28 September 2007
BUMN Strategis Bisa Dilikuidasi

JAKARTA-Kementerian Negara BUMN menilai likuidasi di pengurangan (right sizing) terhadap 10 BUMN strategis bisa saja dilakukan jika perusahaan-perusahaan itu berkinerja buruk dan tidak prospektif lagi.

BUMN strategis yang berkinerja buruk, pengelolaannya akan disamakan dengan BUMN lain. Sepuluh BUMN strategis itu adalah PT Krakatau Steel, PT Dirgantara Indonesia, PT Inti, PT Inka, PT LEN, PT Dahana, PT Pindad, PT Barata, PT Boma Bisma Industri, dan PT PAL.

Deputi Kementerian Negara BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Telekomunikasi (Piset) Roes Aryawijaya menjelaskan, pengelolaan BUMN strategis tidak dikecualikan dengan pengelolaan BUMN lainnya.

"Kalau nanti ada di antara 10 BUMN tersebut tidak bisa survive dan secara terusmenerus merugi tentu kita akan mengambil keputusan melikuidasinya. Terutama, kalau utangnya lebih besar dibanding ekuitasnya," ujar Roes kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Meski demikian, kata Roes, pemerintah akan terus mempertahankan BUMN strategis yang menghasilkan alat utama sistem pertahanan (alutsista). BUMN penyedia alutsista adalah PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan PT Dahana.

"BUMN ini akan tetap dipertahankan karena produksinya sangat dibutuhkan guna menyuplai kebutuhan pertahanan negara," ujarnya.

Boma Dilikuidasi

Roes menjelaskan, pemerintah berencana melikuidasi PT Boma Bisma Industri akibat merugi dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan itu juga memiliki total utang melebihi total ekuitas.

Pada 2005, delapan BUMN strategis berhasil meraup laba dan dua BUMN lainnya merugi. PT Boma Bisma Indra yang bergerak dalam bidang industri koversi energi dan agro pada 2005 merugi Rp 20,9 miliar, sedangkan PT Inka yang merupakan produsen gerbong kereta api merugi Rp 22,3 miliar.

Sekretaris Kementerian Negara BUMN M Said Didu mengatakan, BUMN strategis masih tetap ada, tetapi pengelolaannya tidak dikecualikan.

"Pergeseran strategis atau tidaknya BUMN yang masuk dalam ketegori strategis ini sudah berubah. Kecuali, BUMN produsen alat pertahanan negara," ujarnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia - 28 September 2007)

 Dilihat : 3256 kali