26 April 2008
Potensi Bisnis Properti Nasional Belum Tergarap Secara Maksimal

Potensi bisnis properti di Indonesia sebenarnya sangat besar. Jika dikelola secara baik, bisnis berbasis tanah dan bangunan itu bisa men-drive perekonomian sekitar Rp 500 triliun lebih per tahun. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya, aset di dalam negeri yang mendukung bisnis tersebut dijual, sementara orang Indonesia ramai-ramai membeli properti di luar negeri yang harganya sepuluh kali lipat.

MENURUT Presiden Direktur PT Penilai Arta Sedaya, Panangian Simanungkalit, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 225 juta jiwa, kebutuhan akan ramah pertahun mencapai 1,2 juta unit. Angka tersebut didapat dari perkiraan 4 juta bayi yang lahir dibagi 4 (dengan asumsi satu rumah dihuni 4 orang), yakni sebesar 1 juta.

"Ditambah adanya kerusakan-kerusakan dan perbaikan rumah yang sudah ada, sekitar 20 persen atau sebesar 200 ribu. Jadi, paling tidak rumah yang dibutuhkan per tahun 1,2 juta unit," ujar Panangian.

Dengan harga rumah di kisaran Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar, jika dirata-rata menjadi Rp 100 juta, berarti uang yang berputar dalam pengadaan ramah per tahun mencapai Rp 1 triliun. Itu hanya sektor perumahan saja, belum termasuk ruko, perkantoran, dan mal. "Ini artinya, potensi .bisnis properti di Indonesia merupakan bisnis yang sangat besar," tandasnya.

Dengan jumlah penduduk sebesar itudan kebutuhan properti yang luas biasa, kata dia, Indonesia pada masa depan bisa menjadi pusat kawasan properti di Asia. Mengapa? "Coba bandingkan. Penduduk Singapura cuma 4 juta, dengan kebutuhan rumah hampir nggak ada karena pertumbuhan penduduknya 0 persen, bahkan teras berkurang. Sementara, Malaysia 17 juta. Thailand 64 juta, dan Vietnam sekitar 20 juta. Total jenderal, dari 350 juta penduduk Asia Tenggara, Indonesia sendiri punya 250 juta peduduk. Ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar." paparnya. Namun, menurut Panangian, yang terja-

di kemudian sungguh sangat ironis. Pemerintah justru menjual bank, padahal masyarakat membutuhkan KPR (kredit perumahan rakyat). "Aneh lagi saat Krakatau Steel juga dijual. Padahal kita kan membutuhkan baja dalam jumlah besar. Pabrik semen juga dijual, padahal kita perlu semen untuk membangun. Saya melihat, visi Indonesia lima tahun terakhir paska krisis, nggak jelas. Going no where, pergi ke sesuatu yang tidak tahu." tuturnya.

Menurut Panangian, seharusnya yang di-untuk membeli properti di negara tetangga yang harganya hampir 10 kali lipat. "Kita jual pasir ke Singapura. Setelah didirikan properti, seperti Marina, yang paling banyak beli justru orang Indonesia," tandasnya.

Menurut Panangian, ada 144 ribu orang Indonesia di Singapura yang memiliki kondominium. Dengan asumsi harga 1 unit kondominium sebesar Rp 10 miliar, berarti ada sekitar Rp 1.440 triliun uang orang Indonesia di Singapura. "Apakah itu uang yang digali melalui korupsi, pelarian uang, atau perdagangan, saya nggak mau tahu. Tapi itu sebetulnya hak orang Indonesia," katanya.

Padahal, harga kondominium di Indonesia tertinggi hanya 20 juta per meter. Di Singapura bisa mencapai 200 juta, itu pun untuk ukuran kondominium middle. "Jadi, harganya hampir 10 kali lipat. Kalau kita beli di sini 1.000 meter, , di sana cuma dapat 100 meter," ujarnya.

Tak hanya di Singapura. Menurut Panangian, hampir 20 persen pasar properti Australia, seperti di Melbourne, Sidney, dan Adelaide, juga dikuasai orang Indonesia. Jadi, tak kurang dari 200 ribu unit kondominium di Australia dengan total harga sekitar Rp 100 triliun merupakan milik orang Indonesia. "Ini luar biasa, di Indonesia temyata banyak orang kaya," celetuknya,

Anehnya, kata dia, rakyat Indonesia mayoritas justru hidup di bawah garis kemiskinan. "Berarti ada something wrong kani Ada pengelolaan uang Negara oleh pemerintah yang tidak memahami apa yang menjadi unggulan Indonesia ke depan," tuturnya.

Perumahan, lanjut Panangian, sebenarnya merupakan kekayaan yang sangat vital untuk menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia seutuhnya, seperti amanat UUD 45. Namun, pada titik ini justru Indonesia mengalami stagnasi, dan justru "melompat" ke pemenuhan kebutuhan lain, yakni kesehatan dan pendidikan.

"Inilah yang membual manusia Indonesia saat ini belum utuh, karena kebutuhan papan belum terpenuhi dengan baik. Maka itu, pembangunan rumah di Indonesia merupakan langkah awal atau pintu masuk untuk menuju ke kesejahteraan rakyat," tutupnya. SUDARTOjual oleh pemerintah Indonesia bukannya bank, pabrik baja, atau pabrik semen, tapi kondominium, seperti halnya yang dilakukan pemerintah Malaysia dan Arab Saudi. Bahkan, di Arab Saudi, yang dijual adalah hak kepemilikan unit, bukan jual tanah. Jika saja 1 persen dari jumlah 5,5 juta wisatawan yang ulang-alik ke Indonesia membeli kondominium dengan harga Rp 2 miliar ke atas, potensi uang yang berputar sebesar Rp 110 triliun.

"Kalau 5 tahun kita buka penjualan, misalnya sejak tahun 2004, tahun 2009 sudah mencapai Rp 550 triliun. Itulah potensi yang sangat besar. Apalagi, transaksinya bukan dalam bentuk uang rupiah," ujarnya.

Namun, semua gambaran menggiurkan itu hanya sebatas gambaran kosong. Sebab, kata Panangian, yang terjadi adalah, orang Indonesia mau saja dibodohi.

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 15 

 

 Dilihat : 3775 kali