 2008
Sanyo Jaya Components ancam tinggalkan Indonesia

JAKARTA PT Sanyo Jaya Components (SJC) Indonesia, produsen digital steel camera (DSC), berencana hengkang dari Indonesia dan memindahkan seluruh aktivitas bisnisnya ke Vietnam akibat ketiadaan industri pendukung yang memenuhi kebutuhan perusahaan dan sejumlah masalah lain yang merusak iklim usaha.

Sejak SJC memproduksi kamera digital pada 2000, industri pendukung seperti lensa kamera, internal circuit (IC) dan casing yang sesuai dengan kualitas tidak tersedia di dalam negeri, sehingga 98% bahan baku untuk proses produksi terpaksa harus diimpor dari Jepang dan China.

"Hanya 2% dari produksi SJC yang menggunakan kandungan lokal. Itu pun hanya untuk buku manual dan kotak kemasan. Kondisi ini sangat tragis," kata salah seorang sumber Bisnis di pemerintahan, kemarin.

Padahal, paparnya, perusahaan itu mengendalikan pangsa pasar kamera digital sekitar 7% dari total konsumsi dunia yang mencapai 60 juta unit per tahun, karena selain memproduksi DSC dengan merek Sanyo, perseroan juga memproduksi untuk merek lainnya sesuai dengan order dari para OEM (original equipment manufacture).

Dirjen Industri Alat lyansportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budhi pharmadi tidak merespons pesan singkat Bisnis ketika ditanyakan perihal rencana relokasi pabrik Sanyo Jaya Components.

Pemilihan Vietnam sebagai basis produksi baru, lanjut sumber itu, karena regulasi ketenagakerjaan yang mengatur upah, pesangon dan kesejahteraaan buruh dinilai jelas. "Upah buruh lebih kompetitif atau hanya 50% dari UMR Indonesia atau sekitar US$46 per bulan," ungkapnya.

Pada tahun lalu, volume ekspor perusahaan yang berbasis di Cimanggis, Depok, ke pasar Uni Eropa (UE), Asia, Afrika dan Oceania mencapai 4.780.125 unit dengan nilai ekspor US$507,6 juta.

Gagal terpenuhi

Akibat permasalahan tadi, target produksi pada 2008 sebesar 11,1 juta unit per tahun atau 925.000 unit per bulan, dengan 20 model kamera baru terancam gagal terpenuhi.

Selain masalah yang menimpa SJC, PT Sanyo Indonesia sebagai induk perusahaan juga terkendala tingginya bea masuk bahan baku kulkas dan frezer berupa precoated metal (PCM) ber nomor HS 7212.40.190. Perseroan terpaksa mengimpor PCM dari Korsel karena kualitas PCM dari PT Krakatau Steel dinilai tidak dapat memenuhi standar industri elektronik.

"Permasalahan yang dihadapi Sanyo Indonesia dan industri elektronik nasional adalah kenaikan bea masuk PCM dari 5% menjadi 12,5%. Ini sangat memberatkan industri elektronik nasional karena akan meningkatkan biaya produksi dan harga jual," ungkap sumber itu.

Sebelum 2000, pemerintah memberikan fasilitas pembebasan BM komponen. Namun pada 2000, Menteri Keuangan mencabut fasilitas BM dan menggantinya dengan fasilitas keringanan BM berdasarkan SK Menkeu No. 98/KMK.05/ 2000 tertanggal 31 Maret 2000.

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Departemen Perdagangan Hanojo Agus Tjahjono menjelaskan permohonan, keringanan fasilitas BM atas PCM oleh Sanyo Indonesia ditolak Dirjen lATT pada 2007 melalui surat No. 37/IATT.5/1/2008 tertanggal 24 Januari 2008, dengan alasan benentangan dengan UU No. 17/2006 tentang Kepabeanan. (yvsuf.waluyo@bisnis.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 

 Dilihat : 3683 kali